Rumah Ungu

Kesit H. setyadji
Chapter #6

Rumah Masa Kecil

Kabut tebal masih menyelimuti Dusun Jeblogan, ketika petani mengayun langkah ke perkebunan kopi di lereng bukit pagi ini. Sinar mentari tidak sanggup menembus lapisan putih itu untuk sekadar menghangatkan tubuh. Dusun kelahiran Awan, tempat rumah orangtuanya berdiri, berjarak hampir sembilan puluh kilometer dari rumah ungu. Jalan hanya muat dilewati satu mobil dengan beberapa tanjakan curam berada di antara tebing dan jurang. Jika lengah sedikit, membawa petaka bagi orang yang tidak hafal medan jalan di sana. Pohon-pohon cemara berderet di sepanjang jalan seperti lirik di lagu anak-anak. Asap kayu bakar menyusup di antara susunan genting basah, membumbung tinggi, dan menghilang di awang-awang. Kepulan itu menjadi penanda mulainya kehidupan di setiap rumah.

Bagi Awan, pulang ke rumah orangtua bukan hanya sekadar bertemu dan bercakap dengan mereka. Pulang adalah obat, salah satu cara untuk menenangkan hati dan otaknya dari hingar bingar pekerjaan di kota. Di tempat terpencil itu, dia merasa energinya diisi kembali hingga penuh. Udara, air, dan kopi, menjadi barang mahal di kota, berserakan bebas di dusunnya. Namun, bagi Maya, pulang ke rumah mertua seperti memasuki lorong labirin. Dia merasa selalu bertemu ruang-ruang buntu, ketika menanggapi perkataan mertuanya. Di rumah itu, hubungan anak dan orangtua terasa sangat kaku. Banyak etika dan aturan yang harus dijaga. Ada hal yang boleh dilakukan dan hal larangan. Dia tidak terbiasa suasana keluarga yang terlalu menjunjung tata krama. Orangtuanya membesarkan dengan penuh kebebasan. Memang terkadang perkataan ibunya terasa kurang pas menurutnya, tetapi dia masih bisa mengungkapkan isi hatinya. Dia sebal kepada sikap suaminya, selalu patuh dengan segala perintah dan permintaan orangtua, berakibat sering kali Awan mengorbankan waktu kebersamaannya.

Sejak azan subuh berkumandang, semua orang di dusun sudah beraktivitas. Ibu-ibu dan anak perempuan di dapur dan bapak-bapak merumput di sawah pinggir dusun. Begitu juga dengan mertua perempuan sudah bergelut dengan wajan, dandang, sutil, talenan, dan asap tungku di pawon. Maya masih tertidur pulas di bilik berdinding kayu. Udara dingin sisa malam masih tersimpan di dinding dan lantai rumah semakin melelapkannya.

“Perempuan kok bangunnya siang,” kata ibunya kepada Awan yang sedang menggigit tempe goreng. Uap mengepul dari mulut Awan karena makanan itu baru saja diangkat dari penggorengan. “Dulu simbahmu sudah mengguyur air seember, jika ibu kesiangan,” tambahnya.

“Masih capek, Bu,” jawabnya sedikit membela istrinya dengan terus mengunyah tempe itu. “Di kota tidak ada seenak ini,” lanjutnya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

“Dulu ketika ibu seumurmu, adikmu sudah berumur lima tahun. Kasihan kalau kalian nggak sarapan sebelum berangkat sekolah,” ujar ibunya sembari memandang minyak di wajan. Ada kenangan menyusup ke hatinya mengingat masa ketika semua anaknya masih berkumpul. Dari ketiga anaknya, Awan paling memahami perasaannya dan selalu menuruti nasihatnya. Namun, sampai hari ini dia belum bisa menimang cucu dari anak laki-lakinya itu. Dia membayangkan ketika anaknya sudah tua, tidak ada yang merawatnya. Apalagi ketika melihat menantunya yang terkesan lebih mementingkan kebutuhannya sendiri. Ketakutan kepada anaknya yang menderita di masa senja. Ibunya mengusap mata dengan ujung baju.

Suara berdesir dari wajan. Baunya menyeruak menusuk hidung Maya. Ingusnya meler setelah beberapa kali bersin. Dia bangun dari tidur. Telinganya mendengar perbincangan suaminya dan mertua dari balik bilik kamar. Dia segera beranjak dan melangkah ke jeding di belakang pawon. Mertuanya melirik langkah Maya, kemudian ke arah kepala Awan. Mulutnya bergerak berkata tanpa suara. Awan sudah memahami maksud ibunya.

“Nggih,” jawab Awan pelan sambil menganggukkan kepala.

Maya segera ke rak piring dan gelas di samping tempat cuci. Di sebelahnya terdapat meja kecil dengan termos, kaleng gula, kaleng kopi, dan kaleng teh. Dia segera membuat kopi untuk suaminya. Ibunya selalu mengingatkan, bagi seorang istri, pekerjaan pertama di dapur adalah menyediakan minuman untuk suami. Dia membuat beberapa cangkir minuman sekalian untuk mertuanya.

“Manis nggak, Bu?” tanya Maya.

“Sesendok saja,” jawab mertuanya yang sedang memasukkan santan ke wajan. “Ambilkan tempe busuk di amben itu,” pinta mertuanya.

Maya mengedar pandangan ke tumpukan tempe di ranjang bambu, tempat mertuanya mempersiapkan racikan makanan. Dia tidak tahu tempe maksud mertuanya. Awan mendekati istrinya. Bungkus daun pisang kecokelatan diberikan kepada istrinya. Maya membuka bungkus tempe. Bau menyengat, menusuk hidungnya. Beberapa belatung menempel di tempe itu. Ada sedikit rasa mual di perutnya. Dengan menahan napas, dia memberikan benda itu kepada mertuanya.

“Ini andalan orang desa, biar jangan lombok menjadi sedap, Mbak,” ucap mertuanya.

Perut Maya semakin berontak. Dia baru menyadari, ternyata selama ini ketika menginap di rumah mertua dan melahap jangan lombok, dia menelan makanan busuk. Dia berlari terbirit-birit ke jeding. Sisa makanan semalam menyembur ke lantai kamar mandi. Awan menyusul istrinya, tangannya meraih handuk di gantungan.

“Istrimu masuk angin, Wan?” kata ibunya. “Atau jangan-jangan baru mengidam.” Wajah mertua Maya sedari tadi terlihat dingin, perlahan-lahan mencair.

Lihat selengkapnya