Rumah ini tak ubahnya bangunan yang mengurung paksa empat orang untuk tinggal bersama. Keluarga hanya sebatas formalitas. Airin menyadari itu sejak belasan tahun lalu. Dia bertahan dengan harapan semua akan berubah lebih baik seiring berjalannya waktu. Namun, mereka tetap menjadi asing.
Hal paling menyakitkan yang harus Airin saksikan setiap hari adalah pengabaian Arjuna dan Nana terhadap Dira. Dua orang itu seolah punya dunia sendiri yang tidak ada Dira di dalamnya. Dalam banyak kesempatan Airin ingin sekali menegur Arjuna dan Nana, tapi dia menahan diri karena merasa tidak berhak melakukannya. Ada batas yang tidak ingin dilewati.
Airin menyayangi Dira sepenuh hati. Namun, kasih sayang darinya saja tidak cukup. Dira butuh kepedulian dari ayah dan kakaknya. Entah bagaimana cara menyadarkan mereka berdua bahwa anak sekecil Dira tidak sepatutnya diperlakukan seperti itu. Dira tidak bersalah. Kehadirannya bukan musibah apalagi kejahatan. Dia adalah anugerah yang sangat berharga dan seharusnya dijaga.
Bagi Airin, tidak masalah jika keberadaannya di rumah ini tidak dianggap oleh Arjuna maupun Nana. Namun, mereka tidak seharusnya bersikap seperti itu juga pada Dira. Arjuna jelas sekali pilih kasih secara terang-terangan.
Belakangan ini Airin merasa Dira semakin murung sejak mendengar percakapan ayah dan kakaknya. Apalagi mereka benar-benar tidak pernah melibatkan Dira dalam hal apa pun. Arjuna juga selalu mengajak Nana ke mana-mana, tapi Dira ditinggalkan. Berpatiman dengannya saja tidak pernah.
Airin memasuki kamar yang ditempatinya bersama Arjuna. Pria itu baru saja akan berbaring.
“Mas, ada yang mau aku bicarakan,” ucap Airin setelah menutup pintu dengan rapat.
Airin tidak tahan lagi melihat Dira yang seharusnya tumbuh penuh kasih sayang, harus merasa seperti orang asing di keluarganya sendiri. Kali ini dia akan melewati batas yang selama ini dibuat entah oleh siapa.
Arjuna tidak jadi berbaring dan memilih duduk di tepian ranjang. “Silakan,” ucapnya sambil menatap Airin sekilas dan langsung mengalihkan pandangan.
Airin menarik napas dalam-dalam. Dia berpikir sejenak, memilih kata yang akan diucapkan. Dia harus hati-hati agar tidak membuat Arjuna tersinggung dan apa yang seharusnya diselesaikan dengan baik malah berakhir berantakan.
“Tolong bilang ke Nana untuk bersikap lebih baik pada Dira,” ungkap Airin. “Dira itu adiknya.”
Arjuna akhirnya kembali menatap Airin. Rahangnya sedikit menegang. “Saya rasa kita sudah sepakat untuk nggak saling mencampuri urusan masing-masing.”
Airin kembali menghela napas, lebih berat. “Dua belas tahun. Selama itu aku mengurus Dira. Selama itu juga kamu dan Nana nggak pernah peduli sama Dira. Bagaimana aku nggak ikut campur?”
Arjuna bungkam. Entah apa yang ada di kepalanya sampai tega memperlakukan berbeda anak kandung sendiri.
Airin menggigit bibirnya, menunggu tanggapan Arjuna. Selama hampir dua belas tahun, dia tidak pernah terlibat perbincangan serius dengan pria itu, apalagi berdebat. Satu-satunya obrolan serius mereka adalah saat menyepakati tinggal seatap.
Meski status suami istri tercatat secara resmi dalam Buku Nikah, nyatanya Airin dan Arjuna menjalani hidup bersama sebagai orang asing. Keterpaksaan adalah pangkal hubungan mereka. Jika ditarik lebih jauh lagi, keterpaksaan itu bermula dari sebuah janji kepada satu orang yang mereka sayangi.
“Baik.” Airin akhirnya bicara lagi karena Arjuna diam saja. “Aku memang ngga berhak mencampuri hidup kamu, Mas, tapi tolong Mas Juna bisa bersikap adil.”
Airin menjeda ucapannya. Dia melihat sorot mata Arjuna sedikit berubah.
“Anak Mas Juna ada dua, bukan cuma Nana. Dira nggak tahu apa-apa. Kalian nggak seharusnya melimpahkan semua ke Dira dan menganggapnya kesalahan. Dira bukan sumber petaka seperti yang selalu kalian kira.” Airin nyaris meledak. Untung saja dia masih mampu menekan emosi yang bergejolak dalam dada.
Setelah mengucapkan kalimat panjang itu, Airin menuju ranjangnya sendiri dan mengambil selimut. Rasanya percuma saja bicara dengan orang yang hatinya sudah mati karena kebencian yang dipupuk sendiri.
“Mau ke mana?” tanya Arjuna saat tangan Airin menjangkau gagang pintu.