1
Hanum duduk diam di kursi belakang mobil sembari menatap keluar dari balik kaca yang berembun. Hujan baru saja berhenti. Aroma tanah basah yang menenangkan, sekaligus mengusik ingatan tentang rumah di masa kecilnya dan suara-suara tawa yang pernah tinggal di dalamnya, merayap masuk melalui celah jendela. Mobil agak berguncang ketika keluar dari jalan raya kemudian berganti menyusuri jalan masuk menuju kampung yang tergenang air. Hanum tersentak akibat goncangannya, seraya merapatkan syal abu-abu yang membungkus leher. Di sepanjang jalan yang diapit hamparan sawah, derik serangga menjelang petang berpadu dengan cahaya lampu rumah yang mulai berpendar di kejauhan.
Hanum merogoh saku bajunya, mengambil ponsel, lalu menatap layar yang penuh notifikasi. Tidak ada balasan dari Eka, kakaknya. Ia sedikit kecewa. Sejak pagi tadi ia sudah mengirim pesan, tapi tetap tak ada jawaban. Padahal beberapa hari sebelumnya, Eka sempat berjanji akan menemaninya pulang kampung. Sayang, rencana itu batal karena tugas mendadak dari kantor.
Sepanjang perjalanan dengan kereta dari Jakarta menuju Klaten, kegelisahan terus menguasai benaknya. Namun, rasa itu perlahan mereda ketika ia akhirnya tiba di stasiun Klaten menjelang senja. Sebelum melanjutkan perjalanan ke rumahnya di Delanggu, ia bahkan sempat membeli roti kumpul dan teh celup untuk dibawa pulang.
“Rumahnya yang nomor berapa, Bu?” sopir yang mengantarkannya menanyakan rumah yang hendak mereka tuju.
“Sepuluh, Pak.”
Sopir itu mengemudikan mobilnya pelan melewati deretan rumah dengan urutan nomor genap mulai dari dua. Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di rumah nomor sepuluh yang pintu gerbangnya terbuka lebar. Setelah mobil dengan stiker logo perusahaan taksi online itu berhenti, Hanum keluar. Sopir telah keluar lebih dulu, menyiapkan koper yang diambilnya dari bagasi. Hanum mengucapkan terima kasih. Sesudahnya, sopir itu pergi. Hanum berjalan melewati paving di halaman rumah yang ditumbuhi lumut sambil menarik kopernya dengan hati-hati agar tidak terpeleset. Di teras, ia berhenti sejenak, seraya meletakkan kopernya di depan pintu.
“Mbak Hanum!”
Seorang laki-laki setengah baya datang tergopoh-gopoh menyerahkan kunci rumah.
“Saya lihat dari jendela dapur kalau Mbak Hanum sudah datang. Ya, saya ambil kunci terus ke sini.”
“Terima kasih, Pak Surip.”