Besok paginya...
Rumah kami tetap sama.
Tidak ada musik dramatis.
Tidak ada pelukan sambil nangis.
Tidak ada adegan saling minta maaf.
Semuanya...
Ya seperti biasa.
"AJUNNN…ABAAANNNN...!"
Suara ayah menggema dari dapur.
"Gorengan ayah udah mateng! Kalo telat makan, ayamnya yang kesel!"
Gue langsung bangun.
Ajun masih ngorok.
Selimutnya entah sudah muter ke mana.
Gue iseng nyenggol kakinya.
"Woy."
"Bangun."
Ajun cuma jawab,
"Lima menit lagi..."
Lima menit versi Ajun itu kadang sama kayak satu musim.
Begitu keluar kamar...
Ayah sudah berdiri di dapur.
Celemeknya miring.
Di pipinya ada tepung.
Entah kenapa...
Kalau lagi masak...
Tepung itu selalu berhasil nyasar ke wajah beliau.
Gue cuma senyum.
Biasanya aku bakal ngeledek.
Tapi pagi itu...
Gue cuma melihat beliau lebih lama dari biasanya.
Ayah nengok.
"Lho?"
"Ngapain lihatin ayah?"
Gue buru-buru geleng.
"Gapapa."
"Takut tepungnya berkembang biak aja."
Ayah ngakak.
"Kurang ajar."
Nyokap keluar kamar sambil ngerapihin rambut.
"Heru..."
"Iya?"
"Kopiku mana?"
"Di meja."
"Bekalku?"
"Udah."
"Helmku?"
"Udah digantung."
"Suamiku?"
"Masih asli."
Nyokap geleng-geleng kepala.
"Untung masih."
Gue sama Ajun ketawa.
Rumah kembali ramai.
Persis seperti biasanya.
Tidak lama kemudian...
GL Pro tua itu sudah hidup.
Breeeng...
Suara mesinnya masih khas.
Kadang batuk sedikit.
Kadang malah lebih semangat daripada yang bawa.