Tangan gue masih menggenggam buku hitam itu.
Pelan...
Gue membalik halaman berikutnya.
Tulisan bokap masih sama.
Rapi.
Sederhana.
Tidak banyak coretan.
“Kalau kalian masih betah membaca sampai halaman ini...
“Berarti rasa penasaran kalian memang lebih kuat daripada rasa ngantuk.
“Bagus. Berarti sifat kepo kalian turunan ayah juga.
Gue refleks tertawa kecil.
"Halah..."
"Masih sempat-sempatnya bercanda."
Gue melanjutkan membaca.
“Dulu...
“Ayah sangat menikmati pekerjaan sebagai chef.
“Setiap pagi masuk dapur.
“Bertemu teman-teman.
“Belajar resep baru.
“Kadang dimarahin chef senior.
“Kadang juga dimarahin panci karena gosong.
“Ga apa apa…
“Namanya juga belajar.
Gue kembali tersenyum.
Persis.
Ini memang gaya bokap
“Semakin lama...
“Ayah semakin dipercaya. Jabatan naik….
“Tanggung jawab bertambah.
“Penghasilan juga ikut bertambah.
“Waktu itu...
“Ayah pikir...
“Hidup kita akan semakin mudah.
Halaman berikutnya.
Tulisan mulai berubah.
Lebih pelan.
Lebih tenang.
“Di waktu yang hampir bersamaan...
“Ibu juga mulai mendapatkan kepercayaan lebih besar di kantornya.
“Pekerjaannya semakin banyak.
“Tanggung jawabnya semakin besar.
“Kadang harus lembur.
“Kadang harus berangkat lebih pagi.
“Kadang pulangnya sudah malam.
“Ayah bangga.
“Sangat bangga.
“Karena ibu bekerja bukan untuk dirinya sendiri.
“Tetapi untuk keluarga kita.
Gue berhenti membaca sebentar.
Entah kenapa...
Dada gue mulai terasa sesak.
Gue membuka halaman berikutnya.
“Sampai suatu hari...
“Ayah pulang bekerja.
“Rumah sepi…
“Ibu masih di kantor.
“Aban tidur di sofa kamar tamu…
“Ajun masih dititipkan di rumah tetangga.
“Malam itu...
“Untuk pertama kalinya...
“Ayah merasa ada yang salah…
“Ayah bekerja keras...
“Ibu juga bekerja keras...
“Tapi...
“Rumah justru semakin sering kosong.
Tulisan bokap berhenti beberapa baris.
Seolah beliau ikut mengingat hari itu.
Lalu...
Beliau melanjutkan.
“Banyak orang berpikir...
“Rezeki keluarga adalah uang dan uang…
“Menurut ayah...
“Waktu juga rezeki…
“Anak-anak tidak akan mengingat...
“Berapa besar gaji ayahnya.
“Tetapi...
“Mereka akan selalu ingat...
“Siapa yang membukakan pintu...
“Saat mereka pulang sekolah.