Rumah yang Memanggil Pulang

Ratri Astutiningtyas
Chapter #2

Hari Pertama

2

Hari Pertama

 

 

Ini baru hari pertama. Hanum sarapan dengan beberapa buah roti yang kemarin ia beli di toko dekat stasiun dan secangkir teh panas. Lalu, ia bersantai di ruang tamu sembari membaca buku harian Ningrum. Pandangannya terpaku pada catatan yang ditulis Ningrum setelah kematian Ayah mereka. Sekitar tiga tahun sebelum kejadian tragis yang menimpa Ibu dan Ningrum, Ayah sudah lebih dulu berpulang.

 

Luka kecilku,

Aku seperti tidak mengenali ibuku yang telah melahirkan dan membesarkanku selama ini. Ia harusnya mengerti aku menjalani operasi angkat rahim karena kista itu ganas. Ia justru tidak bisa berhenti mengeluhkan omongan orang-orang kampung yang terus-terusan bicara soal aku yang mandul. Apa yang dilakukan Ibu sungguh menyakitkan.

 

Hanum mencoba mengingat operasi pengangkatan rahim yang disebutkan oleh Ningrum dalam buku hariannya. Beberapa bulan sebelumnya, Ayah sempat menjodohkan Ningrum dengan anak sahabat lamanya. Namun, perjodohan itu tidak berlanjut setelah Ayah meninggal, dan Ningrum masih harus menjalani dua kemoterapi lagi. Hanum sempat diliputi rasa cemas, takut Ningrum akan terpuruk dan kehilangan semangat. Tapi ternyata, Ningrum jauh lebih kuat dari yang ia bayangkan. Dengan ketabahan yang luar biasa, Ningrum berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian kemoterapi. Perlahan, kondisi kesehatannya mulai membaik, seakan memberi harapan baru setelah masa-masa berat yang mereka lalui bersama. 

Ningrum tetap terlihat tegar ketika mereka berkumpul di hari raya untuk pertama kalinya tanpa Ayah. Hari raya itu terasa hampa tanpa kehadiran Ayah. Ibu yang masih diliputi duka tampak mudah tersulut emosi. Berkali-kali ia memarahi Ningrum, bahkan ketika Ningrum tidak melakukan kesalahan apa pun. Namun, Ningrum memilih diam, menerima kemarahan itu tanpa membalas sepatah kata pun.

Hanum yang menyaksikan semuanya merasa cemas. Ia sempat mengutarakan kegelisahannya pada Eka, berharap Eka mau melakukan sesuatu. Sayangnya, Eka hanya menyuruhnya mengabaikan sikap Ibu. Padahal Hanum tahu, bukan hanya dirinya yang terganggu—Haris, suaminya, dan Widhi, istri Eka, juga terlihat tak nyaman dengan situasi itu.

Hari raya dua tahun berikutnya pun mereka jalani dengan suasana yang masih sama—penuh ketegangan dan bayang-bayang kehilangan. Yang membuat Hanum heran, Ningrum tampak semakin tak terusik oleh sikap Ibu yang sinis, meski hampir setiap saat dimarahi karena hal-hal sepele. Ningrum memilih diam, seolah kekuatan hatinya tumbuh dari luka yang tak pernah ia tunjukkan.

Hanum sendiri mencoba menutup mata, berpura-pura agar hatinya tidak semakin tersayat. Ia melihat Eka, Haris, dan Widhi melakukan hal yang sama, menahan perasaan demi menjaga ketenangan. Namun, di dalam dirinya, Hanum tak bisa menahan rasa ingin tahu: bagaimana mungkin Ibu yang dulu tenang dan penuh kasih berubah menjadi mudah marah? Ia akhirnya bertanya pada Eka, berharap ada jawaban yang menenangkan.

Jawaban Eka justru membuat Hanum terperanjat. “Ibu memang seperti itu,” kata Eka singkat. Hanum terdiam, hatinya bergetar. Penjelasan itu terasa asing, seolah ada jarak yang tak bisa ia jembatani. Hingga kini, kebingungan itu masih tersisa, menggantung di antara kenangan dan kenyataan yang tak pernah sepenuhnya ia pahami.

Hanum tanpa sadar membaca sampai beberapa kali kalimat yang menyebutkan Ibu yang terus-menerus mengeluhkan omongan orang-orang soal Ningrum yang mandul, seolah-olah luka itu belum cukup dalam. Padahal, operasi pengangkatan kista ovarium dan rahim telah merenggut harapan Ningrum untuk hamil, sekaligus memaksa dirinya menghadapi menopause jauh sebelum seharusnya. Semua resiko itu sudah dibicarakan sebelum operasi dilakukan—bahkan kemungkinan fatal yang bisa terjadi.

Ningrum sudah berjuang menerima kenyataan pahit ini dengan keberanian yang luar biasa. Namun, alih-alih memberi kenyamanan dan pengertian, Ibu justru lebih memilih mendengar bisikan orang luar yang sama sekali tidak tahu betapa berat perjuangan Ningrum. Bukankah Ibu seharusnya menjadi tempat paling aman, bukan sumber luka baru? Bukankah kasih seorang Ibu mestinya lebih kuat daripada suara-suara asing yang tak pernah merasakan pedihnya nasib yang dialami anaknya?

Hati Hanum terguncang saat melihat bagaimana Ibu memperlakukan Ningrum. Ia juga lahir dan dibesarkan oleh ibu yang sama dengan Ningrum. Namun, sepanjang hidupnya, ia tidak pernah sekalipun merasakan sikap dingin atau tajam dari Ibu. Sosok yang ia kenal adalah Ibu yang lembut, penuh kasih, dan selalu menenangkan. 

Hanum mulai bertanya-tanya, apakah Eka pernah merasakan hal serupa? Apakah ada sisi lain dari Ibu yang selama ini tersembunyi darinya? Pertanyaan itu menghantui Hanum, membuatnya sulit menemukan titik temu atas perbedaan sikap Ibu terhadap ketiga anaknya. Di dalam hatinya, Hanum hanya bisa berharap—semoga Eka tahu lebih banyak, semoga Eka mau berbagi cerita ketika ia datang menemaninya nanti. Karena Hanum butuh jawaban, dan mungkin juga butuh sekeping kebenaran yang selama ini tak pernah ia lihat dari sosok Ibu yang ia anggap penuh kasih.

Hanum meletakkan buku itu di atas meja lantas pergi ke dapur untuk mencuci gelas yang kotor. Ia menyingkirkan sisa makanan ke dalam wadah plastik untuk dibuang ke kolam ikan di belakang rumah. Ia membuka pintu belakang lalu berjalan menuju kolam yang semakin tak terawat setelah dibiarkan terbengkalai selama bertahun-tahun. Ayah membuat kolam itu untuk budidaya ikan lele yang bisa dijual untuk penghasilan di luar uang pensiunan. 

Produksi ikan lele sempat melimpah dan memberikan hasil yang lumayan tapi mulai berkurang setelah Ayah sakit-sakitan. Sejak Ayah tiada, kolam itu tak lagi terurus. Tanaman liar merambat dan menutup tepiannya, sementara orang-orang datang seenaknya memancing seakan kolam itu tak bertuan. Ibu hanya diam bukan karena tak peduli, melainkan karena ia sudah lelah berdebat dengan orang-orang yang gemar membuat keributan seperti mereka.

Hal paling menyakitkan yang masih membekas di ingatan Hanum ketika ia membuang sisa makanan ke kolam di belakang rumah itu adalah suara-suara jahat yang menusuk telinganya. Ia mendengar orang-orang itu menertawakan Ningrum, melontarkan kata-kata kejam tanpa sedikit pun rasa iba.

Salah seorang dengan enteng berkata bahwa Ningrum sudah tidak punya nilai sebagai perempuan. Ucapan itu bagai pisau tajam yang mengiris harga diri. Belum sempat Hanum meredakan amarahnya, seorang yang lain menambahkan dengan nada merendahkan kalau ia berminat pada Ningrum, tapi hanya untuk dijadikan selingan. Ucapan itu disambut tawa riuh, tawa yang bagi Hanum terdengar seperti ejekan paling kejam terhadap luka Ningrum.

Saat itu, Hanum merasa dunia begitu kejam. Kelakar mereka terdengar menghibur bagi mulut-mulut yang melontarkannya, tapi menyakitkan bagi Hanum yang mendengar. Dadanya sesak, seolah setiap kata jahat itu menampar wajahnya sendiri. Ia tak sanggup membayangkan sakit hati yang harus ditanggung Ningrum jika ia sendiri yang mendengar omongan kejam itu. Dengan langkah tergesa, Hanum meninggalkan kolam, berusaha menjauh sebelum ia tak mampu menahan kesabarannya. Ia mengenal orang-orang itu. Mereka masih satu kampung. Namun, ia mulai tidak nyaman dengan keberadaannya sendiri di kampung ini.  

Sejak Ibu dan Ningrum tiada, rumah mereka di kampung tak lagi menjadi tempat pulang yang nyaman, melainkan ruang kosong yang hanya menyimpan kenangan pahit. Hanum tahu, hatinya sudah lama menolak untuk kembali—karena setiap sudut kampung ini hanya mengingatkannya pada kehilangan dan rasa sakit hati yang tak pernah sembuh.

“Ikannya semakin menyusut.”

Hanum mendengar suara seseorang menyebut tentang ikan di kolam. Ia menoleh, mencari sumber suara itu, hingga matanya menangkap sosok yang sedang menarik senar pancing. Ia mengenal laki-laki yang sedang memancing itu, yang ternyata adalah Yakub, anak bungsu Pak Surip.

“Sampah lagi,” dengus Yakub.

Hanum terperanjat. Di permukaan air yang tenang, ia melihat sesuatu yang tak seharusnya ada—sampah plastik berisi sisa makanan yang baru saja ia buang kini mengapung tepat di dekat tempat Yakub memancing. Sisa makanan itu harusnya dikeluarkan dulu dari plastik sebelum dibuang ke kolam. Ia tahu, jika Yakub melihatnya, keberadaannya akan terbongkar. Tanpa pikir panjang, Hanum melangkah cepat, meninggalkan tempat itu sebelum Yakub sempat menoleh. 

---

Hari ini, Hanum harus pergi ke pasar. Kulkas di dapur masih berfungsi baik, namun hanya berisi dua botol air putih dingin. Dulu, Pak Surip pernah bercerita lewat pesan singkat bahwa kulkas itu sempat rusak, tapi kemudian ia memanggil tukang untuk memperbaikinya sehingga bisa dipakai lagi. Pesan itu ia kirim setelah Hanum memberitahunya soal rencana tinggal beberapa hari di kampung. Ketika Hanum bertanya siapa yang menanggung biaya perbaikan, Pak Surip menjelaskan bahwa Eka rutin mengirim uang setiap bulan untuk gajinya sekaligus biaya pemeliharaan rumah. Rupanya selama ini Eka yang bertanggung jawab atas rumah itu. Hanum sendiri tidak pernah terlalu memikirkan urusan rumah di kampung sejak tempat itu tidak lagi berpenghuni.

Hanum memanggil ojek online untuk pergi ke pasar. Sambil menunggu di depan gerbang, ia sesekali mengecek ponselnya. Tak lama kemudian, seorang pria dengan sepeda motor berhenti tepat di depannya.

Lihat selengkapnya