Handuk kecil basah ditaruh di dahi Maya, sembari Awan memandang kepala istrinya. Isi kepala itu lebih keras dari batu-batu kali yang digunakan sebagai pondasi rumah. Sekali, dua kali hantaman bodem, benda keras itu akan terbelah. Sudah berulang kali dia membujuk untuk periksa ke dokter, tapi istrinya selalu menolak. Jika dia terus memaksa, mata perempuan itu akan melotot. Antasida sudah tidak mampu mengobati sakit perutnya. Sudah dua hari Maya berbaring di ranjang. Dia semakin khawatir dengan kondisi istrinya. Wajahnya semakin pucat dan kulitnya mengering. Hanya bubur dengan kuah kuning masuk ke perutnya dan sedikit air putih. Suhu tubuhnya naik, ketika malam menjelang, dan baru turun menjelang fajar. Beberapa kali terdengar, dia mengigau memanggil ibunya. Awan berusaha terus terjaga, meskipun sesekali matanya terpejam dan terbangun ketika istrinya meminta memijit kakinya. Segala perhatian dicurahkan kepada istrinya. Kelopak matanya menggantung dan rambut acak-acakan. Pekerjaan-pekerjaan studio tidak tersentuh.
Maya melirik wajah suaminya yang tertidur di sampingnya. Hatinya berontak atas kondisinya yang terlihat lemah. Perhatian suaminya terkadang terasa berisik di telinganya. Juga dengkurannya menambah pusing kepala, membuat susah tidur. Dia ingin suaminya menjauh, tapi dia resah jika Awan tidak di sampingnya. Dia hanya butuh istirahat dan ketenangan. Dan pasti akan segera sembuh. Dia hanya butuh ditemani, tidak lebih dari itu. Gulungan rol film menampilkan kenangan-kenangan masa kecil, terus berputar di dalam tidurnya. Sosok orangtuanya selalu hadir dalam tayangan itu. Hal itu, membuatnya merasa tetap terjaga sepanjang malam. Ketika matanya dibuka, dunia berputar begitu hebat, sehingga membuatnya ingin muntah. Kedua kakinya terasa pegal dan linu. Tulang seperti mau lepas. Dia juga bingung, perutnya sudah terasa penuh ketika baru dua-tiga sendok masuk ke mulutnya. Dia ingin segera sembuh. Meski hanya berbaring saja, badannya terasa semakin berat. Lelah.
Milon dan Segi hanya mondar-mandir di depan jendela, melihat Maya terbaring berselimut tebal di ranjang. Rupanya mereka sudah rindu dengan belaian ‘ibunya’.
Hari ketiga, perempuan itu sudah memperlihatkan perkembangan kondisi yang lebih baik. Bagi Awan, pemandangan itu terasa seperti melihat es teh dalam kantung plastik ketika mengawasi proyek di bawah terik matahari. Istrinya sudah dapat tidur pulas sepanjang malam sampai pagi ini. Namun, masih terselip selembar goresan kecemasan. Napasnya mulai memburu. Dia mendapati tubuh Maya seperti membeku dalam kepulasan tidurnya. Tidak bergerak. Tidak juga terlihat ada getaran di dadanya. Dia memperhatikan kembali dengan tekun, menyusur dari ujung kaki sampai ubun-ubun istrinya. Pikiran buruknya seketika memenuhi tempurung kepalanya. Wajahnya didekatkan pada hidung istrinya untuk memastikan masih bernapas. Tepat ketika Awan mendekat ke muka Maya, mata istrinya terbuka. Mereka berdua terhenyak.
“Kamu ngapain to, Mas?” ucap Maya serak sembari menarik kepalanya.
Awan menjawab dengan senyum. Kerutan di dahinya sudah mengendur bersamaan napas panjang keluar dari hidungnya. Syukurlah. Masih hidup, katanya dalam hati.
“Aku mau ambil minum dulu,” jawab Awan mata berbinar.
Bel pagar berdenting ketika Awan sedang membasuh mukanya. Dia bersiap membelikan bubur untuk sarapan Maya. Gorden jendela ruang keluarga dibukanya. Di luar pagar terlihat ibu Maya berdiri memandang ke arah teras. Awan segera membuka pintu dan berjalan cepat untuk membuka kunci gerbang.
“Kok tidak kasih kabar dulu, Ma?” sambut Awan dengan takzim, setelah mencium tangan mertuanya. Segera dia menjinjing buah tangan dari mertua perempuan.
“Nggak papa. Penting sudah sampai dengan selamat,” jawab mertuanya. “Maya di mana?” tanyanya.
“Masih tidur. Sudah tiga hari ini sakit. Tapi sudah mau sembuh.”
“Makanya. Perasaanku kok nggak enak.”
Mereka berdua melangkah ke dalam rumah. Ibunya Maya mengedar pandang ke seluruh sudut ruangan. Daun-daun berserakan sampai di teras. Kaos kotor tersampir di sandaran sofa. Helai rambut rontok bercampur debu dan bulu anjing tersebar di lantai.
Tatapan mata mertuanya seperti klien yang sedang mengecek hasil akhir bangunan. Awan tidak sempat membersihkan rumahnya, tersebab istrinya sedang sakit. Dia menjadi canggung di hadapan perempuan itu.
Dia melihat kaki mertuanya menjinjit ketika menginjak lantai rumahnya. Rumah terbuka itu akan cepat kotor jika Awan dan Maya tidak rajin membersihkan setiap hari. Oleh karena itu juga Maya sering menggerutuinya melihat kondisi rumah. “Maaf, Ma. Rumahnya kotor. Pakai sandal ini dulu,” kata Awan.
Awan mengenal mertuanya sebagai orang paling rajin yang pernah ditemuinya. Rumah mertuanya selalu rapi dan bersih. Tidak boleh ada setitik debu yang menempel di perabot rumah. Semua dibersihkannya sendiri sejak dini hari. Dia masih ingat ketika masih tinggal di rumah mertuanya di tahun awal pernikahan. Di tengah asyik bercinta dengan istrinya, terdengar suara gaduh dari bak cuci dapur, mengganggu waktu intimnya. Mertuanya memulai pekerjaan rumah tangga di dapur. Dia tidak sempat bersih-bersih setelah merampungkan pekerjaan lembur di ranjang. Dia malu untuk melangkah ke kamar mandi yang berada di ruang dapur. Awan tersenyum kecil mengingat kejadian itu.
Segi dan Milon menyalak-nyalak mengikuti mertua Awan yang melangkah memasuki kamar tuannya. Awan segera memasukkan mereka ke kandang. Kemudian melangkah ke bak cuci. Tangannya bergerak cepat mencuci tumpukan peralatan makan.
Ibu Maya masuk ke kamar. Duduk di samping anaknya. Tangannya memegang dahi dan segera mencium pipi anak sulungnya. “Sudah sarapan, Nduk?” kata ibunya.
“Belum. Sebentar lagi Mas Awan beli bubur di depan, Ma.”
Kedua perempuan itu bercakap-cakap tentang penyakit Maya, tentang kegiatan ibunya yang sibuk dengan teman-teman pensiunan, tentang adik perempuannya yang belum segera menikah, dan tentang apa saja.