Rumah Ungu

Kesit H. setyadji
Chapter #2

Jendela Kaca

Ketika Maya sedang memasukkan bajunya satu per satu ke dalam koper, menjelang sore di hari minggu yang terik, genangan air mulai menutupi selaput mata Maya. Satu kaus milik Awan diselipkan di antara tumpukan. Tas ransel dan beberapa tas kecil lainnya disiapkan di ranjang. Dia mengirim pesan kepada Clara, memintanya menjemput sekitar pukul lima sore. Mulai nanti malam sampai tiga hari ke depan, dia akan meninggalkan suaminya dan rumah ungu dengan segala isinya.

Dua hari lalu, di malam yang sama, beberapa jam sebelum Maya menolak permintaan Awan untuk meladeni hasratnya, ketika perutnya sangat nyeri dan berujung kemarahan suaminya dengan meninggalkan sendiri di kamar, Maya mengajak Clara, teman dosen di Prodi Film, pergi ke Gua Maria, Mojosongo, sepulang mengajar. Tempat doa yang terletak di pinggiran Kota Solo, menjadi pelarian ketika terjadi kekalutan dalam hatinya. Di sudut seberang patung Maria, mereka duduk berjejer. Maya ingin berkeluh kesah tentang kondisi tubuhnya kepada temannya, walaupun terasa berat. Karena selama ini, dia belum pernah bercerita masalah pribadi kepada siapa saja. Pun dengan suaminya. Maya merasa mampu untuk menanggung segala beban hidupnya. Dia tidak ingin terlihat lemah di mata orang lain.

Clara mengenal Maya sebagai pribadi yang tidak pernah terlihat punya masalah. Tertawanya di ruangan dosen terdengar sampai di ruangan lainnya. Dengan Maya, Clara selalu merasa bahwa masalah hidup hanya sebagai riak-riak kecil yang dianggap sebagai suara latar dalam sebuah film. Namun, malam ini beda. Keceriaan yang selalu terpancar di wajah istri Awan meredup.

“Akhir-akhir ini keputihanku sangat banyak, Ra,” kata Maya membuka pembicaraan dengan tatapan sendu ke patung Maria. “Rasa sakit di pinggulku juga semakin terasa. Perut bagian bawah nyeri sekali, panas, dan seperti ditusuk-tusuk.” Matanya masih memandang patung itu dalam guyuran lampu kuning. “Rasa itu semakin menjadi, ketika Mas Awan sedang menindihku. Mataku sampai basah menahan sakitnya.”

Clara diam, tekun mendengarkan temannya. “Kapan mulainya, Mbak Maya?”

“Sebenarnya, aku sudah lama merasakan hal ini. Saat-saat menjelang datang bulan. Tapi segera hilang setelah selesai. Aku pikir itu hal biasa.”

“Sudah coba cek ke dokter?”

“Belum.” Patung Maria memburam dalam pandangan istri Awan.

Clara mengambil tisu dari tasnya, segera memberikan kepada Maya. Tangannya mengusap punggung telapak Maya. “Besok harus periksa,” katanya. “Aku temani, Mbak.”

Maya mengangguk pelan. Dia berpesan agar tidak memberitahu suaminya. Kemudian, dia bangkit, berpindah tempat duduk, bersila di depan patung perempuan berkerudung biru dengan kaki menginjak ular.

Clara masih setia menemani Maya. Dia berkeliling taman yang mengitari gua di mana patung itu berada. Mengedar pandang pada jajaran patung-patung kecil, diorama prosesi sengsara hingga kematian seseorang laki-laki yang dia baru mengetahui dari Maya, jika laki-laki berambut gondrong adalah anak Maria, perawan yang mengandung tanpa melalui hubungan badan. Oleh karena kisah itu, Clara melihat temannya sebagai perempuan yang selalu optimis. Menurut Maya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Titik embun berguguran membasahi pohon beringin yang menaungi patung Maria. Lampu-lampu kuning berkelip tertutup daun yang ditiup angin malam. Maya sesenggukan di depan patung itu. Bulir-bulir rosario yang dipegangnya menjadi basah. Temani aku, Bunda, ucapnya dalam hati. Air mata menetes di pangkuannya. Dia masih tidak ingin pergi dari tempat itu. Kakinya terasa berat untuk menjejak lantai rumahnya. Ketakutan kepada suaminya jika mengetahui permasalahan yang sedang menderanya menjadi penyebab utama.

Kesunyian melingkupi tempat doa itu. Tinggal segelintir orang yang masih duduk bercakap-cakap dengan nada pelan. Maya melihat arloji di tangan kirinya. Segera beranjak dari tempat duduknya dan mengajak Clara untuk pulang.

Lamunan Maya buyar ketika sesuatu naik ke pangkuannya. Bibirnya melengkung tipis memandang mata Milon. Perempuan itu melangkah ke arah suaminya yang sedang memandikan Segi di depan teras dengan Milon dalam dekapannya.

“Nanti malam, aku berangkat ke Jakarta, Mas. Mendampingi mahasiswaku,” kata Maya. “Ada kegiatan studi banding ke beberapa kampus di sana,” lanjutnya.

“Kok dadakan? Kayak tahu bulat saja,” tanya Awan kecut sembari menyabuni anjing pertamanya.

“Sebenarnya surat tugasnya sudah turun dua hari kemarin. Tapi aku ragu bisa berangkat apa nggak,” jawab istrinya seraya membelai bulu anjing kecil cokelat itu.

Tangan Awan terus menggosok bulu Segi. Firasatnya mengatakan, ada sesuatu yang dirahasiakan istrinya. Selama ini, Maya selalu mengatakan beberapa hari sebelumnya, jika ada kegiatan di luar kota. Apalagi beberapa hari yang lalu, Maya juga sering pulang larut malam. Pikirannya selalu tertuju kepada siapa yang menemani istrinya dalam perjalanan tugas kerja itu. “Andreas juga ikut?”

Lihat selengkapnya