“Kamar anak itu lebih hangat.”
Arjuna menatap nanar pintu kamarnya yang ditutup rapat-rapat. Keluarnya Airin membuat ruangan ini semakin hampa dan dingin. Sejatinya, memang tidak pernah terasa sedikit pun kehangatan sejak dua belas tahun lalu. Arjuna sendiri yang membentangkan tembok tinggi dan kokoh agar Airin tidak melewati batas dan mengacukan keteguhan hatinya.
“Anak Mas Juna ada dua, bukan cuma Nana.”
Kalimat Airin itu menohok Arjuna, menghunjam hatinya yang selama ini seakan mati rasa. Dia sama sekali tidak berniat membedakan Nana dan Dira. Meski tidak sedekat dirinya dan Nana, dia tetap memenuhi kebutuhan hidup Dira, menyekolahkannya di tempat terbaik dan memastikannya tidak kekurangan apa pun.
Pandangan Arjuna tertuju pada potret hitam putih di dinding kamar itu. Senyuman indah yang terpatri kuat dalam ingatan dan hatinya.
“Maafkan aku, Rin,” ujar Arjuna lirih penuh sesal.
Mungkin Arjuna keliru dalam bersikap. Mungkin dia tidak adil pada Nana dan Dira. Mungkin selama ini dia telah menyakiti Dira dan membuatnya seperti pendosa yang layak diabaikan. Dia telah menciptakan jarak yang dipenuhi kebencian di antara kedua anaknya. Dia telah gagal menjadi ayah bagi kedua putrinya.
Malam ini rasanya terlalu panjang hingga berlalu lama sekali. Arjuna tidak dapat menjemput lelap. Pikirannya terlalu penuh, tumpang tindih akan kenangan lama yang indah dan kenyataan pahit di depan mata. Pesta pernikahan penuh senyuman. Kegembiraan menyambut kelahiran anak pertama. Serta kabar kehadiran anak kedua. Sebuah anugerah yang mengguncang dunia Arjuna.
Luka dan rasa kecewa itu terlalu berat untuk ditanggung Arjuna. Keegoisannya yang menggugu emosi sendiri menyebabkan Nana dan Dira menjadi korban. Jika saja Arjuna bisa bersikap lebih bijaksana, kedua putrinya tidak akan menjadi asing dn salah satunya tersakiti.
Arjuna mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Kekalutan pikiran itu menghabiskan sisa malamnya dengan terjaga penuh. Dia bangkit dari posisi berbaringnya dan menatap sisi ranjang yang kosong.
Debas lirih terembus dari hidung Arjuna. Dia beranjak meninggalkan ruangan tanpa kehidupan itu dan menuju kamar mandi. Mungkin saja kekacauan pikiran itu bisa lebih baik setelah mengguyur badannya dengan air dingin.
Beberapa saat kemudian Arjuna keluar dari kamar mandi. Badannya segar, tapi kekacauan di pikiran masih menetap. Dia harus menguraikannya dan menyelesaikan satu per satu. Mungkin dimulai dari mengolah emosi yang selama dua belas tahun ini dibiarkannya menguasai diri.
Arjuna kembali ke kamar untuk bersiap berangkat kerja. Meski pikirannya lebih padat dari kemacetan Jakarta di pagi hari, dia tidak bisa seenaknya mangkir dari tanggung jawab bekerja. Lagi pula, kantor bisa menjadi tempat pelarian sementara sambil menata ulang pikirannya sebelum bicara dengan Airin nanti sore.
Setelah berganti pakaian, Arjuna mengambil tas kerjanya dan keluar kamar. Begitu melewati ruang makan, langkahnya spontan berhenti.
“R-Rin?” Arjuna tertegun melihat perempuan yang sedang menata piring di meja makan.
Rambut di kepang dua itu membuat darah Arjuna berdesir. Tatapan mereka beradu dalam kebungkaman. Tiba-tiba saja hati Arjuna merasakan hangat. Jantungnya berdebar cepat. Jiwa mudanya seakan bergejolak, dibangkitkan oleh kerinduan yang membuncah.
“Hari ini aku cuma bikin sarapan buat Dira. Mas Juna sama Nana bisa beli makan di luar saja.”
Kehangatan sesaat yang dirasakan Arjuna langsung musnah. Perempuan di hadapannya itu terlihat menahan amarah. Dia memahami sikap Airin yang berubah ketus pagi ini.