Blurb
Bagi Awan, seorang arsitek idealis, membangun ‘Rumah Ungu" di sudut Kota Solo adalah monumen cinta sekaligus pertaruhan ego senimannya. Bagi Maya, seorang dosen film pragmatis, rumah itu adalah kepastian untuk menyudahi lelahnya hidup mengontrak dan ruang yang disiapkan hangat demi menyambut anak yang mereka impikan.
Namun, ketika dinding-dinding berdiri kokoh dan mawar ungu bermekaran di halaman tengah, rumah itu tidak kunjung bising. Ruang yang sedianya dipersiapkan untuk ayunan bayi justru tetap kosong, perlahan menyedot kehangatan pernikahan mereka.
Hantaman krisis finansial, intervensi mertua, hingga riwayat sakit perut Maya yang misterius lambat laun mengikis pondasi domestik keduanya. Puncaknya, sebuah malam yang retak memicu kesalahpahaman hebat. Maya memilih pergi membawa koper ke ‘Jakarta", meninggalkan Awan dalam kobaran cemburu dan amarah.
Awan tidak pernah tahu, kepergian itu bukanlah sebuah pengkhianatan, melainkan cara Maya menyembunyikan rahasia medis yang mematikan. Ketika garis waktu masa lalu menumbuk realitas masa kini, sebuah lembar laboratorium kanker stadium lanjut memaksa seluruh ego Awan luruh menjadi ketulusan murni di sisa waktu yang mereka miliki.