Kalau kata orang...
Masa muda itu penuh kenangan.
Kalau kata bokap...
Masa muda itu penuh kebodohan.
Bedanya...
Kalau orang lain nyesel.
Bokap malah ketawa setiap kali ngingetnya.
Hari itu...
Seperti biasa.
Bel pulang sekolah berbunyi.
Gue sama Ajun langsung keluar gerbang.
Di kejauhan...
Suara motor GL Pro udah terdengar.
Greeng... greeng...
Nggak perlu lihat orangnya.
Dari suaranya aja...
Gue udah tahu.
"Itu bokap."
Ajun langsung senyum.
"Tuh kan."
"Gue bilang juga."
Motor berhenti.
Bokap buka helm.
Rambut mulletnya langsung keluar ke mana-mana.
"Naik."
Gue duduk di tengah.
Ajun paling belakang.
Padahal badannya lebih gede daripada gue.
Kalau orang lain lihat...
Kayaknya gue yang adiknya.
Baru beberapa menit jalan...
Kami melewati sebuah warung.
Di depannya ada segerombolan anak muda.
Ada yang main gitar.
Ada yang nyanyi.
Ada yang ketawa keras.
Di meja mereka...
Berjejer botol-botol minuman.
Ajun nengok.
"Bang..."
"Itu lagi pesta ya?"
"Gue juga nggak tahu."
Gue tepuk pelan pundak bokap.
"Yah."
"Hm?"
"Mereka lagi minum apa?"
Bokap melirik sebentar.
"Minuman."
…
"Iya maksudnya..."
"Minuman keras?"
"Iya."
"Enak?"
"Nggak."
"Lho?"
"Kalau nggak enak..."
"Kok diminum?"
Bokap ketawa kecil.
"Entahlah."
"Dulu Ayah juga pernah."
Motor yang tadinya biasa aja...
Rasanya mendadak jadi hening.
Gue sama Ajun saling lihat.
"Hah?"
Ajun sampai maju sedikit.
"Ayah pernah mabuk?"
Bokap langsung geleng.
"Jangan lebay."
"Nggak mabuk."
"Cuma..."
"Hampir."
Gue langsung semangat.
"Wah..."
"Ceritain Yah."
Ajun ikut nimbrung.
"Iya."
"Pasti lucu."
Bokap ketawa.
"Lucu buat kalian."
"Malu buat Ayah."
"Nah..."
"Itu berarti wajib diceritain."
Angin sore terus menerpa wajah kami.
Sambil megang setang…
Bokap mulai bercerita.
"Dulu..."
"Waktu Ayah masih muda..."
"Ayah punya teman bule."
Ajun langsung nyeletuk.
"Bule?"
"Iya."
"Orang luar negeri?"
"Iya."
"Lho..."
"Kok Ayah bisa kenal?"
"Nanti."
"Ceritanya satu-satu."
Ajun langsung diem.
"Orangnya baik."