Rumah Ungu

Kesit H. setyadji
Chapter #15

Kamar Sunyi

Tahun ini, tahun kelima di hari yang sama ketika mereka pertama kali tidur di ranjang kamarnya, di rumah ungu. Dua jam lalu, sebelum mereka sama-sama terjaga, tepat di pergantian malam, Awan memberi kejutan ulang tahun kepada istrinya. Kue tar lapis krim putih, bersih tanpa hiasan gambar dan tulisan. Hanya sebuah lilin ungu kecil berdiri di kue itu. Dia sengaja tidak memasang lilin angka empat dan lima, karena dia sudah sangat paham bahwa istrinya sangat sensitif perkara angka usia. Dia membangunkan istrinya yang sudah tertidur lelap. Di saku celananya, ponsel memutar lagu selamat ulang tahun memecah kesunyian kamar tidur. Ritual perayaan itu selalu mereka lakukan setiap tahun.

Maya terbangun. Matanya belum terbuka sepenuhnya. Dengan setengah sadar, dia menggerakkan badannya, duduk di tepi ranjang. Maya memejamkan mata. Telapak tangan mengatup di dada, setelah membuat tanda salib, dan berdoa sebentar. Lalu membuka mata dan segera meniup api lilin kecil. Jari telunjuknya mencolek krim putih. Mengoleskan di bibirnya. Lekas dia menengadah ke arah Awan. Suaminya menyambut bibir monyongnya. Melumat bibir bergincu krim kue dengan penuh sayang. Mereka berpelukan beberapa menit.

Jam dinding menunjukkan pukul dua. Detak berulang-ulang lirih mengisi kesunyian kamar di dini hari. Maya masih belum bisa memejamkan mata. Jantungnya berpacu dengan suara itu, terasa seperti kala dia berkejaran dengan waktu untuk mengirimkan jurnal kajian sinematografi ke sebuah seminar internasional ketika mendekati batas pengumpulan. Keringat dingin membasahi punggungnya. Senyum dirinya bersanding Awan dalam foto pernikahan yang terpampang di tembok semakin menambah kegetirannya. Senyum itu menyimpan asa menyambut babak baru dalam hidupnya.

Mata Maya berkaca-kaca. Beberapa hari terakhir mendekati hari kelahiran, dia menyadari kesempatan memiliki anak semakin menipis dengan bertambahnya usia. Kenyataan ketiadaan tawa dan tangis bocah atau coretan-coretan di dinding, harus dihadapinya. Di usianya sekarang, dia akan menjalani perjalanan itu hanya berdua saja dengan suaminya entah sampai kapan. Ketakutan terbesarnya adalah menjalani kemonotonan hidup, menunggu jatah usia habis bersama laki-laki yang susah untuk diatur dan ceroboh. Namun beberapa ingatan akan kekonyolan suaminya, pelan-pelan mengubah suasana hatinya. Pagi tadi, Awan mondar-mandir mencari kacamata yang ditaruhnya di rambutnya. Dia membiarkan laki-laki itu kebingungan beberapa saat. Setelah puas melihat polah Awan, baru dia memberitahu letak kacamata. Matanya berbinar-binar. Senyum terlihat mewarnai wajahnya.

Maya teringat perkataan Romo Tri, ketika dia bersama Awan, masih berstatus calon suaminya waktu itu, menghadap sebelum dilaksanakan akad nikah. Dia masih terngiang-ngiang dengan jawaban calon suaminya yang terdengar lucu. Suaminya berlagak sok filosofis.

“Jika nanti Tuhan tidak memberi karunia anak, apa yang akan kalian lakukan?”, kata Romo Tri waktu itu kepada Awan.

“Bagi saya, tujuan menikah adalah mencari pendamping menjalani hidup bersama sampai kulit keriput, rambut memutih, gigi ompong, dan punggung bungkuk berjalan dengan tongkat di tangan. Persoalan anak, saya anggap sebagai bonus saja, Mo,” jawab Awan menatap Maya.

“Kalau kamu, May?” tanya Romo Tri kepada Maya.

“Mungkin adopsi saja, Mo,” jawab Maya. Kalimat itu terlintas begitu saja di pikirannya. Dia selalu menaruh keyakinan pasti akan memiliki buah hati.

Awan masih terjaga di samping Maya. Memandang istrinya menatap foto dengan termenung. “Mikir apa, May?” tanya Awan.

Lihat selengkapnya