Kalau ada perlombaan siapa orang yang paling pagi bangun di rumah,
pialanya udah pasti milik bokap.
Belum ayam berkokok.
Belum matahari nongol.
Beliau udah sibuk di dapur.
Suara penggorengan sama aroma bawang tumis selalu jadi alarm alami rumah kami.
Sementara gue?
Masih pacaran sama guling.
Ajun?
Lebih parah.
Kalau dibangunin sebelum jam enam,
mukanya langsung kayak orang baru kehilangan warisan.
Sedangkan nyokap...
Beliau selalu jadi orang pertama yang siap berangkat kerja.
Nyokap gue, kerja di Kantor Bupati.
(eits, bukan pegawai golongan tinggi, hanya staff umum yang lagi merintis karier, cie..ciee..)
Dari Senin sampai Jumat, seragamnya selalu beda.
Kadang cokelat.
Kadang putih.
Kadang batik.
Yang nggak pernah berubah cuma satu.
Berangkatnya selalu buru-buru.
Pagi itu juga begitu.
Nyokap baru keluar kamar sambil ngerapiin rambut.
"Heru..."
"Iya?"
"Seragamku mana?"
"Udah di kursi."
"Sepatuku?"
"Udah disemir."
"Bekalku?"
"Di meja."
"Kopi?"
"Udah dingin."
Nyokap cuma geleng-geleng kepala.
"Ya ampun..."
Bokap ketawa.
"Kalau nunggu Ibu bangun baru bikin kopi, nanti Aban lulus kuliah."
"Lebay."
"Lah iya."
Gue yang baru keluar kamar cuma garuk-garuk kepala.
Pemandangan kayak gitu udah biasa.
Bahkan terlalu biasa.
Dari kecil, gue selalu lihat nyokap berangkat kerja.
Dan bokap...
Tetap di rumah.
Masak.
Nyuci.
Nyetrika.
Nganter gue sekolah.
Jemput lagi siang.