Entah kenapa...
Tangan gue masih gemetar.
Lemari itu masih terbuka.
Semua isi di dalamnya masih membuat kepala gue penuh pertanyaan.
Seragam chef.
Pisau-pisau dapur.
Puluhan piagam.
Album foto.
Buku resep.
Semuanya...
Seolah sedang bilang ke gue.
"Selama ini... kau belum benar-benar mengenal ayahmu."
Gue menarik napas panjang.
Pandangan gue kembali jatuh ke sebuah map cokelat yang sejak tadi gue lihat.
Warnanya sudah kusam.
Sudut-sudutnya mulai lecek.
Kelihatannya...
Map itu sering dibuka.
Pelan-pelan...
Gue mengambilnya.
Lumayan tebal.
Jantung gue makin nggak karuan.
"Maaf ya, Yah..."
Gue bergumam pelan.
"Bukan niat ngintip..."
"Gue cuma pengen tahu."
Pelan...
Gue membuka pengait map itu.
Cet...
Lembar pertama langsung terlihat.
Di bagian paling atas...
Tertulis besar.
SURAT PENGUNDURAN DIRI
Gue langsung mengernyit.
Pengunduran diri?
Berarti...
Ayah benar-benar berhenti kerja.
Bukan dipecat.
Bukan karena bangkrut.
Tapi...
Mengundurkan diri.
Namun...
Gue nggak melanjutkan membacanya.
Entah kenapa.
Gue takut.
Takut menemukan sesuatu yang selama ini nggak pernah gue tahu.
Pelan...
Surat itu gue letakkan kembali.
Di bawahnya...
Ada surat lain.
SURAT PENGALAMAN KERJA
Masih atas nama...
HERU HERAWAN.
Lengkap dengan tanda tangan.
Cap perusahaan.