Rumah yang Dira Rindu

Lovaerina
Chapter #4

Meja Sebelah

Di ruang tengah, ada beberapa pigura yang tertempel di dinding. Ukurannya beraneka macam, dari yang kecil, sedang, hingga besar. Foto pernikahan Ayah dan Mama berada di bingkai paling besar, dibuat hitam putih, tapi mereka tersenyum lebar sekali seolah sedang menunjukkan kebahagiaan tiada tara. Pigura lain berisi Mama menggendong Kak Nana yang masih bayi, di sampingnya ada Ayah, mereka juga terseyum. Lalu ada Mama memangku Kak Nana yang sepertinya sudah berusia enam atau tujuh tahun, senyuman mereka tak kalah lebar dari foto-foto lainnya.

Dira duduk di ujung anak tangga terbawah, memandangi foto-foto itu dengan perasaan campur aduk. Dari sekian banyak pigura yang terpajang, tidak ada satu pun foto dirinya. Bahkan Kak Nana juga sepertinya berhenti berfoto sejak usia dalam foto yag dipangku Mama.

“Apa masalahnya?” Dira penasaran.

Mama dan Kak Nana dalam foto-foto itu kelihatan akrab sekali dan saling menyayangi. Namun, sepanjang Dira bisa mengingat, Kak Nana selalu berusaha menjaga jarak meski Mama mencoba mendekat. Semacam ada kecanggungan antara Kak Nana dan Mama. Tidak seperti saat Kak Nana bersama Ayah yang tampak nyaman.

Ada yang tidak beres dengan keluarga ini. Namun, Dira tidak tahu apa. Dia juga tidak tahu harus bertanya pada siapa. Dia merasa seperti orang asing bagi Kak Nana dan Ayah, sedangkan Mama selalu membuatnya yakin tidak ada masalah sama sekali.

“Dira!”

Suara Mama menyentak lamuman Dira.

“Ikut Mama ke pasar yuk!” ajak Mama.

Dira mengangguk dan langsung bangkit. Ini hari Minggu, tidak ada yang bisa dia lakukan. Daripada bengong sendirian di rumah, ikut Mama ke pasar sepertinya menyenangkan.

Mama mengunci pintu dapur yang terhubung dengan garasi. Dira segera mengenakan sandal japit yang tersusun di rak samping pintu.

“Ayah pergi, Ma?” tanya Dira menyadari mobil ayahnya tidak ada.

“Iya, pergi sama Kak Nana,” timpal Mama.

Sama seperti Dira yang tidak pernah menjadi bagian hidup Ayah dan Kak Nana, Mama juga tampaknya dikecualikan oleh mereka. Mungkin karena Mama memilih menyayangi Dira, mereka jadi bersikap seperti itu.

“Ayo jalan!” Mama menggandeng tangan Dira.

Mereka lalu berjalan kaki menuju pasar. Kebetulan pasar tradisional yang sudah disulap lebih moderen sejak dua tahun lalu, jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Jadi hanya perlu beberapa menit saja untuk sampai di sana. Biasanya Mama baru naik becak saat pulang dari pasar dan membawa banyak belanjaan.

Setelah menyeberang jalan raya, mereka sampai di area pasar. Di bagian depan, berjejer ruko-ruko yang menjajakan aneka barang dagangan berbeda. Ada yang menjual perabot rumah tangga, alat tulis kantor, baju-baju, dan lain sebagainya.

Dira mengikuti langkah Mama yang menggandengnya menyusuri bagian samping kanan pasar. Wangi kue pancong beradu dengan serabi hangat menyerbu indera penciumannya. Hiruk pikuk menyapa telinga. Ada yang menawarkan dagangan. Ada yang mencari kebutuhan dan menawar harga. Aktivitas yang sangat umum di pusat transaksi jual beli seperti ini.

“Kita makan bubur ayam dulu, yuk!” ajak Mama, tetap menggandeng Dira.

Lihat selengkapnya