Rumah Ungu

Kesit H. setyadji
Chapter #18

Rumah Ungu

Laptop terbuka penuh debu di meja makan. Awan memandang layar mati dengan tatapan kosong. Asap putih mengepul tanpa henti dari mulutnya seperti knalpot Vespanya. Asbak sudah tidak bisa menampung puntung-puntung rokok, berserakan sampai di lantai.

Hari ini, hari keempat belas kepergian Maya. Awan masih tergagap dalam menjalani kesendiriannya. Semenjak kepergian istrinya, ranjang di kamar ungu itu belum pernah disentuhnya. Dia memilih merebahkan tubuh di sofa, meskipun belum pernah dirasakannya benar-benar lelap sepanjang malam. Setiap ruang kosong yang dimasukinya, selalu memunculkan sosok Maya. Suara-suara ketukan lirih di malam hari terdengar seperti langkah sepatu istrinya. Pun dengan denting panci yang tersenggol tikus, membuatnya terbayang-bayang ketika istrinya sedang memasak.

Kejengkelan Awan kepada sifat Maya yang kekanak-kanakan dan keegoisan selama hidup bersama, berubah menjadi getir kerinduan. Dia semakin kedinginan dalam kesunyian. Mimpi masa tua yang akan dijalani berdua, saling merawat ketika sakit, kini harus dilaluinya sendiri di sisa hidup. Kehadiran rumah yang telah dia rencanakan dengan penuh kematangan, menjadi sia-sia tanpa istrinya di sampingnya. Tubuhnya terasa mengecil di antara dinding-dinding bangunan. Hampa.

Pagi ini, Awan menoleh ke meja dapur, peralatan masak menarik perhatiannya. Dia beringsut dari lamunan melangkah ke panci ungu yang tergantung di tembok. Ada bekas cacat di lengkungan pantat panci itu. Dia mengingat kecerobohannya. Panci itu terjatuh ketika menuang mi rebus. Tangannya tersengat bibir besi yang masih panas. Hal itu membuat istrinya melontarkan kemarahan secara bertubi-tubi kepadanya sepanjang hari. Cerewet itu, kini sudah membisu. Senyap.

Rumah ungu terlantar, meski masih ada penghuninya. Tanaman-tanaman tampak sudah tidak terawat, beberapa mengering, dan mati. Daun-daun berserakan menumpuk di halaman. Pun lantai penuh debu dan bulu-bulu yang tersebar membuat kaki enggan menginjak. Sementara di ember terlihat pakaian kotor menggunung, meluber ke lantai. Setiap sandaran kursi tidak lepas dari sampiran pakaian. Bak cuci dapur bertumpuk peralatan makan yang kotor. Bulu Segi dan Milon menggimbal, tulang-tulang iga menonjol, dan kutu-kutu menempel menghisap darahnya.

Seperti halnya dengan rumahnya, Awan juga terlihat semakin berantakan. Seakan-akan, dia sudah lupa caranya mandi dan menyisir rambut. Jambang dan kumisnya memanjang tak karuan. Kelopak matanya mencekung, dan pipi menirus. Kaus yang dipakainya sudah melekat sejak tiga hari yang lalu. Baju terakhir yang dikenakan istrinya. Tengik.

Toh, tidak akan ada yang mencerewetinya, katanya dalam hati.

Nuansa ungu yang mengisi setiap dinding, setiap meja, setiap lemari, dan setiap sudut halaman rumah perlahan-lahan terlihat semakin pekat di penglihatan Awan, seperti bibirnya yang menghitam. Permintaan istrinya yang terakhir menjadi sayatan di hatinya yang masih meninggalkan luka. Maya pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan. Perih.

Lihat selengkapnya