Delapan bulan sejak pertama kali upacara selametan dengan sesaji seekor ayam panggang, nasi tumpeng, bubur merah, dan dua sisir pisang raja di tengah-tengah lingkaran pekerja dan tetangga yang hadir untuk menandai dimulai pembangunan rumah, tepat di hari ulang tahun Maya ketika menginjak usia empat puluh tahun, pasangan suami istri tanpa anak itu mulai menempati rumah barunya. Maya memberi nama rumah itu dengan sebutan ‘Rumah Ungu’. Dia terlihat puas dengan hasil pekerjaan suaminya. Rumah itu benar-benar terasa menyatu dengan dirinya. Di minggu-minggu awal, jika mendapati kotoran di lantai, segera dibersihkannya. Dia ingin membuat rumahnya terlihat selalu baru dan bersih. Baginya, mengotori ruangan itu, juga mengotori dirinya. Dia selalu cerewet kepada suaminya jika sembarangan meletakkan barang, terutama puntung dan abu rokok yang sering beterbangan bercecer di meja dan lantai. Awan boleh saja sebagai kepala keluarga, tetapi sang ratu tetap di tangannya.
Ruangan demi ruangan perlahan-lahan terlihat perabot yang menghidupkan suasana. Sofa ungu dengan meja kayu bundar menghadap ke televisi. Gorden putih dengan garis ungu muda sudah terpasang di setiap jendela. Pun dengan meja dan kursi makan sudah tertata apik di ruang belakang. Namun beberapa kardus berisi buku-buku dan pernak-pernik masih menumpuk di ruang keluarga.
Di samping tumpukan kardus, Awan berselonjor memandang ruangan. Ingatannya kembali ke masa persiapan pembangunan, dia berkali-kali mengubah desain rumah yang diberi nama Maya dengan sebutan ‘Rumah Ungu’. Semua ruangan diaturnya sedemikian rupa, supaya memiliki alur sirkulasi bagus. Letak dan bentuk pintu jendela dipikirnya dengan matang-matang agar angin bisa mengalir mengusir panas yang terjebak di dalam ruang. Pohon alpukat dibiarkan tetap rimbun, supaya burung-burung bisa bersarang. Bunga-bunga harum dipilihnya menjadikan rumah menjadi wangi dan kupu-kupu beterbangan di halamannya.
Pada saat tahapan pembangunan, Awan memperhatikan semua detail kualitas pekerjaan dengan sangat teliti. Begitu juga dalam dilakukannya saat pemilihan material pembangun rumah. Dia selalu mengecek diameter besi beton dengan jangka sorong yang tidak pernah keluar dari tas pinggangnya. Membanting bata merah untuk memastikan kualitas. Menggelindingkan kelereng untuk melihat lantai telah rata. Dan menyorot lampu senter pada permukaan dinding-dinding. Dalam pandangan Awan yang seorang arsitek, Rumah itu bukan sekadar hunian fisik sebagai tempat untuk berlindung dari hujan dan panas. Baginya, rumah adalah karya seni, sehingga dalam perwujudannya harus dilingkupi segala indra manusia.
Mereka sudah mendiami rumah ungu selama dua puluh empat bulan, sikap Maya sudah tidak sekaku ketika awal menghuni rumah. Dia sudah membiarkan daun berserakan dan debu menyebar di ruangan. Kesibukan pekerjaan di kampus menyita waktu dan tenaganya, sehingga ketika sampai di rumah, hanya keinginan untuk istirahat yang ada di benaknya. Suaminya lebih sering terlihat mengerjakan tugas rumah tangga.
Sejak pagi buta, hujan turun dengan derasnya, tidak memberi kesempatan burung-burung untuk mencari makan. Bulu-bulu basah bertengger di dahan. Pagi riuh bukan karena cuit merdu dan kokok lantang, tetapi gelegar petir. Musim hujan sedang di titik puncaknya.
Di kamar mandi, Maya termangu, duduk menekuk kaki bersandar pada dinding keramik yang baru terpasang beberapa bulan lalu. Matanya sembab memandang celana dalam bernoda merah. Hatinya patah setelah hampir tiga bulan menyemai harapan tumbuh janin di rahimnya. Dan sekali lagi terjadi, setelah beberapa kali perjuangan. Dia ingin berteriak lepas, tapi otaknya melarang dan mengingatkan bahwa itu bukan dirinya. Tangannya memukul-mukul genangan air di lantai. Kepala membentur-bentur pelan ke dinding keramik.
Kesibukan Awan membersihkan kotoran rumah, tidak menyadari istrinya sudah sangat lama di kamar mandi. Dia pikir mungkin istrinya sedang menikmati waktu dengan luluran dan keramas.
“May,” panggilnya dengan mengetuk pintu.
“Ya, Mas,” jawab istrinya tergagap.
Suara Awan memaksanya bangkit berdiri dan menyeka air matanya. Setelah berpakaian, handuk dibalutkan ke rambutnya, Maya keluar kamar mandi dengan menenteng ember berisi cucian. Dia masih menutup mulutnya setelah menjemur pakaiannya. Namun, mata merahnya tidak bisa disembunyikan. Dia membuka bungkus cokelat dan segera memakan potongan isinya.
Di meja makan, tangan Awan membalik lembar kertas, membaca kumpulan cerpen. Dia berpura-pura larut dalam kalimat di buku yang sedang terbuka di hadapannya, meski sebenarnya otaknya sedang menebak-nebak apa yang terjadi pada istrinya.
“Aku datang bulan lagi, Mas,” ucapnya dengan mengunyah makanan kesukaannya.