Seperti di hari-hari biasanya, rutinitas pagi berdenyut di setiap keluarga, begitu juga di Rumah Ungu. Beberapa lampu jalan dan teras tetangga masih menyala. Awan menggeser gorden, membuka semua jendela, dan juga semua pintu. Liturgi pagi dengan sapaan kepada angin dan ruang-ruang. Prenjak bercuit ramai melompat-lompat di dahan alpukat depan rumah, bersahutan dengan kokok jago dan suara sapu di jalan. Mau ada tamu kayaknya. Mungkin juga akan ada proyek baru.
Wajah Awan tersimpul senyum dengan tangan terus menyisir kotoran di lantai, sebagian besar berisi rambut-rambut rontok. Dipegangnya rambut-rambut itu dan diperhatikan benar-benar. Rambut itu jelas miliknya. Tipis, kecil, dan setengah putih. Dia sudah paham betul, mana rambut Maya dan rambutnya. Di dekat terpajang cermin, dia berdiri mengamati dahinya. Semakin lebar. Rambut sepanjang bahu semakin menipis dan memutih. Dia selalu menjaga panjang rambutnya. Jika sudah melebihi, dia akan memotong dengan tangannya sendiri. Ada cabang-cabang di ujung rambut. Dia kembali ingat waktu ketika akan menikahi Maya. Perkara rambut hampir membuat perkawinannya berantakan. Memotong rambut yang telah bertahun-tahun dibiarkan memanjang. Melihat itu, Maya menjadi marah dan mendiamkan beberapa hari. Persiapan pernikahan seharusnya menjadi kegembiraan, rusak karena perkara potong rambut. Awan hanya ingin tampil rapi biar tidak dianggap seperti orang urakan.
“Jelek! Aku nggak suka,” kata Maya waktu itu.
Dari dapur terdengar gemerincing piring, gelas, dan sendok beradu dengan semprotan air. Maya berjalan ke meja kerja suaminya. Meja itu bersebelahan dengan meja makan. Suaminya sering memakai kedua meja untuk aktivitasnya. Ada tiga gelas menumpuk, buku, kertas berantakan, dan yang paling membuatnya jengkel, asbak penuh puntung rokok
“Hanya satu orang, tapi seperti rapat orang sekampung,” teriaknya dari dapur sambil membereskan meja itu. “Apa sih susahnya merapikan lagi. Kebiasaan!” tambahnya.
Sudah bertahun-tahun lamanya pasangan itu tinggal bersama. Awan sudah sangat hapal dengan karakter dengan perempuan itu. Dia tetap diam saja. Jika menanggapi omelan istrinya, kata-kata akan terus meluncur dari mulutnya, dan berulang-ulang sampai menjelang tidur. Dia memilih pergi ke halaman. Nyanyian burung-burung lebih merdu di telinganya dari pada kicau dari dapur. Awan sudah sering mengatakan kepada istrinya untuk tidak merapikan mejanya. Namun, Maya masih sering melakukan itu. Itu membuatnya jengkel, karena dia menjadi kesulitan mencari barang-barang, jika Maya merapikan mejanya.
Bagi Awan, ruangan belakang menjadi ruang serba guna, sehingga menjadi area terbesar di rumah ungu. Selain fungsi utama berkaitan dengan urusan domestik, juga sebagai tempat menerima teman-teman dekat atau klien, sekadar ngobrol ringan atau diskusi serius masalah pekerjaan. Dia memang sengaja merancang sedemikian rupa, membawa kehangatan suasana pawon di desanya ke dalam rumahnya. Memulai dan mengakhiri hari di ruangan itu. Dia mengibaratkan pawon sebagai motor penggerak, jika tempat itu mati, maka rumah juga akan berhenti. Dan dengan meletakkan ruangan berisi dapur, ruang makan, dan ruang kerja di bagian belakang, menjadikan ruangan lain tetap dilewati.
Sapu lidi sudah di genggaman, Awan memulai menggiring guguran daun ke bawah pohon alpukat. Ketika membuka gerbang, dia melihat kardus bergoyang-goyang pelan. Mulutnya mengatup. Ringih pelan terdengar dari dalamnya. Dia berdiri mematung membayangkan isinya adalah seonggok bayi merah seperti akhir-akhir ini sering muncul di beranda media sosial. Atau mungkin saja ular berbisa akan melompat dan menggigitnya, ketika membuka tutupnya. Keraguan masuk ke pikirannya. Dia mengambil gagang sapu, dan mencungkil penutupnya. Terlihat anak anjing berbulu kuning kecokelatan dengan tubuh gemetar, dan mata berkaca-kaca. Lekas, dia mengangkat kardus, membawa ke teras. Dia masih membiarkan anak anjing itu tetap di dalamnya. Gegas, dia berlari ke dapur, menghampiri Maya masih disibukkan dengan urusan dapur.
“May, ayo ikut aku,” kata Awan menarik tangan istrinya.
“Kamu nggak lihat, Mas!” jawab Maya dengan sewot, menunjukkan wajan berisi sayur mendidih. Tangan lelaki itu memutar tombol, mematikan kompor. Perempuan itu menuruti kemauan suaminya dengan mata membelalak dan memonyongkan bibir.
Wajah Maya menjadi merenggang. Dia begitu girang melihat isinya. Memukul-mukul lengan suaminya. Dia mengambil posisi jongkok. Mengangkat pelan anak anjing dan segera menggendong. Hewan itu masih gemetaran di dadanya.
“Ganteng apa cantik?” Maya mengudang hewan kecil malang itu. Dia menyuruh suaminya, mencari keranjang plastik dengan memberi alas handuk bekas. Setelah meletakkan anak anjing di kandang sementara, Maya membuat larutan susu hangat di mangkok seng. Lidah anjing menjilat-jilat dengan rakus minuman putih sampai tak bersisa. Matanya sesekali melihat Maya.
“Siapa namanya, Mas?” tanya Maya.