Rumah Ungu

Kesit H. setyadji
Chapter #10

Kamar Anak

Maya berbicara dengan seseorang dari balik ponsel, seraya menatap cermin, tangan yang lain sibuk menyapu wajahnya dengan kapas putih. Awan sedang berbaring di ranjang dengan tangan memegang ponsel, sambil menguping obrolan istrinya sejak sekitar tiga puluh menit lalu. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Malam ini hari keempat belas dari haid pertama istrinya. Pagi tadi Maya mengatakan hal itu. Dia semakin gelisah. Maya terlihat masih asyik dalam percakapan itu. Awan meletakkan ponselnya dan berpura-pura memejamkan mata seakan-akan sudah mengantuk. Padahal dadanya terasa tidak keruan. Perasaan gelisah dan gelora berahi bercampur.

“Akhir bulan, Anna mau menginap di sini,” ujarnya kepada suaminya.

“Sendiri?” jawab Awan. Dari perkataan istrinya, akhirnya tahu dengan siapa dia berbicara.

“Ya sama orang tuanya, Mas. Begitu saja ditanyakan,” jawab Maya sambil memberikan botol minyak kayu putih. Dia menelungkupkan badannya setelah melepas baju dan kutang hingga hanya tersisa celana dalam ungu. Kain sarung membungkus badannya yang hampir bugil. Melepaskan sisa pakaian itu adalah tugas suaminya.

Suaminya masih membaca paragraf terakhir artikel. Matanya melirik istrinya telah berbaring telungkup.

“Buruan. Aku sudah ngantuk,” kata Maya sambil menggaruk-garuk punggungnya. Gegas suaminya meletakkan ponsel dan melepas kaosnya. Dia sudah hafal dengan ritual keinginan istrinya sebelum pekerjaan malam. Tangannya mengoleskan minyak kayu putih ke punggung Maya, setelah diciuminya beberapa kali dari bawah leher sampai ke bawah pinggang dengan mengangkat sedikit kolor istrinya.

“Kanan atas.” Maya mengarahkan suaminya untuk menggaruk rasa gatal di punggung. “Turun dikit, agak ke kiri.”

“Perempuan gatal!” goda suaminya.

Setelah istrinya sudah tidak meminta menggaruk punggungnya, Awan melanjutkan tugasnya sebagai tukang pijat, mengoleskan minyak dan mengurut seluruh tubuh Maya. Dia tidak benar-benar melakukannya. Otaknya berkutat pada bokong, payudara, dan selangkangan istrinya. Dia paling menyukai tahapan mengurut paha dalam. Hal itu membuat istrinya merintih dan menggerutu kalau pijatan itu terlalu keras. Desahan itu semakin menambah gelora birahinya.

“Berisik,” kata Awan.

Tugas memijat sudah selesai. Awan menepuk pantat istrinya. Maya sudah paham dengan kode itu, segera membalikkan badan. Siap menerima semua gerakan Awan, menyusuri tubuhnya, seperti arsitek sedang menikmati hasil desainnya. Lekukan, lipatan, tekstur kasar dan lembut, dan detail-detail lainnya tidak lepas dari perhatian suaminya. Dia sudah hafal betul tanpa diarahkan. Mereka saling beradu dan membalas hingga di titik puncak. Keheningan kamar dipenuhi desahan dari pasangan itu. Beberapa kali terdengar lolongan Segi yang kedinginan di kandangnya. Keringat bercucuran di dahi dan dada Awan. Awan terkulai lemas di dada istrinya. Napasnya terengah-engah sebagai tanda dia telah menyelesaikan proyek malam. Awan terbaring di sisi istrinya dengan pelukan erat setelah beberapa kali mencium pipi istrinya. Mereka tertidur pulas dalam kondisi telanjang hingga fajar menyingsing, seperti bayi baru dilahirkan.

Maya sudah berkerudung handuk mengiris sayuran di dapur, ketika Awan keluar dari kamar tidur. Segelas susu bercampur madu dan telur sudah tersaji di meja makan. Pinggang Awan terasa sedikit mengganjal. Dia sedikit meringis ketika duduk di kursi makan. Minuman itu segera diteguknya.

Lihat selengkapnya