Dira berniat ke kamarnya. Dia mengurungkan niat itu karena melihat Kak Nana dan Ayah duduk bersama di ruang tengah. Dira harus melewati mereka untuk menaiki tangga ke kamarnya di lantai dua. Anak lain mungkin bisa santai lewat begitu saja atau bergabung duduk sekalian. Toh dua orang yang sedang mengobrol itu anggota keluarga sendiri. Ayah dan saudari kandungnya. Namun, Dira berbeda. Dia merasa canggung sekali, bahkan untuk sekadar menyapa, apalagi berbaur dengan mereka.
Tadinya Dira tidak ingin menguping pembicaraan Ayah dan Kak Nana. Namun, dia memilih bersembunyi di balik dinding yang memisahkan ruang makan dan ruang tengah. Mama tidak di rumah, sepertinya sedang pergi ke minimarket membeli sesuatu.
Dira bisa saja menunggu di teras rumah, tapi dia tertarik mendengarkan saat Kak Nana mengutarakan niatnya kuliah di luar kota. Dia mendadak sedih membayangkan rumah ini ditinggal pergi salah satu penghuninya. Meski Kak Nana tidak menganggapnya ada, Dira tetap saja merasa kehilangan.
Ayah menahan Kak Nana, mungkin tidak tega membiarkan anak sulungnya itu tinggal sendirian di kota orang. Terasa sekali kekhawatiran Ayah. Dira jadi berandai-andai, saat nanti dirinya juga berpamitan kuliah di luar kota atau pergi dari rumah ini dengan suatu alasan, apa Ayah juga akan menahan dan mengkhawatirkannya?
“Nggak mungkin, sih. Ayah dan Kak Nana sepertinya lebih senang kalau aku nggak ada di sini,” pikir Dira, sedih juga memikirkan kemungkinan itu.
Dira kembali mendengarkan perdebatan kecil Ayah dan Kak Nana. Ayah masih membujuk Kak Nana untuk kuliah di Jakarta saja. Ayah benar juga, di Jakarta banyak kampus bagus. Kak Nana tidak perlu pergi jauh dan Ayah tetap bisa menjaganya.
“Ayah pasti lebih tahu alasan Nana ingin keluar dari rumah ini.”
Jantung Dira berdenyut nyeri mendengar ucapan Kak Nana. Meski Kak Nana tidak terang-terangan menyebutkan alasan, Dira merasa kalimat itu ditujukan padanya.
“Kak Nana pergi karena aku?” tebak Dira mengira-ngira.
Bisa jadi keberadaan Dira di rumah ini memang mengganggu kenyamanan Kak Nana. Itu alasan yang cukup kuat untuk Kak Nana mengabaikannya.
“Kenapa?” Dira bingung apa kesalahan yang telah dia lakukan sampai membuat Kak Nana sangat tidak menyukainya.
Kalau diingat-ingat, tidak pernah sekali pun Kak Nana menunjukkan perasaan sayang pada Dira. Padahal jelas-jelas mereka adalah kakak adik. Dira pernah mendengar cerita teman sebangkunya yang sering bertengkar atau berebut sesuatu dengan saudara perempuannya. Namun, mereka masih punya foto bersama yang terlihat akrab dan saling menyayangi. Dira melihat foto lucu itu dijadikan gantungan tas. Kadang di iri. Ingin juga memiliki foto bersama Kak Nana.
“Kalau kamu pergi, Ayah gimana? Ayah cuma punya kamu, Na.”
Ucapan Ayah semakin membuat jantung Dira seperti dipukul berkali-kali menggunakan mjolnir, mungkin sudah remuk sampai-sampai tidak jelas lagi apa yang dirasakannya. Sakit, nyeri, atau mati rasa. Dira tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya.
“Ayah cuma punya Kak Nana? Terus, aku apa?” Dira ingin menghampiri Ayah dan langsung menanyakan itu padanya, tapi tidak mungkin.
Dira lebih takut mendengar Ayah dan Kak Nana menolak kehadirannya secara langsung. Diabaikan oleh mereka rasanya jauh lebih baik daripada menerima fakta yang tidak dia inginkan.
Obrolan mereka berakhir setelah Kak Nana bersikeras tetap kuliah di luar kota, dengan atau tanpa persetujuan Ayah. Lalu terdengar suara langkah Kak Nana menaiki anak tangga dengan terentak-entak keras. Dira segera kabur dan bersembunyi di tempat lain agar tidak ketahuan Ayah sedang menguping.
Dira duduk memeluk lutut di pinggir kolam ikan. Dia menatap sendu pada pantulan bulan di air kolam. Ikan-ikan sepertinya sudah tidur di balik bebatuan yang ada dalam kolam itu. Mereka tidak tampak berenang ke sana kemari seperti saat siang hari.