Tengah malam saat semua penghuni rumah terlelap, Dira mengendap-endap keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju dapur. Lampu-lampu di setiap ruangan sengaja dimatikaan saat jam tidur. Hanya lampu teras yang dibiarkan tetap menyala. Dira mengandalkan pencahayaan dari senter di ponselnya. Dia berjalan hati-hati agar tidak mengganggu siapa pun.
Dira sampai di dapur, lalu meraba laci penyimpanan di sudut ruangan, tempat Mama menyimpan korek dan lilin. Dia menarik laci itu sepelan mungkin, seperti maling yang takut penghuni rumah terbangun dan memergokinya mencuri.
“Seharusnya aku siapkan dari tadi siang atau sebelum tidur,” gerutu Dira pada diri sendiri.
Sebenarnya Dira belum tidur. Dia sengaja menunggu sampai tengah malam. Untung saja besok libur sekolah. Jadi tidak perlu khawatir bangun kesiangan.
Setelah mendapatkan apa yang dicari, Dira kembali mendorong laci itu dengan hati-hati sekali. Dia lalu mengendap-endap lagi menuju kamarnya. Setelah memasuki kamar dan menutup pintunya pelan-pelan, Dira mematikan senter di ponsel. Dia langsung duduk di meja belajar dan mengeluarkan sesuatu dari dalam lemari kabinet di sebelah meja.
Semua pergerakan Dira dilakukan dengan pelan-pelan sekali. Rasanya seperti sedang bersembunyi dari kejaran hewan buas. Dia tidak boleh menginjak ranting dan membuat para binatang mengetahui keberadaanya.
Senyum Dira tersimpul samar saat empat buah donat berjejeran di meja belajarnya. Dia membelinya tadi siang sekaligus dengan empat lilin kecil berbentuk uliran. Lilin-lilin itu Dira tancapkan satu per satu di setiap donat, lalu dia menyalakannya.
Kamar yang tadinya temaram, semakin terang. Saat ini usianya tepat dua belas tahun. Tidak seperti teman-temannya yang merayakan ulang tahun mereka di rumah, sekolah, atau tempat lain bersama banyak orang, Dira hanya sendirian. Dia tidak pernah dirayakan.
Dira tidak ingin merusak keheningan malam di rumah ini. Jadi dia menyanyikan lagu “Selamat Ulang Tahun” dalam bisikan seperti tahun lalu. Tidak ada riuh tepuk tangan. Tidak ada tawa bahagia bersama.
Begitu nyanyiannya selesai, Dira memejam. Katanya harus berdoa sebelum meniup lilin, jadi dia melakukan itu meski tidak pernah melewatkan doa saat beribadah dan akan tidur.
“Dira mohon bahagiakan Mama, Ayah, dan Kak Nana. Selalu lindungi dan sayangi mereka. Jaga mereka setiap waktu dan di mana pun berada. Dira sayang Mama, sayang Ayah, sayang Kak Nana juga.”
Banyak doa yang ingin Dira panjatkan. Kalau ditulis dalam buku, tidak cukup satu atau dua paragraf saja, mungkin bisa berembar-lembar.
“Semoga Ayah dan Kak Nana suatu saat nanti juga sayang sama Dira.”
Satu per satu lilin itu ditiup. Kamar Dira kembali temaram. Dia menatap empat buah donat dengan toping rasa berbeda di hadapannya. Cokelat kesukaan Mama. Vanila untuk Ayah. Kak Nana sedang suka matcha. Donat untuk Dira sendiri diberi toping merah muda rasa stoberi favoritnya.
Dira tersenyum getir. Dia ingin sekali menikmati kue ulang tahun bersama Mama, Ayah, dan Kak Nana. Namun, itu mustahil. Ini adalah kedua kalinya Dira merayakan ulang tahun sendirian. Sebelumnya dia sama sekali tidak merayakan. Tidak ada satu pun di rumah ini yang membahas soal peringatan hari lahirnya. Ayah dan Kak Nana malah selalu tidak di rumah setiap tanggal ulang tahun Dira.
Kak Nana juga tidak dirayakan, tapi setiap tanggal 24 Juli Ayah mengajaknya jalan-jalan atau makan di luar. Pernah juga menginap di puncak. Berdua saja. Tanpa Mama dan Dira. Jadi Dira tebak Ayah diam-diam merayakan ulang tahun Kak Nana.
“Kenapa nggak ada yang ingat ulang tahun Dira? Kenapa nggak ada yang mengucapkan selamat?”
Bukan hanya di rumah, di sekola pun Dira tidak dirayakan. Teman-teman tidak ada yang menanyakan tentang kapan ulang tahunnya.
“Nggak boleh iri.” Dira mengingatkan diri, tapi rasanya sesak sekali.