Tujuh belas koin sudah digenggam Awan. Uang itu didapatnya dengan mencungkil koin seribu dari celengan botol air mineral. Tagihan pembayaran jasa desain belum dibayar klien. Dan mesin ATM sudah tidak mau mengeluarkan lembaran uang. Senyum tersungging lebar-lebar. Hari ini, mulutnya masih bisa merasakan asap sigaret kretek tangan berlogo huruf A. Warung Madura yang buka dua puluh empat jam di perempatan kampung, menarik kakinya. Gemerincing recehan mengiringi langkah kakinya.
Awan mengedarkan pandangan ke bagian dalam warung. Setelah beberapa panggilan, seorang perempuan keluar dari balik tirai sambil merapikan rambut dan sarungnya. Selintas terlihat telapak kaki laki-laki dari arah penjual itu keluar. Alih-alih malu dengan recehan yang dibawanya, dia melihat rak belakang. Di sana tergantung celurit dengan sarung kulit menjadi simbol asal penjual itu. Perempuan itu menghitung jumlah koin yang diberikannya.
“Sudah pas, Pak,” kata penjual.
Setelah membawa sebungkus rokok, Awan segera membalikkan badan. Celananya sudah tidak berisik lagi. Di sepanjang jalan menuju rumah, dia memikirkan warung tadi. Keluarga itu meninggalkan kampung halamannya di Madura untuk mencari nafkah di kota ini.
Dua bulan belakangan, pekerjaan desain sedang sepi. Tabungannya sudah ludes untuk pembayaran pembuatan kanopi rumah. Sebenarnya masih ada satu pekerjaan desain dapat menjadi tumpuan keuangan. Namun, dia sudah agak jenuh untuk meladeni perubahan keinginan klien. Sudah lima kali revisi desain dan belum terlihat tanda-tanda akan selesai. Ingatannya meluncur kepada pinjaman yang diberikan kepada tetangganya. Jumlahnya tidak seberapa, tetapi cukup untuk bertahan dalam beberapa hari ke depan. Perkara utang piutang bisa menghancurkan hubungan baik, baik besar atau kecil jumlahnya, hal itu membuatnya jengkel. Dia teringat sewaktu tetangganya datang memelas meminjam uang untuk membeli susu anaknya. Namun ketika dia meminta kembali uang itu, dia justru memblokir nomor ponselnya.
Awan memutar otak, mencari cara mendapatkan uang. Satu cara paling mudah dengan meminjam uang kepada orang tuanya. Namun, niat itu diurungkan, karena orang tuanya sudah membantu pembiayaan dalam pembangunan rumah. Pilihan lain adalah berutang kepada adik dan kakaknya. Dalam jumlah sedikit, mereka pasti akan meminjami uang. Ah, itu pilihan terakhir, pikirnya. Ingatannya tertuju kepada teman sekolah yang hidupnya cukup mapan. Dulu, Awan sudah pernah meminjam untuk menutup kerugian proyek. Namun, kembali lagi niat itu diurungkannya, karena sudah lama tidak menjalin komunikasi dengan temannya.
Awan masih termenung di teras. Dia belum menemukan cara cepat dan tepat menjawab permasalahannya. Bayangan sosok ibunya masuk ke otaknya. Dulu, ketika masih masa berseragam biru putih, ibunya pernah mengajak ke sebuah kantor Pegadaian, sehari setelah dia meminta uang untuk membayar seragam sekolah. Dia melihat tangan ibunya menerima beberapa lembar uang setelah menyerahkan kalung emas. Kekusutan di wajahnya sudah terurai. Dia meninggalkan teras menuju lemari di dalam kamar. Kotak kecil diambil dari laci lemari. Dia duduk di ranjang sembari membuka tutupnya. Dipandanginya dengan lama cincin mas kawin di kotak itu. Jarinya mengusap permukaan benda mengilap kekuningan, dan segera dimasukkan ke plastik bekas bungkus obat. Pegadaian pojok Widuran menjadi pilihannya, karena letak kantor cukup jauh dari rumahnya, sehingga kemungkinan kecil dia akan bertemu tetangganya.
Sementara itu di kampus, klakson mobil berbunyi ketika melewati Maya yang melangkah menuju gerbang kampus. Kaca mobil turun pelan, terlihat wajah Andreas, teman dosen, menyapa dari dalam kendaraan.
“Saya antar, Bu Maya?” kata Andreas.
“Makasih, Pak Andreas. Sebentar lagi suamiku datang,” jawab Maya sambil melambaikan tangannya. Dia mengalihkan matanya dari punggung mobil yang semakin tertelan lalu lalang kendaraan ke arah barang bawaannya. Satu tas di punggung dan satu tas lagi dijinjing di tangannya. Seharusnya aku sudah bawa mobil, katanya dalam hati.
Sampai mana, Mas? pesan Maya kepada Awan. Dia segera mendongak, setelah jarinya selesai mengetik pesan kepada Awan. Dia berdiri di gerbang kampus, tempat yang selalu dipakai untuk menunggu jemputan suaminya. Setelah beberapa menit, suaminya datang dengan senyum lebar.
“Mampir ke Tentrem dulu, Mas. Aku kepingin makan es krim,” ajak Maya.
Dalam perjalanan, mereka menyalip sepeda motor yang ditumpangi satu keluarga, sepasang suami istri dan dua orang anaknya. Maya sudah memperhatikan keluarga itu.