Rumah yang Dira Rindu

Lovaerina
Chapter #7

Seseorang dari Masa Lalu

Airin suka anak-anak sejak masih sendiri. Sebelum Dira lahir, dia mengajar di sekolah inklusi tingkat dasar. Namun, dia memutuskan berhenti dan fokus mengurus Dira. Baru tiga tahun terakhir Airin kembali mengajar meski tidak reguler. Penghasilannya lumayan untuk menabung dan membeli kebutuhan pribadi. Rasanya segan selalu meminta uang pada Arjuna meski memang sudah kewajiban pria itu menafkahi keluarga.

Transportasi online membantu mobilitas Airin ke mana-mana. Dia hanya mengajar tiga kali dalam seminggu dan tidak seharian penuh. Jadi bisa pulang sebelum jam sekolah Dira dan Nana selesai.

Siang ini, Airin sudah selesai dan memesan ojol untuk pulang, seperti biasa. Namun, tiba-tiba saja motor yang ditumpanginya itu menepi dan berhenti.

“Bu, maaf. Boleh tolong turun dulu? Sepertinya ban motor saya kurang angin,” ucap pengemudi ojol memberi tahu.

Airin segera turun dari boncengan. Pria berjaket hijau dengan garis hitam di bagian lengan itu pun turun dan berjongkok untuk memeriksa ban depan motornya. Dia menepuk jidat, lalu berdiri dan menghadap Airin. Wajahnya tampak gelisah.

“Maaf Bu, ban motor saya kena paku.” Pria itu mengedarkan pandangan.

Airin ikut celingukan. Sejauh mata memandang, tidak ada bengkel motor maupun tukang tambal ban di sekitar.

“Saya perlu cari bengkel dulu. Ibu mau menunggu saya di sini?” tanya pria itu dengan raut segan, tak enak hati membuat penumpangnya berada dalam kondisi seperti ini.

Airin merogoh tas dan mengeluarkan beberapa uang untuk membayar tarif ojeknya sesuai nominal dalam aplikasi. “Saya cari ojol lain saja, Pak. Ini ongkosnya.”

Menunggu di sini tentu akan memakan waktu lama. Ikut bersama pria itu mencari bengkel pun bukan pilihan tepat. Dia tidak tahu sejauh apa harus berjalan kaki sampai menemukan bengkel terdekat.

Pria itu tampak ragu menerima uluran uang dari Airin. Mereka belum setengah jalan, tapi ongkos dibayar penuh.

“Ini nggak apa-apa, Bu, kalau saya terima?”

Airin tersenyum simpul. “Nggak apa-apa, Pak. Namanya musibah, nggak ada yang tahu.”

“Tolong jangan dikasih bintang satu ya, Bu,” pinta pria itu penuh harap.

“Tenang saja, Pak. Saya tetap kasih bintang lima, kok.” Airin tahu betapa berartinya rating bagi pengendara ojol. Selama tidak ada kesalahan yang sengaja dilakukan, dia tidak mungkin tega memberikan penilaian yang berpotensi mematikan rezeki orang.

Pria itu akhirnya menerima uang dari Airin. “Terima kasih, Bu. Saya jalan dulu cari bengkel.”

Airin mengangguk kecil dan membiarkan pria paruh baya itu mendorong motornya menjauh. Dia lalu mengutak-atik ponselnya untuk memesan ojol di aplikasi lain. Belum sempat tersambung dengan pengendara ojol, sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Dia mundur selangkah sambil bersiaga, mungkin saja seseorang sedang mencari alamat dan akan bertanya padanya.

Sepasang mata Airin melebar saat melihat pengemudi itu keluar dari mobil dan tersenyum kepadanya.

“Hai, Rin!” Sapa pria yang tidak lain adalah Leon.

Airin membisu, tidak membalas sapaan ramah itu. Seluruh sel dalam tubuhnya seakan kehilangan fungsi sehingga tidak mampu bereaksi.

Leon menghampiri Airin, membuatnya mengerjap beberapa kali. “Kamu lagi nunggu orang?”

Airin menelan ludah, lalu menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya perlahan. “Lagi pesan ojol.”

Lihat selengkapnya