Rumah Yang Dijaga Ayah

Marlon Anaka
Chapter #13

Bokap Selalu Punya Jawaban

Kalau dipikir-pikir sekarang...

Bokap gue memang aneh.

Bukan aneh yang bikin orang takut.

Lebih ke...

Aneh yang bikin orang garuk-garuk kepala.

Kadang...

Beliau ngomong santai.

Tapi orang yang diajak ngomong malah bingung sendiri.

Dan yang paling sering jadi korbannya...

Ya...

Orang-orang yang baru kenal bokap.

Gue jadi ingat satu kejadian.

Udah lama banget.

Waktu Ajun baru masuk kelas satu SD.

Kalau nggak salah...

Gue masih kelas 4 Sd

Sama sama SD tapi sekolahnya beda

Jadi waktu itu...

Setiap pengambilan rapor, bokap sekalian ngambil rapor gue sama rapor Ajun.

Lumayan.

Sekali jalan.

Dua sekolah kelar.

Bensin juga hemat.

Kalau kata bokap,

"Motor juga punya perasaan. Jangan disuruh bolak-balik kalau bisa sekali jalan."

Entah...

Logika dari mana.

Waktu itu...

Ajun memang susah banget disuruh belajar.

Kalau disuruh baca...

Lima menit.

Habis itu hilang.

Kalau disuruh nulis...

Pensilnya yang malah diputer-puter.

Tapi...

Kalau main game...

Waduh.

Lima jam juga betah.

Enam bulan pertama sekolah...

Bokap beberapa kali dipanggil wali kelas.

Katanya...

Ajun masih belum lancar baca sama nulis.

Bokap cuma bilang,

"Iya Bu."

Nggak pernah debat.

Nggak pernah marah.

Sampai...

Hari pembagian rapor.

Nah...

Di sinilah ceritanya mulai belok.

Gue ikut bokap ke sekolah Ajun.

Suasananya rame.

Orang tua duduk berjajar di depan kelas.

Satu per satu dipanggil wali kelas.

Begitu nama Ajun dipanggil...

Bokap berdiri.

Masuk ke kelas.

Gue ikut di belakang.

Duduk di bangku paling belakang.

Sekalian nunggu.

Wali kelas Ajun masih muda.

Kalau kata bokap...

"Guru anak kemarin sore."

Bukan karena jelek ngajarnya.

Katanya...

Karena mukanya masih imut.

Lihat selengkapnya