Rumah Yang Dijaga Ayah

Marlon Anaka
Chapter #9

Tamu yang Memanggil Nama Heru

Kalau dipikir-pikir...

Rumah gue memang jarang kedatangan tamu.

Kalau ada yang datang...

Paling tetangga.

Minjem tangga.

Minjem pompa air.

Atau...

Nitip cabe rawit karena lupa beli.

Maklum...

Rumah sederhana.

Bukan rumah pejabat.

Jadi tamunya juga sederhana.

Sore itu...

Gue lagi rebahan di ruang tamu.

Ajun lagi sibuk perang sama nyamuk.

Entah kenapa...

Nyamuk di rumah gue kayak punya dendam pribadi sama dia.

"Tepok!"

"Gagal."

"Tepok!"

"Gagal lagi."

"Bang..."

"Nyamuknya ninja."

"Gue rasa..."

"Nyamuknya ikut les silat."

Ajun melotot.

Tok... tok... tok...

Ada yang mengetuk pintu.

Gue buka.

Di depan rumah...

Berdiri tiga orang laki-laki.

Usianya mungkin sekitar lima puluhan.

Rapih.

Bersih.

Salah satunya pakai kemeja putih.

Yang satu lagi pakai polo hitam.

Dan...

Yang paling bikin gue melongo...

Mereka semua pakai jaket hitam dengan logo yang gue nggak ngerti.

Kalau disuruh nebak...

Jujur aja...

Penampilan mereka mirip Chef Juna.

Bukan...

Bukan yang lagi jualan cendol.

Maksud gue...

Chef Juna yang di TV itu.

Rapi.

Kalem.

Auranya mahal.

Salah satu dari mereka tersenyum.

"Permisi."

"Ini rumah Pak Heru?"

"Iya."

"Bapak ada?"

"Ada."

"Sebentar ya Pak."

Gue langsung jalan ke belakang rumah.

Bokap lagi jongkok.

Tangannya belepotan tanah.

Lagi sibuk mindahin bunga kembang kertas kesayangannya ke pot baru.

Katanya...

"Kasihan."

"Akarnya udah sempit."

Gue aja kadang bingung.

Bokap bisa ngobrol sama tanaman.

"Yah."

"Hm?"

"Ada yang nyari."

"Siapa?"

"Nggak tahu."

"Tiga orang."

"Bilangnya nyari Ayah."

Bokap berdiri.

Ngusap tangan pakai kain.

"Oke."

Begitu sampai ruang tamu...

Salah satu tamu langsung berdiri.

Lihat selengkapnya