Papan bertuliskan ‘DI JUAL’ dengan dilengkapi nomor telepon di bawahnya terpasang di pekarangan kosong. Luasnya kurang lebih 150 meter persegi. Lahan itu berbentuk kotak memanjang ke belakang. Rumah tua kecil dengan atap yang sudah ambruk, berdiri di tengah-tengahnya. Di halaman depan berdiri pohon alpukat yang bergantungan pentil-pentil di dahannya. Di belakang bangunan, rimbun rumpun batang pisang dengan buah yang sudah digerogoti codot. Sisanya hanya semak belukar memenuhi seluruh area.
Langkah Maya dan Awan berhenti di depan papan itu. Mereka saling berpandangan. Penanda itu kemarin belum ada, ketika mereka melakukan rutinitas jalan pagi yang telah dilakukan sejak setahun belakangan. Maya selalu mengajak suaminya berhenti sejenak dan mengatakan keinginannya untuk memiliki lahan itu jika dijual. Dan detik ini, jawaban itu ada di depan matanya yang berbinar memantulkan cahaya matahari. Kerepotan berpindah-pindah kontrakan dan pembayaran uang sewa setiap tahun harus dia sudahi. Akhir tahun ini masa sewa rumah akan selesai.
Suasana kampung asri di mana lahan itu berada, membuat Maya tertarik untuk tinggal di tempat itu. Hal itu mengingatkannya kepada kenangan masa kecil. Keluarganya masih tinggal seatap dengan eyang sebelum memiliki rumah sendiri. Kersen tumbuh di depan rumah, menjadi tempat bermain anak-anak sebayanya. Bersandar di dahannya dengan mulut mengunyah buah-buah kemerahan sehabis pulang sekolah. Halaman menghijau tertutup rumput Jepang menjadi alas empuk untuk berbaring menatap awan berarakan. Tali putri dengan bentuknya menyerupai mi kuning merambat di teh-tehan menjadi mainan pasaran. Dan teras luas dipenuhi tawa renyah ibu-ibu yang sedang mengasuh anak-anak di kala sore hari.
Laki-laki itu mengukur lebar muka lahan dengan langkah kakinya. “Pas lebar depannya, May. Kira-kira delapan meter,” ucapnya. “Nanti, aku hubungi nomornya.”
“Pasti harganya mahal,” balas Maya dengan terselip kekhawatiran.
“Tenang. Mamamu kan banyak uang.” Tawa keluar dari mulut Awan.
“Ngawur!”
Mereka melanjutkan langkahnya menuju rumah kontrakan. Matahari sudah bergerak meninggi. Pak RT yang sedang menyapu jalan di depan rumahnya, menghentikan Awan. Kedua lelaki itu terlibat diskusi kecil.
Suara kibasan pakaian basah terdengar dari balik pagar. Terlihat Bu RT sedang menjemur pakaian bayi di area terbuka depan rumah yang hanya selebar semeter. Perempuan itu sudah kepala empat, tetapi sebulan lalu dia masih bisa melahirkan seorang bayi perempuan melalui operasi sesar. Maya mendekati bayi yang sedang dijemur. Duduk jongkok, mengusap pipi merah yang tertidur cantik dengan sesekali menggeliat.
“Cantiknya,” kata Maya.
“Saya malu sebenarnya, Bu Maya. Sudah tua gini masih bunting,” selorohnya. “Bapaknya kekeh kepingin anak perempuan. Biar saya ada temannya, katanya.”
Maya hanya mengguratkan senyum tipis. Memandang kasihan dirinya. Matanya melirik pada tumpukan popok kering yang tidak jauh dari tempatnya. Ketika Bu RT sedang menggantungkan pakaian, dia menyahut popok itu, dan segera memasukkan ke dalam tas kecilnya.
“Wah, enak masih bisa jalan-jalan, Bu Maya. Saya sudah nggak sempat,” ujar perempuan itu sembari memeras baju basah dari ember.
“Monggo, Bu RT.” Maya segera undur diri, setelah pakaian bayi sudah tersimpan rapat. Tatapannya masih terpaku pada wajah mungil dan lambaian kain-kain putih kecil yang tergantung di tali jemuran.
“Baik, Pak RT. Nanti kita bicarakan lebih lanjut,” katanya menyudahi pembicaraan.
Mereka berjalan beriringan bergandengan tangan dengan kelindan yang bertolakan di otaknya masing-masing.
Di meja makan, Maya mengeluarkan lipatan kain kusut dari tasnya. Dan segera menunjukkan kepada suaminya yang sedang menggores tinta bolpoin di buku sketsanya. Laki-laki itu terperanjat sebentar memandang kain itu dan mengarahkan ke wajah istrinya.
“Kamu minta Bu RT?” tanya Awan.
“Nyolonglah. Syaratnya harus begitu,” jawab perempuan itu dengan tertawa kecil.
“Biar apa to?”
“Ya biar segera begini,” jawab istrinya dengan telapak tangan bergerak melengkung di perutnya, menunjukkan bentuk perut hamil.