Rumah Yang Dijaga Ayah

Marlon Anaka
Chapter #5

Hari Libur, Kepala Gue Ikut Rapat

Kadang...

Yang libur itu sekolah.

Bukan kepala.

Hari itu sekolah sekecamatan mendadak libur.

Bukan karena tanggal merah.

Bukan karena ada guru nikah.

Bukan juga karena murid-murid demo minta jam olahraga ditambah.

Katanya...

Guru-guru lagi dipanggil rapat di dinas pendidikan kabupaten

Jadi semua siswa diliburkan sehari.

Ajun langsung seneng setengah mati.

"YESS!"

"Bisa main bola!"

Gue cuma ngangguk.

Entah kenapa...

Sejak Bu Rina ngasih tugas tentang pekerjaan orang tua...

Kepala gue rasanya nggak pernah benar-benar tenang.

Jam tujuh pagi.

Biasanya gue udah duduk di kelas.

Sekarang...

Gue malah duduk di teras.

Sambil ngelihatin bokap nyapu halaman.

"Ih..."

Gue nguap.

"Pagi-pagi amat."

Bokap nengok.

"Lah."

"Katanya libur?"

"Iya."

"Ya makanya bantu nyapu."

Sial.

Salah ngomong.

Lima menit kemudian...

Sapu udah ada di tangan gue.

“Ajun…”

“Tadi sudah bnagun, tapi tidur lagi…”

“Dasar bocah…”

Belum selesai nyapu...

Bokap udah pindah kerjaan.

Sekarang nyiram tanaman.

Abis nyiram tanaman...

Beliau benerin keran yang netes.

Abis benerin keran...

Masuk dapur.

Gue ngikutin.

"Yah..."

"Hm?"

"Hari ini masak apa?"

Bokap senyum.

"Rahasia."

Nah.

Kalau bokap udah bilang "rahasia"...

Itu artinya beliau sendiri juga belum yakin masak apa.

Gue udah hafal.

Beliau buka kulkas.

Ngeluarin telur.

Terus ayam.

Terus tahu.

Terus keju.

Terus cokelat.

Gue langsung melongo.

"Yah..."

"Iya?"

"Itu mau masak apa?"

"Tunggu aja."

"Itu mau ayah campur semua?”

Beliau ngakak.

"Tenang."

"Ayah masih waras."

Belum juga sepuluh menit...

Suara dapur mulai konser.

Ting!

Tang!

Brak!

Duar!

Ajun yang baru bangun langsung keluar kamar sambil rambut acak-acakan.

"Bang..."

"Apa?"

Lihat selengkapnya