“Dira sayang Kak Nana. Semoga besok Kak Nana juga mulai sayang sama Dira.”
Setiap malam sebelum tidur, Dira selalu memanjatkan doa yang hampir sama. Harapan yang sederhana, tapi sampai saat ini belum terwujud juga. Sepertinya berharap Naga atau Peri sungguhan ada di dunia ini jauh lebih memungkinkan.
Dira selalu merasa Kak Nana tidak pernah menganggapnya ada. Kak Nana tidak mau bicara padanya. Bahkan cara Kak Nana menatapnya seakan menyimpan kebencian yang Dira tidak tahu kenapa. Dari dulu sekali, sejak Dira mulai mampu menyimpan ingatan dalam memori otaknya.
Orang-orang bilang, harta yang paling berharga adalah keluarga. Dira juga percaya itu. Sayangnya, Dira seperti bukan bagian dari keluarga di mata Kak Nana dan Ayah. Dira tidak pernah dipeluk Kak Nana. Ayah juga tidak pernah memeluk Dira. Di rumah ini, hanya Mama yang masih mau mengakui keberadaan Dira dan menganggapnya keluarga.
“Salah Dira apa ya?” Pertanyaan itu hampir selalu muncul setiap kali Dira menatap langit-langit kamarnya atau saat Kak Nana dan Ayah terang-terangan mengabaikannya.
Pertanyaan yang sampai sekarang belum Dira temukan jawabannya. Dira selalu merasa memiliki kesalahan yang tidak pernah disadari olehnya. Dia juga takut bertanya langsung pada Kak Nana maupun Ayah. Dia takut lebih terluka kalau mereka berdua mengaku memang tidak menyayanginya. Lebih baik dia pura-pura semua baik-baik saja dan menganggap Ayah dan Kak Nana terlalu sibuk untuk peduli padanya. Kak Nana sibuk menata masa depan, sedangkan Ayah sibuk mencari uang untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Pagi ini, sama seperti hari-hari biasanya, Dira sudah duduk di meja makan, bersiap menikmati sarapan. Di kursi sebelahnya hanya ada Mama. Mereka memang selalu sarapan berdua saja. Apalagi hari ini Ayah berangkat lebih pagi, katanya menghindari macet karena akan ada meeting penting di kantor.
“Sarapan dulu, Kak,” ujar Mama saat Kak Nana melewati ruang makan. Mama tidak pernah lupa menawarkan pada Kak Nana meski ujung-ujungnya selalu ditolak.
Kak Nana sudah mencangklong tas sekolahnya. Rambutnya yang hitam dan panjang dibiarkan tergerai. Poninya sebelah kanan dijepit dengan jepitan kecil bermotif bunga matahari.
Dira pelan-pelan melirik Kak Nana, ingin memuji penampilannya yang cantik sekali. Mereka saling bertatapan, lalu Kak Nana mendengkus dan langsung membuang muka. Dira spontan menunduk lagi, menatap sendu pada sepiring nasinya yang masih mengepulkan asap tipis. Pujiannya hanya disimpan dalam hati.
“Nggak usah,” timpal Kak Nana dengan nada ketus seperti biasa.
“Nanti kamu kelaparan loh.” Meski ditolak, Mama tetap berusaha membujuk dengan suaranya yang lembut penuh kasih.
“Ojolnya sudah sampai,” jawab Kak Nana sambil menatap laya ponsel, berbarengan dengan suara klakson motor yang terdengar dari luar pagar rumah. Biasanya Kak Nana berangkat sekolah diantar Ayah arena searah dengan kantornya.
Kak Nana lalu melengos pergi, tanpa perlu berpamitan pada Mama, apalagi Dira. Bibir bawah Dira menjulur, kedua pipinya nyaris menggembung. Dia tetap merasa sedih padahal ini bukan pertama kalinya Kak Nana menolak sarapan bersama. Mereka hampir tidak pernah duduk di meja makan yang sama. Pengecualian saat ada tamu atau makan di luar yang hanya dilakukan dalam beberapa kali selama hidup Dira.
“Mama,” panggil Dira lirih dan menatap Mama dengan mata berkaca-kaca. Rasanya ingin menangis.
“Iya, Sayang,” sahut Mama lembut.
Hanya Mama yang memanggilnya seperti itu. Mungkin benar, kasih sayang seorang ibu tidak ada tandingannya. Meski seluruh dunia berpaling, ibu tidak akan pernah meninggalkan anaknya. Ibu akan selalu ada bahkan saat dunia ini hancur berkeping-keping karena kejatuhan meteor.