Hujan kemarin malam, masih menyisakan tumpukan daun dan dahan yang dihempas angin di sudut halaman depan, setelah beberapa jam Maya berpamitan ke Jakarta bersama Clara mendampingi studi banding mahasiswanya. Pecahan genteng jatuh, juga tetap berserakan di bawah teritis. Halaman yang sebelumnya rindang, terasa lebih terang. Atap bagian teritis masih bolong-bolong. Awan belum menutup kembali dengan genteng baru, karena cadangannya sudah habis di rumahnya. Seharian, dia membersihkan rumah. Dia tidak ingin mendengar kicau istrinya melihat kondisi rumah berantakan.
Debu-debu melekat di lantai yang tidak cukup hanya disapu saja. Dia tidak ingat, terakhir kali dia mengepel seluruh ruangan, terutama kamar kedua yang bersebelahan dengan ruang keluarga. Kamar yang sedianya dipersiapkan untuk anaknya. Sampai sekarang masih tetap kosong. Beberapa kali kamar itu dipakai orangtua atau saudara menginap. Ingatannya kembali ketika dia sedang merancang rumah. Jika dulu dia mengikuti kata istrinya, akan ada dua ruang kosong. Satu ruang saja, baginya sudah terlalu banyak. Awan menutup pintu kamar itu, setelah melihat ke langit-langit, memastikan sawang-sawang sudah tidak bergelantungan.
Pandangannya berpindah ke seluruh perabot di ruang keluarga penuh corak ungu. Meski Awan sedang sendiri, kehadiran istrinya selalu terasa melalui setiap perabot dan pernak-pernik yang berada di ruangan. Perihal itu semakin memupuk kerinduannya. Setiap benda di ruangan itu membawa kisah-kisahnya sendiri. Dia mengambil salib ungu yang berdebu tergantung di dinding ungu, di atas televisi, benda yang dibeli istrinya ketika berlibur ke Filipina. Hati kecilnya iri dengan keberanian istrinya untuk bepergian di negara lain.
Awan membersihkan patung Yesus yang terpaku di salib sampai ke lekukan-lekukanĀ kecil. Awan begitu meneladani sosok itu, sampai dengan perihal memanjangkan rambut. Dipandangi dengan khusyuk patung yang sudah bersih. Pancaran kilau kekuningan masuk ke lensa matanya. Sebenarnya, doaku itu, Kamu dengar apa nggak? batinnya.
Ruang tunggu poli kandungan tidak begitu ramai pagi ini. Maya duduk di kursi tunggu ditemani Clara. Kakinya sedikit gemetar. Ruang itu didatanginya kembali, tetapi bukan untuk program hamil. Dia datang untuk memastikan skenario hidupnya akan berjalan ke arah mana.
Hari ini, Maya menjalani detik demi detik terasa sangat lama. Rentetan pemeriksaan yang melelahkan telah dilakukannya, mulai dari Tes Pap untuk mengambil contoh sel sampai pada tahapan Biopsi Serviks yang mengambil sedikit jaringan dari leher rahimnya untuk menentukan penyakit itu. Maya selalu didampingi Clara dalam setiap tahapan. Dia juga selalu disemangati tanpa henti. Selain itu, Maya selalu menumpahkan segala tangis dan keluh kesahnya kepada satu-satunya teman yang dia percayai. Bagi Maya, Clara menjadi jelmaan Maria.
Perkataan dokter tentang kemungkinan apa yang akan dialaminya masih melekat di isi kepalanya ketika mengambil sampel dari rahimnya. Dia menutup rapat telinga akan kabar buruk yang didengarnya ketika hasil laboratorium keluar. Dia mempertanyakan nasib buruk yang terus menghinggapinya.
Malam kedua, Awan hanya ditemani Segi dan Milon. Badannya sangat lelah. Ada sedikit nyeri punggung, tersebab salah posisi ketika mengangkat sofa tadi siang. Dia selonjoran di kursi yang sudah bersih dan harum, setelah pekerjaan itu selesai. Awan mengetik pesan kepada istrinya. Mereka saling berbalasan pesan.
Segi dan Milon sudah tidur di kandang. Tadi aku memberinya bonus dua kepala ayam, pesan Awan kepada istrinya.
Pasti senang sekali bocah-bocah itu, jawab Maya
Pinggangku nyeri. Tadi mengangkat sofa. Mungkin salah urat.
Sudah tua. Jangan macam-macam. Ada Hotcream di laci meja TV.
Iya. Nanti aja. Besok jam berapa sampai Balapan, May?
Awan masih menatap ponselnya beberapa saat, tetapi tidakĀ ada jawaban dari istrinya. Pikiran positifnya mengatakan, mungkin istrinya capai setelah seharian menjalani kegiatan, lalu tidur. Sementara pikiran negatifnya mengatakan, mungkin juga Maya sedang berpesta di klub malam bersama teman dosen dan mahasiswanya. Terus mabuk berat sampai tak sadarkan diri. Dibawa ke kamar hotel. Bangsat! Pikirannya kembali keruh bersamaan ponsel yang mati. Dia lupa mengisi dayanya. Awan beranjak ke meja dekat stopkontak, memasukkan ujung kabel ke lubang pengisi daya. Dia kembali berbaring di sofa. Dia sudah sangat lelah dan mengantuk, karena pekerjaan pembersihan rumah seharian. Tidak lama kemudian, dengkuran sudah mengisi kesunyian ruangan itu.