Eh...
Hampir lupa.
Sebelum cerita ini makin jauh ke mana-mana...
Kayaknya gue harus ngenalin dulu keluarga gue.
Biar nanti kalau ada yang bikin emosi, kalian nggak salah nyebut nama.
Tenang.
Keluarga gue bukan keluarga sultan.
Rumah kami juga bukan rumah yang punya kolam renang,
lift pribadi, atau garasi isinya mobil sport.
Kalau hujan gede, ember di rumah justru lebih sibuk daripada orang-orangnya.
Ya... kurang lebih beginilah kehidupan keluarga gue.
Kalau boleh jujur...
Sedikit mirip Keluarga Cemara.
Bedanya...
Kalau Keluarga Cemara bikin penonton nangis.
Keluarga gue lebih sering bikin tetangga nengok pagar.
Bukan karena berantem.
Tapi karena ributnya udah kayak pasar dadakan.
Kenalin...
Itu bokap gue…
Umurnya empat puluh tujuh tahun.
Lumayan masih muda...
Tergantung siapa yang ngelihat.
Kalau kata bokap sendiri...
Beliau masih masuk kategori pemuda.
Katanya umur cuma angka.
Yang penting semangatnya jangan pensiun.
Bukti paling nyata kalau bokap merasa masih muda...
Rambutnya.
Iya.
Mullet.
Tau kan potongan rambut mullet?
Depan rapi.
Belakang panjang.
Entah kenapa bokap suka banget sama model rambut begitu.
Katanya keren.
Kalau kata nyokap...
"Itu rambut apa ekor sapu?"
Bokap cuma ketawa.
"Namanya seni."
Nyokap langsung nyeletuk.
"Seni yang bikin salon bingung."
Gue sama Ajun?
Udah biasa.
Kadang malah suka becandain.
"Yah..."
"Hm?"
"Kalau belakangnya dipanjangin lagi sedikit, bisa sekalian buat ngibas nyamuk."
Plak!
Lap dapur langsung mendarat di pundak gue.
"Kurang ajar."
Rumah langsung ketawa.
Bokap emang begitu.
Orangnya susah marah.
Paling banter ya cuma lempar lap.
Itu pun pelan.
Kayak melempar dengan rasa sayang.
Selain hobi mempertahankan rambut mulletnya...
Bokap juga punya hobi yang menurut gue agak...
Aneh.
Masak.
Bukan...
Bukan sekadar masak.
Beliau bereksperimen.
Kalau dapur lagi sunyi...
Artinya aman.
Tapi kalau mulai terdengar suara...
TANG!
TING!
BRAK!
DUARRR!!
Nah...
Itu tandanya bokap lagi menciptakan menu baru.