Rumah Ungu

Kesit H. setyadji
Chapter #1

Dinding Retak

Semenjak Maya, istrinya sering pulang larut malam, kepala Awan selalu dipenuhi kecurigaan bahwa perempuan yang telah mendampinginya selama lima belas tahun itu, selingkuh. Bagi arsitek seperti dia yang usianya sudah menginjak kepala empat, akan lebih mudah untuk menerka kekuatan beton, daripada membuktikan dugaan itu. Malam sudah berjalan hampir setengahnya, sementara dia masih terjaga menunggu kepulangan istrinya. Maya, dosen film di kampus seni Kota Solo, selalu memberi alasan bahwa kepulangannya larut malam, karena mendampingi mahasiswanya dalam kegiatan pembuatan film.

Cuit kedasih terbang rendah melewati atap rumah menambah keresahan Awan. Tangannya memutar-mutar bolpoin. Sebentar-sebentar mengangkat ponsel dan menatap layarnya. Tidak ada notifikasi jawaban dari istrinya. Pesan itu sudah dikirimkan tiga jam lalu. Terakhir kali Maya membalas pesan ketika Awan sedang makan siang. Beberapa kali panggilannya juga tidak diangkat Maya. Awan berjalan mondar-mandir di ruang kerja yang berada satu atap dengan ruang makan dan dapur. Pantatnya terasa panas untuk didudukkan, meski baru lima menit di kursi. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk menimpa Maya. Tidak ada nama teman Maya di daftar kontak ponselnya, sehingga dia kesulitan untuk mengetahui keberadaan istrinya. Awan membuka Instagram, mengecek akun istrinya yang aktif tiga puluh menit lalu, dan lekas mengirim pesan langsung kepada istrinya. Dan, tetap saja, tidak ada balasan dari istrinya, pun hanya sekadar membukanya. Beberapa jam berlalu, Awan masih belum mendapat kabar dari Maya yang usianya terpaut setahun lebih muda darinya.

Seperti adonan kental campuran semen, pasir, kerikil, dan air yang menjadi beton keras, kekhawatiran Awan pelan-pelan menjelma menjadi pikiran negatif. Beberapa nama teman dosen yang sering disebut Maya muncul di pikiran Awan. Salah satunya Andreas, dosen muda dengan perawakan tinggi, gagah, dan ditunjang dengan paras ganteng. Lelaki itu sering berdampingan dengan istri dalam beberapa kegiatan kampus. Pikiran itu ingin ditepisnya. Namun semakin malam, kelindan di pikirannya semakin kuat, setelah melihat beberapa foto unggahan di lini masa akun media sosial milik istrinya terpampang laki-laki itu selalu berdiri di samping Maya. Dadanya berdegup kencang. Kecemburuan mengambil alih kesadarannya. Pasti sedang berkencan di kafe dengan Andreas. Atau jangan-jangan sedang, pikir Awan.

Tokek yang biasanya berbunyi dari balik lemari, tengah malam ini terdiam semakin menambah kesunyian. Awan sudah tidak fokus lagi untuk menyelesaikan pekerjaan desain. Dia beranjak dari depan laptop, melangkah menuju ke ruang keluarga untuk menonton tayangan di televisi, agar carut marut pikirannya bisa hilang. Di tengah langkah, dia menoleh patung Maria di bawah pohon kemboja. Di depan patung itu terdapat kursi sebagai tempat melepas suntuknya. Tempat yang direncanakannya sebagai ruang doa, hanya digunakan sebagai tempat merenungi hidup.

Awan mengedarkan pandang ke seluruh sudut rumahnya. Rumah yang dibangun lima tahun lalu itu terasa besar untuk dihuni berdua saja dengan Maya. Dan bertambah lapang dalam kondisi seperti malam ini, ketika istrinya belum pulang. Hanya jejak langkah, suara pada papan ketik laptop, dan gonggongan anjing mengisi kekosongan setiap ruang.

Pelan-pelan, Awan menyadari bahwa keindahan rumah bukan terletak pada bentuk dan detail bangunan, kenyamanan tata ruang, kehangatan pendar cahaya lampu, keindahan taman, semilir angin yang mengalir di setiap sentimeter kubik ruangan, atau perabot yang cantik. Menurutnya, sejatinya keindahan rumah terletak bagaimana keintiman hubungan antar anggota keluarga di dalamnya yang akan memberi nyawa pada rumah itu.

Lihat selengkapnya