Bagi Awan, sebagai arsitek, merancang rumah sendiri menjadi pekerjaan tersulit dibandingkan mengerjakan proyek-proyek desain hunian kliennya. Menampung impiannya, memahami keinginan Maya, dan terpenting adalah memaksimalkan anggaran pembangunan rumah.
Sore, selepas pulang mengajar, Maya melihat pembangunan rumahnya. Pasir menggunung di area depan lahan, tumpukan bata merah di tengah lahan, dan beberapa sak semen bertumpuk di bawah seng. Beberapa pekerja sedang membersihkan alat-alat dan ember. Perempuan itu berjalan pelan di samping material bangunan dengan menjinjing plastik berisi roti untuk para pekerja. Beberapa pekerja memberi salam kepadanya. Dia memandang suaminya sedang bercakap dengan kepala tukang untuk pekerjaan esok hari, seperti seorang sutradara sedang mengarahkan para pemain dan kru dalam pembuatan film. Kaki Awan beralaskan sepatu safety cokelat. Sepatu dengan warna kesukaan suaminya, dibelikannya ketika ada kegiatan di Jakarta. Suaminya sangat sembrono. Beberapa kali kakinya menginjak paku atau tergores potongan besi beton. Perempuan itu mengayun langkah ke arah suaminya, sembari memandang tumpukan bata setinggi dahinya.
Beberapa batang kayu yang tertancap paku disingkirkan Awan, agar tidak terinjak istrinya. Lekas dipegangnya tangan istrinya, mengarahkan langkah kaki.
“Awas. Lihat bawah,” ucap Awan.
“Lahannya terlihat luas, Mas.” Mata Maya mengedar pandang. “Cepat juga ya?”
“Aku biarkan pohon alpukat itu. Sayang kalau ditebang.”
“Kasih ayunan di sana.” Dia memandang lama pohon itu, membayangkan anak-anaknya bermain ayunan. “Dulu, eyang kakung juga membuat ayunan dari ban mobil menggantung di pohon mangga depan rumah.” Dia tersenyum, mengingat, pernah terlontar dari ayunan.
Mereka berada di tengah-tengah lahan. Dari tempat itu, mereka bisa melihat ke semua sisi lahan.
“Bagian depan itu untuk ruang keluarga. Nah di depan itu, nanti jadi kamar kita.”
Maya mengangguk. Matanya berbinar. Keinginannya, satu demi satu mulai terwujud.
“Itu dapur sama ruang makan?” tanya Maya dengan yakin.
“Iya. Di situ juga untuk meja kerja kita. Dekat dapur jadi enak kalau ingin buat kopi,” jawab Awan sambil menunjukkan desain di kertas yang dipegangnya.
“Bentar. Kamar anak di mana?” Tanya Maya lagi.
“Di sana. Satu atap dengan ruang keluarga. Bersebelahan dengan kamar kita,” sahut Awan.
Maya menarik tangan suaminya untuk masuk ke ruangan itu. Dia berjalan mengelilingi seraya memegang pasangan bata yang masih basah. Berhenti di lubang jendela, kepalanya melongok keluar. Memandang tumpukan pasir. Kemudian memutar badannya arah Awan yang berdiri bersandar kusen pintu.
“Kok cuma satu kamar? Nanti kalau bapak ibu menginap gimana, Mas?”
Dinding-dinding seakan merapat mendesak Awan. Dia tidak bergeming. Anggaran akan membengkak jika menambah satu kamar menyelimuti pikirannya. “Ruangan kamar ini aku buat besar, May. Nanti aku buat sekat yang bisa dibuka tutup di bagian ini.” Garis digoreskannya di tanah membagi ruangan menjadi dua. Istrinya mengangguk dengan tangan menyilang di dadanya. Ada perasaan tidak nyaman di hatinya. Sejak awal, dia selalu minta dibuatkan dua kamar terpisah.
Cahaya langit semakin meredup. Kelelawar beterbangan di atas lahan rumah. Lelaki itu mengajak istrinya kembali ke rumah kontrakan. Lampu senter di ponsel dinyalakan untuk menerangi langkah kaki mereka berdua.
Besok adalah Sabtu, hari yang ditunggu para tukang. Malam ini, Awan duduk di depan laptopnya, mengetik angka-angka, menghitung gaji, dan merekap pengeluaran pembangunan selama seminggu. Maya menghampirinya dengan membawakan secangkir kopi susu panas. Dia ingin melihat keseluruhan desain rumah. Mereka duduk berdampingan di meja makan. Awan membuka arsip ilustrasi bentuk rumah. Dia menceritakan desain yang dirancang.