Nama gue Ivan Abana.
Tapi hampir nggak ada yang manggil gue Ivan.
Semua orang manggil gue Aban.
Mungkin karena "Ivan" terlalu keren buat muka gue.
Gue anak pertama dari dua bersaudara.
Adik gue namanya Ponky Arjuna.
Kalau gue dipanggil Aban, dia dipanggil Ajun.
Entah siapa yang pertama kali ngasih nama panggilan itu. Yang jelas sampai sekarang nempel terus.
Kalau lagi berantem di rumah, nyokap tinggal teriak,
"ABAAAN... AJUUUN...!"
Kalau udah begitu, kami berdua langsung saling tunjuk.
"Bukan aku, Bu!"
"Ih, Aban duluan!"
"Ajun duluan!"
Padahal belum tentu ada yang salah.
Kadang nyokap cuma nyuruh angkat jemuran.
Kadang nyuruh beli bawang.
Kadang... ya sekadar mastiin kami belum berubah jadi monyet.
Rumah kami memang begitu.
Nggak pernah benar-benar sepi.
Selalu ada suara.
Kalau bukan suara TV, ya suara panci.
Kalau bukan suara panci, ya suara Ajun yang teriak gara-gara kalah main game.
Kalau bukan suara Ajun...
Ya suara bokap.
"Ajun! Jangan main terus!"
Lima menit kemudian.
"Aban! Tolong lihat adikmu!"
Sepuluh menit kemudian.
"Ajun! Dengar nggak sih?!"
Rumah kami nggak besar.
Nggak kecil juga.
Ya... cukup buat empat orang hidup, ribut, ketawa, dan
saling nyalahin kalau remote TV hilang.
…
Bokap gue namanya Heru Herawan.
Nyokap gue Herti Susanti.
Kalau disuruh milih siapa yang paling galak di rumah...
Gue bakal jawab nyokap.
Tapi kalau disuruh milih siapa yang paling cerewet...
Ya tetap bokap.
Dikit-dikit ngingetin.
"Jangan lupa sarapan."
"Minum air putih."
"Helm dipakai."
"Kunci pagar."
"Matikan kipas."
Kadang gue mikir...
Bokap ini manusia apa alarm hidup?
…
Pagi itu juga begitu.