“Tiga kuntum mawar ungu sedang mekar. Cantik sekali. Kamu mau lihat, May?” tanya Awan sembari memasukkan kaus kaki ke telapak istrinya, setelah dia menyeka dengan air hangat, membaluri minyak kayu putih, mengenakan popok dewasa, memakaikan baju tebal. Dan setelah memasukkan kancing ke lubang terakhir di kardigan pemberian ibunya Maya. Terakhir dia memasangkan tudung rajut untuk menghangatkan kepala, sebelum membopong tubuh istrinya ke halaman tengah. Liturgi itu mereka jalani setiap pagi dan sore.
Maya menoleh ke arah suaminya. Mata sayu itu masih sama persis waktu dia terbangun di ranjang pengantin, ketika pertama kali didapati laki-laki itu berbaring memandangnya tanpa berkedip dengan senyum manis masih menempel hingga menit ini. Maya percaya ketulusan laki-laki itu. Matanya berlinang, bukan kepada suaminya tetapi melihat dirinya dalam kondisi yang paling dibenci semua perempuan. Maya segera mengalungkan tangannya di pundak Awan yang semakin mengencang dan melengkung. Dia merasakan tubuhnya semakin melemah.
Awan membopong Maya ke halaman tengah. Jejak langkahnya merebahkan rerumputan, garis lurus di lembar sketsa. Di sana sudah tersedia kursi bambu panjang bersandaran miring dengan alas busa. Tempat yang dulu dipakainya untuk menikmati malam bertaburan bintang di musim kemarau, seperti bulan ini, untuk sejenak melepas kepenatan pekerjaan dengan kepulan asap dari sigaret. Memandang masa depan dan menoleh kenangan.
Awan membangun fondasi hidup dengan batu-batu kekhawatiran. Secara tidak sadar, hal itu telah membuatnya siap untuk menghadapi segala kemungkinan buruk yang akan terjadi. Seperti hari ini, dia merawat Maya yang tak berdaya. Merawat keluarga kecil yang tidak terdengar rengek anak-anak meminta mainan, meminta diceboki, meminta jajanan aneh, meminta disuapi, dan meminta digaruk punggungnya. Tetapi, dia menghadapi perempuan dewasa dengan permintaan seperti anak kecil.
Maya sudah duduk bersandar di kursi bambu. Tangannya menggerakkan ponsel, mengarahkan kamera ke segala sudut. Merekam langit biru dengan arakan awan, serupa gumpalan kapas putih seperti suaminya telah mewarnai keunguan hidupnya. Merekam mekar kembang mawar yang mahkotanya berguguran, kuning kemboja berserakan cantik di rerumputan, Segi dan Milon berebutan tulang. Merekam patung Maria membisu, meski doa-doa sudah dideras kepadanya. Merekam suaminya sedang menyiapkan sarapan, dan terakhir pada wajahnya yang lebih mirip bapaknya daripada ibunya, bulat dengan kulit kuning, kelopak mata besar, hidung kecil sedikit pesek, dan alis tebal.
Maya mengusap bibirnya yang kering dan pecah-pecah, satu-satunya bagian wajah persis ibunya. Seminggu lalu orangtua satu-satunya itu, datang ke rumah ungu. Hari itu, menjadi momen paling hangat di antara mereka. Tidak ada adu mulut, jauh dari petuah-petuah, dan hanya tawa kecil mengisi kekosongan hatinya yang sedang berbalut sendu. Ibunya membawakan kardigan yang dikenakan saat ini. Kardigan dengan warna kesukaannya. Warna yang selalu menjadi perdebatan antara anak dan ibu itu.
Sementara itu Awan menyiapkan sarapan untuk istrinya. Semangkuk kecil tumbukan kentang hangat, sayuran itu dari orangtuanya yang datang beberapa hari lalu. Pasangan usia senja memandang Awan dengan nanar, melihat jalan kehidupan anak laki-lakinya seperti geronjal batuan di jalan-jalan desanya yang belum tersentuh aspal. Setiap kali dia menumbuk pada butir-butir kentang, ingatan-ingatan juga memukul kepalanya. Kerja keras orangtuanya bergelut dengan terik matahari di ladang. Cucuran keringat itu telah mengantarkannya ke bangku perkuliahan, namun belum bisa dibalasnya, meski hanya sepeser. Ingatan kepada rumah besar masa kecilnya yang beranjak reyot, dan hal paling menggores adalah ingatan kepada perkataan ibunya yang bermimpi sedang menggendong anaknya.
Awan melangkah mendekati Maya. Semangkuk kecil tumbukan kentang lembut, sebutir telur ayam kampung rebus, dan kuah kaldu sapi di telapak tangannya. Hanya makanan itu yang masih bisa diterima lidah istrinya. Dia sudah pernah mencoba memaksanya menyuapkan nasi putih, tapi makanan itu membuat istrinya muntah.
“Aku sudah nggak cantik lagi, Mas?” tanya Maya tanpa menoleh kepada suaminya. Matanya masih menatap ke layar ponsel. Jarinya menggeser foto-foto.
“Kalau nggak cantik, mana mungkin aku masih di sini,” jawab Awan dengan pandangan mata sayunya.
Mawar bergoyang pelan. Beberapa mahkotanya berjatuhan. Burung kutilang hinggap di bubungan atap. Cuit itu menggantikan suara Maya yang terdiam termenung entah sampai kapan cerewetnya akan lahir kembali. Angin pagi lembut berembus menyeka dahi Awan yang dipenuhi bulir keringat. Uap mengepul dari sendok yang dipegang Awan. Dia meniup makanan itu, sebelum suapan demi suapan masuk ke mulut Maya. Senyum lebar tergurat memandang kulit wajah istrinya yang berwarna. Pipinya sudah menyembul kembali, meskipun tidak seperti dulu sebelum sakit.
Mata Maya mengikuti kelopak ungu melayang-layang sebelum jatuh ke tanah bersamaan dengan giginya yang beradu pelan, menghancurkan makanan di mulutnya. Duri tanaman itu, dulu pernah melukai jari suaminya. Mawar itu dibelinya dari penjual perempuan tua yang kebetulan lewat di depan rumah kontrakan.
“Ini bukan sembarang kembang. Dia lambang keanggunan. Rawatlah dengan baik, Cah Ayu,” kata penjual itu dengan senyuman memperlihatkan giginya hanya tertinggal dua menancap di gusi.