Kalau ada orang nanya…
"Gimana sih sifat bokap lo?"
Gue pasti jawab...
"Santai."
Kalau ditanya lagi.
"Pernah marah?"
Gue jawab lagi.
"Nggak pernah."
Karena selama enam belas tahun hidup bareng beliau...
Gue hampir nggak pernah lihat bokap marah.
Paling banter...
Kalau masakannya kegosongan.
Beliau cuma ngomong,
"Aduh.."
"Berarti hari ini kita makan rasa arang."
Habis itu ketawa sendiri.
Selesai.
Nggak pernah nyalahin siapa-siapa.
Makanya...
Waktu itu...
Gue iseng nanya ke nyokap.
Hari Minggu siang.
Nyokap lagi duduk di meja ruang tamu.
Di depannya bertumpuk map sama berkas kantor.
Katanya besok ada rapat.
Sedangkan gue...
Lagi selonjoran nonton kartun.
Ajun entah lagi main layangan atau main bola.
Pokoknya...
Kalau hari Minggu...
Anak itu susah dicari.
Bokap sendiri...
Lagi di halaman belakang.
Ngurus tanaman hias kesayangannya.
Kadang gue heran.
Beliau bisa ngobrol sama bunga lebih lama daripada ngobrol sama tetangga.
Tanpa ngalihin pandangan dari televisi...
Gue nyeletuk.
"Bu..."
"Hm?"
"Ayah pernah marah nggak sih?"
Nyokap berhenti membalik berkas.
Beliau menoleh ke arah gue.
Diam beberapa detik.
Lalu menghela napas pelan.
"Pernah."
Gue langsung duduk tegak.
"Hah?"
"Serius?"
"Iya."
"Lho..."
"Marah kenapa?"
Nyokap melirik ke arah pintu belakang.
Memastikan bokap masih sibuk.
Baru beliau mengecilkan suara.
"Jangan sampai ayahmu dengar ya."
"Loh..."
"Kenapa?"
"Nanti malu."
Gue langsung makin penasaran.
"Itu..."
"Kira-kira tiga bulan yang lalu."
"Waktu hari Minggu."
"Ibu sama ayah lagi jalan berdua."
"Naik GL Pro kesayangan ayah."
"Oh..."
"Yang motornya lebih kinclong daripada wajah Ajun?"
Nyokap ketawa kecil.
"Iya."
"Itu."
Nggak ada tujuan khusus.
Cuma muter-muter.
Cari angin.
Sekalian ngelihat orang.
Kalau kata Ayah,
"Motor itu juga perlu diajak jalan-jalan."
Di tengah perjalanan...
Ayah bertanya.
"Mah..."
"Iya?"
"Anak-anak dibawain apa ya?"