Rumah yang Dira Rindu

Lovaerina
Chapter #11

Pusara

“Sudah sampai,” ucap Ayah menarik angan Nana dari lamunan.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Ayah mengajak Nana ke tempat ini. Tempat di mana kebahagiaan mereka terkubur. Jantung Nana berdegup kencang. Belakangan ini banyak hal yang memenuhi pikiran hingga kepalanya nyaris meledak.

Mereka turun dari mobil. Nana menggenggam buket bunga segar yang menguarkan aroma harum menenangkan, tapi juga membuat dadanya terasa sesak. Dia berjalan mendahului Ayah, melewati gapura besar yang memisahkan antara ingar bingar kehidupan manusia dan keheningan. Dia menyusuri jalan konblok setapak yang ditumbuhi rerumputan pada kanan dan kirinya. Sejauh mata memandang, hanya ada tanah-tanah berundak dengan pepohonan kamboja yang menaungi.

Nana berbelok ke kiri, lalu melangkah lebih pelan dan hati-hati agar tidak menginjak atau merusak apa pun. Tidak sampai lima meter dari belokan, Nana menghentikan langkah. Dia memaksakan senyuman melihat gundukan tanah dengan nisan kayu yang mulai lapuk di atasnya.

“Hai, Bunda!” sapa Nana, seolah sosok yang berbaring di dalam sana dapat mendengar melihat kedatangannya.

Nana kemudian berjongkok. Ayah menyusul jongkok di sebelahnya. Dengan hati-hati Nana menaruh buket bunga yang dibawanya. Dulu Ayah bilang, itu bunga-bunga favorit Bunda. Jadi Nana membawakannya setiap tahun.

Sebenarnya, Nana beberapa kali datang sendrian. Namun, tepat di tanggal kepergian Bunda, Nana selalu datang bersama Ayah. Kalau saja bisa, Nana ingin sekali menggali gundukan tanah di hadapannya dan mengajak Bunda pulang ke rumah bersama mereka. Namun, itu mustahil.

“Bun, Nana kangen. Bunda nggak kangen sama Nana?”

Setiap kali datang, Nana selalu mengajak Bunda bercerita, tentang apa saja yang sudah dilaluinya, atau rencana-rencana yang akan dilakukan. Karena bersama Ayah, dia tidak mengungkapkan semua beban di hati yang selama ini menggelayutinya.

Kepergian Bunda sudah dua belas tahun berlalu, tapi hingga detik ini Nana belum mampu menerimanya. Nana rasa, Ayah pun sama. Tidak ada yang benar-benar siap dipisahkan oleh kematian.

“Nana sebentar lagi lulus SMA dan mau kuliah di luar kota, tapi Ayah belum kasih izin,” ungkap Nana mengadu, seolah akan mendapat pembelaan dari Bunda.

Ayah yang berjongkok di sebelahnya diam saja. Tidak menanggapi ataupun menginterupsi sesi curhat Nana dengan Bunda.

“Bunda bilangin Ayah dong biar Nana diizinin keluar kota,” imbuh Nana seperti sedang berhadapan langsung dengan ibu kandungnya. “Nana bukannya nggak sayang Ayah dan Bunda, tapi….”

Kalimat Nana menggantung di udara. Dia ragu melanjutkan meski sangat yakin Ayah sudah tahu apa yang membuatnya ingin pergi dari rumah. Kenangannya bersama Bunda terbungkus rapi di rumah itu. Nana tidak berniat menghapusnya. Namun, hatinya sakit setiap kali melihat Dira. Andai anak itu tidak ada, Bunda pasti masih bersamanya. Tidak perlu ada duka yang berkepanjangan selama belasan tahun. Tidak ada yang perlu mengorbankan perasaan demi mengisi kekosongan yang ditinggalkan Bunda.

“Nana janji nggak akan pernah lupa sama Bunda meski nanti udah nggak tinggal di Jakarta. Nana akan tetap datang ke sini.” Suara Nana mulai tercekat.

Belasan tahun berlalu nyatanya tidak mampu menghapus rasa rindu Nana pada Bunda, malah semakin menggunung bersama kesedihannya.

“Kenapa sih, Bunda perginya cepat banget? Kenapa Bunda ninggalin Nana?”

Lihat selengkapnya