Rumah Ungu

Kesit H. setyadji
Chapter #11

Tajuk

Malam terasa gerah dalam beberapa hari ini. Derit putaran kipas beradu dengan suara dialog dari film pendek. Maya tekun mengamatinya sembari duduk lesehan di karpet ruang keluarga. Milon melingkar di pangkuannya, sedangkan Segi rebahan di samping kanannya. Berbeda dengan Awan yang lebih banyak bekerja di ruang makan, Maya lebih nyaman melakukannya di ruang keluarga. Matanya menonton film-film pendek karya mahasiswa sebagai tugas ujian akhir semester. Kacamata ungu duduk di hidungnya. Sesekali, dia menghentikan putaran film itu. Tangannya membuat catatan hasil koreksinya pada lembar buku menjadi dasar penilaian. Awan duduk di sofa belakang istrinya, dengan tangan bergerak menggores sketsa desain proyek kafe. Beberapa kali dia melirik ke layar jika pemainnya cantik.

“Point of View-nya bagus. Tone-nya juga bagus. Tapi.” Maya menghentikan omongannya.

Awan mengalihkan pandangan dari lembar sketsa, menunggu istrinya melanjutkan kalimatnya.

“Tapi apa?” sahut suaminya dari belakang.

“Apa sih! Aku ngomong sendiri, malah ikut menyambung,” jawab istrinya. “Pergi sana. Jangan ganggu.”

“Ya udah. Aku mau ronda dulu.”

“Iya,” kata istrinya sewot.

Buku sketsa ditaruh Awan di meja. Tangannya segera mengencangkan gulungan sarung yang kendur. Sebungkus rokok dan selembar dua puluh ribuan dimasukkan ke kantong baju. Dia melangkah keluar setelah mencuri kecup di pipi istrinya. Maya memberi kode agar segera pergi daripada mengganggunya.

“Jangan malam-malam pulangnya.” Kalimat istrinya mengiringi langkah menuju pintu depan.

Kira-kira lima orang laki-laki sudah duduk melingkar di pos ronda dengan penerangan lampu kuning menggantung di langit-langit. Suara tawa riuh terdengar. Mereka sudah terbiasa saling melempar ejekan sebagai gurauan. Di depan bangunan itu terdapat wedangan Kang Slamet. Dia selalu siap melayani makanan dan minuman para peronda maupun orang yang hanya sekadar menghabiskan malam. Biasanya semakin malam, suasana bertambah ramai. Kang Slamet baru menutup tendanya ketika semua orang sudah pulang. Teh buatannya sangat sedap, kata orang-orang di kampung itu.

Bangunan pos ronda itu masih baru. Sebelumnya hanya lincak bambu tanpa atap, sehingga ketika hujan turun, semua orang berhamburan pulang ke rumah masing-masing. Ingatannya masih segar, sesegar bau pernis yang memoles papan-papan kayu bangunan itu. Beberapa bulan lalu, di waktu dan hari sama, Pak RT dan pengurus menemuinya di rumah. Mereka memintanya untuk mendesain pos ronda. Awalnya dia menolak permintaan itu, karena dia merasa orang baru. Dia juga paham, jika di kampung itu sudah ada seseorang yang selalu mengurusi kegiatan pembangunan. Dia juga heran, bagaimana mereka tahu kalau dirinya arsitek, sedangkan dia tidak pernah mengatakan profesinya kepada siapa pun. Selama ini jika ditanya, dia hanya menjawab sebagai karyawan kantor.

Bangunan kecil berukuran tiga kali tiga meter itu, sengaja didesain Awan dengan model panggung terangkat agar tidak menutup tanah. Konstruksi kayu dan beratap genting dipilihnya supaya nuansa desa masih terasa. Mendatangi tempat itu bukan saja menjadi ruang bertemu dengan tetangga, tetapi juga menjadi waktu menikmati salah satu karya meskipun hanya sebuah pos ronda.

Sebelum duduk di bangunan panggung itu, Awan menghampiri Kang Slamet yang sedang meracik teh di cangkir blirik. Aroma seduhan itu mengalahkan wedangan-wedangan paling terkenal di Solo. Kang Slamet sudah berjualan jauh sebelum dia menetap di kampung itu. Sehingga segala desas-desus kampung tersimpan rapat di gerobak angkringannya.

Lihat selengkapnya