Nana menghampiri Ayah yang sedang duduk di ruang tengah. Televisi dibiarkan menyala, menampilkan siaran berita terkini tentang rupiah yang terus melemah. Sementara itu, fokus Ayah tertuju pada layar ponsel di genggaman tangannya. Ayah memang selalu sibuk dengan pekerjaannya.
“Yah,” panggil Nana sambil duduk di sebelah kiri ayahnya.
Ayah langsung mengalihkan tatapan dari layar ponsel dan menatap Nana. “Ada apa?”
“Nana mau kuliah di luar kota. Bandung atau Semarang,” ucap Nana memulai obrolan. “Di Jogja juga boleh. Di mana saja asal bukan di sini.”
Ini tahun terakhir Nana di SMA. Dia sudah mempertimbangkan beberapa kampus untuk melanjutkan pendidikan. Dia sengaja mengecualikan kampus di sekitaran Jakarta karena memang ingin pergi sejauh mungkin.
Ayah menaruh ponsel di meja dan lebih fokus menatap Nana. “Jauh sekali. Nanti Nana tinggal sama siapa di sana?”
Nana menghela napas lirih. Dia tahu dari dulu Ayah selalu posesif pada dirinya. Meski Nana sudah besar, Ayah tetap memperlakukannya seperti bocah kecil yang harus selalu diawasi 24 jam. Pergi ke mana-mana harus memberi tahu lebih dulu dan tidak boleh pulang lebih dari jam delapan malam. Seumur hidupnya, Nana belum pernah menginap di rumah teman, apalagi camping seperti remaja yang lain. Teman lain boleh menginap di rumah mereka, tapi Nana tidak boleh tidur di rumah orang lain, kecuali di rumah kerabat dan Ayah juga ikut menginap bersamanya.
“Nana kan sudah besar, Yah. Bisa kos sama teman. Sendirian juga nggak masalah, kok,” timpal Nana, rasanya ingin hidup mandiri. Lebih tepatnya, dia ingin pindah dari rumah ini.
Berada satu rumah dengan sosok yang tidak disukai benar-benar membuat Nana muak. Dia sudah sering mengatakan itu pada Ayah. Ingin pindah. Sendiri atau berdua saja dengan Ayah.
“Siapa yang siapkan keperluan kamu di sana? Masa mau merepotkan teman kamu?” tanya Ayah lagi.
Nana berdecak sambil melipat kedua tangan di depan dada. Ayah benar-benar menganggapnya anak kecil yang belum bisa melakukan apa-apa dan harus selalu diurusi. Dia sudah tujuh belas tahun.
“Nana bisa urus diri sendiri, Yah. Lagian kan Nana nggak mungkin terus-terusan bergantung ke Ayah apalagi ke…” Nana tidak melanjutkan ucapannya.
Hening menguasai atmosfer di ruangan itu selama beberapa saat.
“Ayah tahu Nana sudah besar, tapi hidup merantau sendirian itu rawan buat perempuan. Nggak semua teman juga bisa dipercaya,” ujar Ayah mengungakapkan kekhawatirannya.