Rumah yang Dira Rindu

Lovaerina
Chapter #8

Teman Mama

“Mama marahan sama Ayah?” tanya Dira karena sudah hampir satu minggu ini Mama tidur di kamarnya.

“Nggak kok,” elak Mama. “Kenapa Dira berpikir seperti itu?”

“Soalnya Mama tidur di kamar Dira terus.”

“Dira nggak suka Mama tidur di sini?” Mama balik bertanya.

Dira menggeleng. Maksudnya bukan seperti itu. Dia hanya khawatir terjadi hal buruk di antara kedua orang tuanya. Beberapa waktu yang lalu salah satu teman Dira bercerita tentang papa dan mamanya yang saling mendiamkan, lalu tiba-tiba mereka bilang akan berpisah. Tidak satu rumah lagi meski masih menjadi papa dan mama. Teman Dira menangis saat bercerita karena bingung harus ikut siapa. Dira tidak mau mengalami nasib yang sama.

Meski Mama dan Ayah memang sejak dulu tidak terlihat harmonis seperti pasangan suami istri yang lain, tetap saja Dira merasa janggal kalau sampai mereka terus menerus pisah kamar. Jadi, dia pikir mereka sedang bertengkar.

“Dira suka kok ditemani Mama. Dira cuma nggak mau Mama sama Ayah marahan,” ungkap Dira jujur.

Mama menarik napas dalam dan mengembuskannya. “Mama sama Ayah baik-baik saja kok, Sayang. Ayah lagi sibuk kerja. Tiap saat teleponan mulu, kadang sampai tengah malam. Jadi Mama nggak bisa tidur tenang.”

Penjelasan Mama cukup masuk akal. Ayah memang sepertinya selalu sibuk. Selain saat mandi, makan, ibadah atau tidur, ponselnya baru terlepas dari tangan hanya saat Ayah berbicara dengan Kak Nana.

“Di dunia ini hal yang paling Ayah sayangi cuma Kak Nana. Kayaknya kalau Dira nggak ada, Ayah tetap baik-baik aja dan nggak akan merasa kehilangan,” ujar Dira panjang lebar.

“Hus, jangan bicara seperti itu,” tegur Mama. “Ayah sayang Kak Nana dan Dira kok.”

“Apa buktinya? Ayah nggak pernah kok mau dekat sama Dira. Ayah nggak pernah tanya-tanya tentang keadaan Dira, tentang sekolah Dira, atau yang lainnya,” sambung Dira.

Semua yang Dira keluhkan tadi itu kenyataan. Dia tidak mengada-ada. Dira penasaran sebenarnya ada apa.

“Ma, ceritain dong, waktu Dira lahir bagaimana? Ayah sama Kak Nana senang nggak?” Mungkin alasan ketidaksukaan Ayah dan Kak Nana pada Dira terjadi pada hari itu.

Mama tidak langsung menjawab. Tidak tahu apa yang menahan Mama dan membuatnya terdiam cukup lama. Dira jadi semakin yakin bahwa kelahirannya atau sesuatu yang terjadi hari itu adalah penyebab Ayah dan Kak Nana bersikap dingin padanya.

“Ya sudah, kalau Mama nggak bisa cerita, nggak apa-apa,” pungkas Dira sambil berbalik memunggungi Mama dan menarik selimut.

Biar saja Dira penasaran seumur hidup karena terus diabaikan Ayah dan Kak Nana.

“Waktu itu, semua orang senyum bahagia menyambut kelahiran Dira.” Mama akhirnya mulai bercerita.

Dira tetap memunggungi Mama.

“Tangisan pertama Dira itu membuat kami semua lega dan senang sekali. Ayah yang pertama kali gendong Dira setelah dibersihkan suster.”

Hati Dira terasa hangat meski dia sama sekali tidak ingat. Ternyata Ayah pernah menggendongnya. Dira sempat khawatir Ayah menolak kehadiran Dira sejak hari pertama dia lahir.

“Ayah menangis, tapi Mama yakin itu tangisan bahagia. Ayah memang nggak pandai mengekspresikan perasaannya.” Suara Mama lebih lirih dari sebelumnya.

Dira berbalik dan berhadapan dengan Mama. “Ayah beneran sayang Dira?”

Lihat selengkapnya