Rumah Ungu

Kesit H. setyadji
Chapter #7

Selasar Putih

Siang mendung, di ruang dosen saat istirahat mengajar, Maya mengirimkan pesan kepada Awan, Mas, nanti jam 6 sore, jadwal periksa dokter Jono. Aku tunggu di gerbang kampus saja. Jangan telat. Tangannya segera meraih gelas berisi minuman teh di mejanya. Beberapa teguk membasahi tenggorokannya yang kering setelah berbicara banyak di depan kelas. Menurutnya, mahasiswa sekarang jauh berbeda dengan masa ketika dia kuliah. Mereka lebih berani mengutarakan pendapatnya dan lebih kreatif. Namun ada satu hal yang mengganjal, sikap sopan santun kepada dosen atau orang yang lebih tua sudah menipis. Banyak mahasiswa yang menganggapnya seperti teman daripada seorang dosen. Dia memikirkan, bagaimana karakter mahasiswa ketika anaknya menjalani kuliah. Wajahnya menyungging senyuman, sembari berdoa agar perutnya segera terisi.

Awan menggulir layar ponselnya yang retak. Dia membuka pesan istrinya. Lekas dibacanya pesan dari istrinya dengan tertekun. Dia merenung sebentar. Malam ini, dia memiliki agenda pertemuan dengan klien yang sangat sibuk, dan sudah beberapa kali mengubah jadwal. Beberapa saat kemudian, dia mengetik beberapa kata, tetapi dihapusnya kembali. Dia mengulanginya beberapa kali. Dia sudah tahu apa risiko, jika tidak mengantar istrinya periksa. Dia memutuskan untuk membatalkan pertemuan dengan kliennya. Sebuah kalimat permintaan maaf dan penjadwalan ulang dikirimkannya ke orang itu. Kemudian gegas, dia membalas pesan Maya.

Sore hari, di gerbang, ditemani Clara, Maya berdiri menunggu suaminya. Matanya terus melihat jam tangan sudah menunjukkan pukul 5. Tangan kanan menempelkan ponsel di daun telinga. Beberapa kali dia melakukan panggilan, tapi tidak ada jawaban. Maya mengetik pesan, Kamu di mana? Kalau tidak segera datang, aku pergi sendiri. Mukanya semakin terlihat cemberut. Dia paling benci kelakuan Awan yang sering mengabaikan waktu. Maya masih saja heran dengan kebiasaan buruk suaminya, meskipun sudah beberapa tahun hidup bersama,

“Apa pacarmu juga begini, Ra?” tanya Maya kepada Clara yang sedang menggerakkan jemari di layar ponsel.

“Semua laki-laki kayaknya begitu, Mbak,” jawab Clara tersenyum. Dia merasakan kegundahan perempuan itu.

Maya menduga kalau tidak tidur, pasti suaminya sedang berada di depan laptop. Awan bisa betah berjam-jam, bahkan sampai pagi menjelang. Seperti halnya fajar tadi, dia merasakan ranjang bergoyang ketika suaminya baru masuk kamar ketika jago berkokok. Ah, pasti ketiduran! gerutunya di hati.

Suara getar ponsel memaksanya membuka mata. Awan terkesiap dari tidur. Dia sudah bertahan untuk tetap terjaga, tetapi tetap saja tak kuasa menahan rasa kantuk yang mendera ditambah embusan semilir angin melewati jendela ruang keluarga. Terpampang nama istrinya. Sudah sepuluh kali panggilan tak terjawab. Gegas dia bangun. Dengan linglung, dia mencari kunci sepeda motor. Biasanya, kunci tergantung di dinding samping pintu depan. Namun, kali ini benda itu tidak ada di sana. Dia mondar-mandir mencari dan mengingat terakhir kali meletakkan benda itu. Umpatan terus saja keluar dari mulutnya. Dalam kebingungan itu, terselip bayangkan wajah masam istri, berdiri di gerbang kampus, membuatnya semakin cemas. Dia melangkah keluar rumah menuju ke sepeda motornya. “Wedus!” umpatnya. Kunci masih tergantung di kendaraan itu.

Lamat-lamat, suara knalpot terdengar. Tidak beberapa lama, Awan sudah berada di depan kedua perempuan itu. Tangannya menyiapkan pijakan belakang setelah memberikan helm kepada Maya. Setelah memeluk Clara, Maya duduk di jok belakang, dengan memasangkan penutup kepala. Dia melambai ke arah temannya yang masih berdiri menunggu jemputan pacarnya sebelum kendaraan roda dua itu bergerak.

Lelaki itu segera menjalankan sepeda motor ke klinik praktik dokter kandungan paling terkenal di kota itu, karena banyak pasien telah berhasil dalam upaya kehamilan. Kontrol kali ini menjadi program kehamilan ketiga. Bibit-bibit keraguan muncul di benaknya pada program kali ini. Harapannya memiliki anak semakin menipis mengingat usia istrinya sudah memasuki kondisi riskan jika hamil. Tapi keinginan Maya untuk program lagi sangat kuat. Dia selalu mendukung keinginan istrinya.

Maya masih jengkel dengan keterlambatan Awan. Di dalam otaknya, muncul pembenaran jika kegagalan program hamil disebabkan suaminya. Dia menilai, suaminya tidak serius, dan tidak siap memiliki anak. Dia sering mendengar perkataan lelaki itu, selalu saja berkutat kepada kemapanan kondisi ekonomi keluarga. Padahal baginya, hidup pasti akan terus bergerak dan berkembang sesuai dengan kebutuhan. Sehingga, permasalahan itu tidak perlu dipikirkan. Dia juga memiliki keyakinan, karena hal itu juga, mungkin Tuhan tidak segera mengabulkan permohonannya untuk memiliki buah hati. Apalagi, jika dia melihat tumpukkan puntung rokok yang dijumpai setiap pagi di meja kerjanya. Setiap kali dia mengingatkan untuk menghentikan, jawaban Awan selalu mengatakan bahwa teman-teman yang merokok juga memiliki anak. Selain itu, suaminya beralasan, otaknya akan beku ketika sedang bekerja, jika tidak merokok. Dia sampai mengirimkan beberapa jurnal yang membuktikan kebiasaan itu sangat berpengaruh kepada kualitas sperma. Ada saja alasan yang disampaikan suaminya, sehingga membuatnya malas untuk memintanya melakukan itu.

Jauh dalam lubuk hati, perempuan itu sebenarnya sudah merasa lelah. Dia merasa dunia tidak adil kepada perempuan, selalu dianggap sebagai penyebab utama jika tidak ada keturunan. Dia harus berjuang sendiri. Suaminya memang selalu menemani setiap program hamil, tetapi apakah dia tahu rasanya saluran rahim ditekan dengan cairan dalam pemeriksaan saluran tuba, apakah dia tahu rasanya batang USG masuk liang vagina dengan paksaan, dan apakah dia tahu rasanya suara-suara dari orangtua, saudara, atau tetangga sering memerahkan daun telinga. Namun, dia tetap bertahan untuk membuktikan, bahwa dia mampu untuk memberikan keturunan bagi suaminya. Hatinya terasa pedih.

“Maaf, May. Tadi lama nyari kunci,” ujar Awan di antara deru lalu lalang kendaraan.

“Halah!” jawab perempuan itu ketus. Otaknya ingin berbicara panjang tapi mulutnya terasa berat untuk dibuka. Alasan itu terdengar terlalu mengada-ada baginya. Hal itu tidak terjadi, jika suaminya disiplin untuk menaruh barang di tempat yang tetap. Dia membayangkan bagaimana nanti kalau punya anak, suaminya pasti banyak melakukan keteledoran. Dia asyik fokus di depan layar laptop, sehingga anaknya menelan benda tajam.

Lihat selengkapnya