Enam tahun yang lalu, ketika Awan dan Maya masih mengontrak rumah di sebuah gang kecil salah satu kampung padat Kota Solo, di tanggal yang sama ketika Awan mengungkapkan cinta kepada Maya, dia ingin mengajak istrinya mengenang momen itu dengan menyusuri kota dengan Vespa abu-abunya. Kendaraan yang dipakai mengantar jemput ketika masih masa pacaran.
Langit kota Solo masih saja sesekali menumpahkan air hujan, sedikit mengusir kegerahan di bulan Mei. Asap tebal mengepul dari bibir knalpot setelah kaki Awan menggenjot tuas starter. Suara bising memecah kesunyian. Sembari menunggu istrinya, dia mengelap debu-debu yang menempel di bokong bodi kendaraan tua itu.
Di kamar tidur, Maya masih sibuk membedaki pipi, mengoleskan gincu merah, menyisir rambut panjang sepantat, dan mengikatnya dengan kain tenun sebagai bandana. Terdengar beberapa kali nyaring suara klakson dari luar. Dia tidak menghiraukan, tetap asyik memilih kalung untuk menghias dada. Arloji dengan tali ungu terikat di pergelangan tangan kiri, dan dua buah gelang etnik dimasukkan ke pergelangan kanannya. Beberapa saat, dia mengamati wajahnya dengan tekun di cermin, memastikan kembali riasan sudah sempurna.
Pantat Awan sudah nangkring di jok Vespa. Telapak tangannya mengusap kaca spion, meski tadi sudah dibersihkan. Kaca itu memantulkan seluruh wajahnya, ketika mendekati benda itu. Terlihat beberapa helai uban mulai memutihkan rambut panjang sebahu yang dibiarkannya tergerai, di kumis, dan juga di jenggot. Tangannya menggerayangi lubang-lubang kecil bekas jerawat ketika masih sekolah. Penyakit puber itu pernah membuatnya minder ketika berhadapan dengan gadis incaran. Dia membuka mulutnya lebar-lebar, terlihat noda-noda nikotin menguning mewarnai gigi bagian dalam. Dia mengelus dadanya, mengingat sudah berapa ratus batang telah mengasapi kantung paru-parunya. Dahak membuat tenggorokannya gatal. Dia menarik napas panjang yang mengangkat dada, membatukkan agar lendir ke luar. Klakson sekali dipencet seraya menoleh ke pintu rumah.
“Tunggu bentar!” teriak Maya dari dalam sembari menyahut jaket ungu di gantungan pintu. “Orang kok nggak sabaran,” gerutunya dalam hati.
Awan meraba batok kepala Vespa. Mesin tua pemberian bapaknya sudah menemaninya jauh sebelum mengenal Maya. Masih terselip ingatan tentang nazarnya. Jika ada perempuan mau diajak makan malam dengan naik motor itu, maka dia akan menikahinya. Dan dia juga memiliki sebuah niatan, jika sampai umur tiga puluh tidak mendapatkan istri, maka dia akan memutuskan masuk ke seminari. Rencana mulia itu dipatahkan dengan kehadiran Maya dalam hidupnya, ketika menginjak usia dua puluh sembilan. Senyum tipis tersungging mengingat hal itu.
Maya melompat dari belakang, ketika akan duduk di jok Vespa. Gerakan itu membuat pijakan kaki Awan menjadi goyah. Suaminya terhenyak, lekas menapak kuat menahan kendaraan bermesin samping itu agar tidak ambruk. Tawa Maya pecah bersanding dengan gemerincing knalpot. Dia mengintip wajah istrinya dari kaca spion. Masih sama dengan segala pernak-pernik menempel di tubuhnya, ketika lima belas tahun lalu dia bertemu di acara pemutaran film pendek di Taman Budaya Surakarta. Hanya tubuh Maya, kini menggendut menjadi pembedanya. Tepukan tangan di bahu Awan, sebagai penanda istrinya sudah siap untuk melakukan perjalanan.
Roda kecil mulai menggelinding, melaju meninggalkan rumah kontrakan. Maya memeluk pinggang suaminya. Beberapa anak berdiri di ujung jalan kampung, mengangkat tangan dengan sikap hormat seperti pada upacara bendera, ketika mereka melewati kerumunan itu. Derai tawa kembali terdengar mulut Maya dari belakang kepala Awan, dengan beberapa kali pukulan di punggungnya. Meski sudah beberapa kali mengalami kejadian itu, istrinya masih saja menganggap kejadian itu sebagai kelucuan.
Ratusan kendaraan menyemuti jalanan. Knalpot balap meraung memekakkan telinga berjalan lambat beriringan. Di sepanjang trotoar terlihat anak-anak muda memadu kasih. Ada yang saling berpelukan dan berciuman di bawah temaram lampu kota. Namun ada juga pasangan yang sedang bertikai. Di sisi lain, gerombolan pemuda tanggung berkerumun terlihat adu jotos, mengingatkan pada masa mudanya. Awan lupa jika malam ini adalah malam Minggu, hari para pemuda menghabiskan waktu bersama kekasihnya atau komplotannya. Hiruk pikuk kota membuat kepala istrinya menjadi penat.
“Langsung saja ke Teras, Mas. Pusing kepalaku,” ujar Maya.
Setang Vespa berbelok ke sebuah gang kecil. Kanan-kiri berjajar dinding tinggi menjulang membuat jalan menyerupai lorong. Di ujung gang terdapat rumah bergaya jengki yang direnovasi menjadi kedai kopi. Kedai Kopi Teras namanya, menjadi salah satu hasil karya desain Awan sendiri. Oleh karena keterikatan itu, hampir seminggu sekali mereka menghabiskan waktu di tempat itu.
Standar kendaraan tua berderit menggores aspal, saat kaki Awan menurunkannya di depan kedai. Maya terlihat kesulitan melepas helm. Suaminya segera menarik pengunci dan melepaskan penutup kepala perempuan itu. Kedua benda itu masih bergoyang di spion, ketika Maya meraih tangan Awan dan berjalan beriringan masuk ke tempat itu.
“Awas, May!” teriak Awan.
Mereka melompati genangan sisa hujan. Maya tertawa melihat cipratan air membasahi sepatu suaminya. Sejenak suaminya menghentikan langkahnya. Tubuhnya mematung. Dia meraba pinggang celana di atas saku sebelah kanan.
“Itu! Masih menggantung. Kebiasaan!” kesal Maya.