Rumah Yang Dijaga Ayah

Marlon Anaka
Chapter #6

Bokap Idola Emak-Emak Pasar

Kalau ada tempat yang paling gue malesin selain ruang BK...

Jawabannya cuma satu.

Pasar.

Buat gue...

Pasar itu panas.

Becek.

Bau ikan.

Bau ayam.

Bau bawang.

Bau terasi.

Pokoknya semua aroma di dunia kayak kumpul rapat di situ.

Makanya setiap hari Minggu...

Kalau bokap bilang,

"Ban..."

"Iya?"

"Temenin Ayah ke pasar yuk."

Jawaban gue selalu sama.

"Nggak."

Sayangnya...

Jawaban gue nggak pernah dianggap.

"Pakai sandal."

"Lima menit lagi berangkat."

"Lho..."

"Katanya gue nolak?"

"Penolakan ditolak."

Nah.

Kalau bokap udah ngomong begitu...

Artinya gue kalah.

Motor GL Pro mulai keluar gang.

Angin Minggu pagi lumayan adem.

Pasar cuma sekitar sepuluh menit dari rumah.

Belum sampai pintu masuk...

Tukang parkir udah senyum lebar.

"Wahhh..."

"Mas Heru!"

"Pagi Pak."

"Lama nggak kelihatan."

"Iya Pak."

"Lagi sibuk."

"Lho..."

"Bukannya tiap minggu ke sini?"

"Minggu kemarin belanjanya sore."

"Oh pantes."

Tukang parkir itu malah salaman sama bokap.

Gue cuma melongo.

Buset...

Sampai tukang parkir aja kenal.

Baru beberapa langkah masuk.

Suara emak-emak mulai bersahutan.

"Mas Heruuuu..."

"Pagi Bu."

"Mau bayam nggak?"

"Mau."

"Nih saya pilihin yang cantik."

Bokap ketawa.

"Sayurnya apa ibunya?"

Ibu penjual bayam langsung ngakak.

"Ya dua-duanya boleh."

Pedagang sebelah langsung nimbrung.

"Eh jangan genit."

"Itu pelanggan saya."

Pasar langsung rame ketawa.

Gue cuma garuk kepala.

Ini pasar...

Apa acara lawak?

Belum selesai.

Di lapak cabai.

"Mas Heru..."

"Cabai hari ini pedes lho."

"Wah bahaya."

"Lho kenapa?"

"Di rumah udah ada yang lebih pedes."

"Siapa?"

"Istri saya."

Satu lapak langsung meledak ketawa.

"Mas Heru bisa aja."

"Makanya awet nikah."

Bokap cuma nyengir.

Lihat selengkapnya