Rumah yang Dira Rindu

Lovaerina
Chapter #9

Luka yang Sama

Entah keputusan ini benar atau keliru, Airin akhirnya membuka blokir nomor Leon. Tidak ada niat apa pun, terutama kembali menjalin hubungan serius dengan pria itu. Setelah pertemuan mereka tempo lalu, rasa bersalah membersit di hatinya. Airin yang memilih mengakhiri semua setelah mempertimbangkan banyak hal. Namun, Leon sepertinya tidak menyimpan kebencian sedikit pun.

Airin menyimpan ponsel di saku piyamanya dan menyajikan sarapan untuk Dira ke meja makan. Dia masih melakukan protes pada Arjuna dan Nana dengan tidak menyiapkan apa pun untuk mereka berdua. Tidak ada tawaran sarapan atau pun bekal makan siang bagi dua orang itu. Toh, selama ini mereka juga mengabaikan usahanya.

Tepat saat Airin menaruh mangkuk sup di meja makan, Nana melewati ruangan itu. Sekuat hati Airin menahan diri agar tidak menyapanya dengan hangat seperti hari-hari kemarin. Dia melirik Nana yang memperlambat langkah dan berhenti sesaat, tapi kemudian melanjutkan tanpa bicara sepatah kata pun. Si keras kepala dan gengsinya setinggi angkasa.

Airin berdesah. Rasanya ada yang mengganjal di hati karena bersikap sedingin itu pada Nana. “Maaf,” gumamnya lirih.

Beberapa saat kemudian Arjuna keluar dari kamar. Airin juga mengabaikannya. Dia berpura-pura fokus menata piring untuknya dan Dira saja. Dia tidak berbalik sama sekali, apalagi menyapa pria itu. Namun, dia bisa merasakan Arjuna masih bergeming di dekatnya. Airin menggigit bibir bawahnya yang gemetar. Mengabaikan suaminya ternyata sulit dilakukan meski cinta tidak pernah ada di antara mereka berdua.

Getaran ponsel di saku menyentak Airin. Dia segera mengambilnya dan terdiam saat membaca nama yang terpampang di layar muka. Leon. Getaran itu merambat ke hatinya. Dia gamang. Haruskah menerima panggilan masuk itu sekarang atau membiarkannya berakhir begitu saja.

“Siapa?” Suara Arjuna nyaris membuat ponsel Airin meluncur dari tangan.

Dengan cekatan Airin menyimpan kembali ponselnya, lalu berdeham. “Bukan siapa-siapa.”

Detik berikutnya Airin menyadari suatu keanehan. Dia menatap Arjuna yang sudah berdiri di sampingnya dan raut wajah sulit ditebak. Airin mengerjap-ngerjap. Sejak kapan Arjuna peduli padanya? Kenapa tiba-tiba pria itu ingin tahu siapa yang menghubunginya? Apakah dinding tak kasatmata yang memisahkan mereka telah runtuh? Bagaimana mungkin?

Pertanyaan-pertanyaan itu berjubel di benak Airin. Dia lalu menggeleng kecil untuk mengusir rasa penasarannya dan kembali memasang sikap dingin. Pertanyaan Arjuna tadi pasti bukan bentuk peduli, hanya sekadar basa-basi.

“Aku … berangkat,” pamit Arjuna.

Airin hanya menyahut dengan gumaman, tetapi jantungnya berdentum hebat. Dia menahan gugup saat Arjuna meninggalkan ruangan itu, lalu menghela napas panjang.

“Mama kenapa?” tanya Dira yang menghampiri.

Airin segera memasang senyuman manis dan hangat di wajahnya. Sudah cukup banyak hal membebani bahu kecil Dira. Dia tidak ingin menambahnya.

“Mama baik-baik saja kok. Ayo sarapan.” Airin mengambilkan nasi dan lauk ke piring Dira.

Baru saja akan mengambil makanan untuk diri sendiri, ponselnya kembali bergetar. Lagi-lagi Leon yang menghubungi. “Dira sarapan dulu, ya. Mama terima telepon sebentar.”

Airin membawa ponselnya menjauh dari Dira. Dia menuju ke dapur sambil menerima panggilan masuk dari Leon. Mobil Arjuna masih di garasi, mesinnya sudah menyala.  Tatapan mereka sempat bersirobok, tapi Airin dengan cepat memalingkan wajah.

Lihat selengkapnya