Rumah Ungu

Kesit H. setyadji
Chapter #13

Halaman Depan

Papan dipegang dengan mata memicingkan, Awan memperhatikan kelurusan papan kayu, ketika Maya membawa secangkir kopi panas dan sepiring ubi madu hangat. Senyum tergurat tipis, memandang suaminya telanjang dada dan berkolor hitam khas petani. Kulit sawo matang mengilau memantulkan sinar pagi dari cucuran keringat membasahi tubuh bagian atasnya. Uap tipis mengepul dari punggung Awan, seperti ubi hangat di tangannya. Terdengar siulan dari mulut lelaki itu. Maya memperhatikan, tampilan suaminya lebih mirip tukang kayu daripada arsitek.

“Kopinya di meja, Pak tukang,” kelakar Maya kepada suaminya.

  “Terima kasih, Bu. Gaji sudah disiapkan belum?” canda Awan sembari menoleh ke arah istrinya saat meletakkan cangkir dan sepiring ubi madu hangat di meja teras.

Daun-daun alpukat melayang dan jatuh pelan di halaman. Segi berlarian mengejar kupu-kupu kuning terbang rendah. Milon menyalak mengikuti gerak Segi.

Bagi Maya, kedatangan keluarga adiknya dari Jakarta, seperti persiapan shooting film. Memastikan latar tempat dan segala properti siap untuk mendukung setiap adegan. Tangannya mengayunkan sapu membersihkan sebaran debu, bulu anjing, dan rambut. Embusan angin menerbangkan kotoran yang telah terkumpul. Pekerjaan remeh itu menjadi terasa begitu berat. Masih ada beberapa pekerjaan rumah lain yang harus diselesaikan. Ayunan sapu dipercepat, namun bulu-bulu semakin menyebar. Napasnya memburu. Milon bergerak mengelilinginya, menambah kejengkelannya. Dia mengangkat anjing cokelat itu dan memasukkan ke kandang.

“Diam!” kata Maya sambil menunjuk Milon yang terus bergerak di kandangnya. Anjing kecil itu segera terdiam dan meringkuk. Menuruti perintah Maya.

Dia melangkah ke arah suaminya yang masih berkutat dengan ayunan.

“Nanti kamu terusin, Mas? Langit-langit juga banyak sawangan. Aku sudah capek,” rengeknya kepada suaminya di depan pintu.

Awan mengangguk, menarik napas panjang sembari mengambil ampelas. Dengan penuh ketelitian, matanya menyusuri setiap senti sudut-sudutnya. Meraba lembut semua bagian papan, memastikan tidak ada serpihan kayu akan melukai ponakannya. Terdapat empat lubang pada bagian pinggir dudukan kayu, masing-masing dua di sisi kanan dan kiri, sebagai tempat untuk mengaitkan tambang.

Pandangan beralih ke pohon alpukat, mencari tempat untuk menalikan tambang penggantung papan ayunan. Kepalanya mengangguk-angguk dengan tatapan tajam. Dia menuju ke pohon itu dengan menenteng tambang dan kursi kayu. Tambang telah dikaitkan di dahan. Segera ditariknya kuat-kuat ke bawah. Ujung tambang bagian bawah dimasukkannya ke lubang papan. Simpul telah diikat dengan erat. Papan ayunan menggantung dengan jarak empat puluh senti dari tanah. Awan meletakkan pantatnya di ayunan itu. Dahan cukup kuat menahan beban laki-laki itu. Dia segera berdiri. Tangannya bertepuk membersihkan debu kayu yang menempel. Segera duduk di teras dengan secangkir kopi di tangan, memandang lama ayunan itu. Segi menggonggong ke arah Awan. Dia memahami kepuasan hati lelaki itu, menikmati proyek yang sudah rampung.

Maya mengarahkan langkah ke kamar yang akan dipakai keluarga adiknya, setelah beberapa teguk air membasahi kerongkongannya. Di ranjang, kotak-kotak mainan yang mereka beli beberapa hari lalu masih menumpuk. Dia memindahkan mainan-mainan ke meja kayu di bawah jendela. Pintu lemari menarik perhatiannya. Di dalamnya tersimpan baju baru untuk anak-anak. Lemari dibuka, tangannya mengambil tumpukan baju, dan dibawanya ke ranjang. Duduk di bibir ranjang, dia membuka lipatan baju. Mengangkat dan membentangkan pakaian kecil dengan warna merah muda mencolok. Dipandangnya dengan mata berbinar. Kemudian dia menggelar di pahanya. Mengelus permukaan gambar di bagian depan kaos itu, sembari membayangkan bagaimana kegembiraan yang terpancar di wajah Anna ketika memegang pakaian-pakaian baru itu. Dan tangan kecilnya akan membuka kotak demi kotak mainan, mengeluarkan isinya, dan benda-benda itu akan tersebar memenuhi ruang keluarga.

Aku sudah tidak sabar mendengar teriakan dan tangisan anak kecil di rumah ini, batinnya dengan helaan napas panjang. Dia tiba-tiba tersadar, apa yang dilakukan, mirip dengan salah satu adegan di dalam film karya mahasiswanya yang membuat matanya sembab. Senyum tipis mengiringi tangannya melipat baju-baju kecil itu. Tumpukan baju sudah tertata kembali dengan rapi di lemari. Dia memandang ke seluruh ruangan, sebelum menutupnya agar Segi dan Milon tidak memasuki ruangan itu.

Di tengah-tengah istirahat, Awan teringat perkataan istrinya. Segera dia bangkit melanjutkan pekerjaan istrinya. Dia menyusuri lantai dengan sapu. Digiringnya dengan sabar kumpulan kotoran ke depan pintu. Dia memandang garis-garis nat lantai. Ingatannya meluncur kepada proses penimbangan tarikan benang. Dia sempat meminta tukang untuk mengulangi beberapa kali pengecekan dengan selang timbang, dan menarik meteran untuk memastikan lantainya rata dengan nat lurus. Namun dengan ketelitiannya, dia masih kecolongan. Pemasangan keramik pada dinding kamar mandi, terdapat sebuah motif terbalik. Oleh karena sudah tidak ada sisa keramik lagi, dia melonggarkan hatinya untuk menerima cacat itu. Matanya terasa sakit setiap kali masuk ke ruangan itu.

Semua ruangan sudah bersih. Kilap lantai sekilau dadanya yang selalu berkeringat deras ketika mengerjakan aktivitas fisik. Sesekali diusapnya dengan kaos yang tersampir di bahu. Ada sedikit penyesalan menyembul di benaknya, kenapa dia menyetujui istrinya untuk memelihara anjing. Bulu-bulu menjadi bertambah lengket ketika sedang dipel. Dan sebarannya sampai ke seluruh bagian ruangannya. Keberadaan anjing Segi dan Milon sering kali membuat tamunya enggan untuk sekadar menapakkan kaki di lantai. Dia harus pergi ke tempat lain jika ingin membahas pekerjaan. Namun, terbersit rasa senang di antara penyesalan. Dengan begitu tidak banyak orang datang ke rumahnya, sehingga dia bisa tenang menikmati waktu di rumah tanpa gangguan.

Bau bawang menyeruak, ketika Awan membaui telapak tangan setelah mengusap ketiaknya. “Ah. Sedap.”

Lihat selengkapnya