Rumah yang Memanggil Pulang

Ratri Astutiningtyas
Chapter #3

Hari Kedua

3

Hari Kedua


 

Hari kedua di kampung, hujan turun sejak pagi hingga menjelang siang, sesekali disertai angin kencang. Hanum menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Setelah sarapan, ia duduk santai di dapur, memandang ke luar lewat jendela kaca dekat pintu. Dari sana terlihat air hujan yang mengguyur halaman belakang hingga tergenang. Kolam di belakang rumah pasti sudah penuh. Untung keberadaan kolam itu cukup membantu menampung luapan air hujan sehingga halaman tetap aman dari banjir.

Ada notifikasi masuk di ponselnya. Pesan dari Eka muncul, mengabarkan bahwa ia mungkin baru bisa tiba di Klaten nanti sore atau besok pagi. Setelah pulang kantor Kamis malam, ternyata ia tidak bisa langsung berangkat. Sementara itu, Widhi juga sedang dibebani banyak pekerjaan di kantornya dan harus lembur sepanjang minggu. Ia harus menjaga anak-anak sampai Widhi pulang. Namun, semua itu tidak terlalu Hanum permasalahkan. Perlahan, Hanum mulai bisa menikmati hari-harinya di kampung meski lebih banyak sendiri. Tak lama kemudian, Amri mengirim pesan meminta izin meminjam laptop untuk menyelesaikan tugas sekolah. Sesudahnya, suasana kembali sunyi.

Ketenangan dalam kesunyian dan kesendirian seperti ini mungkin satu-satunya ruang yang bisa menampung segala resahnya. Usianya memang belum menyentuh kepala empat, namun entah mengapa ia merasa seakan telah menua sebelum waktunya—seperti memasuki sebuah lorong panjang bernama titik jenuh. Ada sesuatu yang salah, ia tahu itu. Tapi ia tak mampu menyebutkan dengan jelas: apakah luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh, atau hal-hal kecil yang selama bertahun-tahun ia biarkan terabaikan hingga kini menumpuk menjadi beban. Dalam diam, ia merasakan kehampaan yang sulit dijelaskan, seolah hidupnya berjalan tanpa arah, sementara hatinya terus mencari jawaban yang tak kunjung ditemukan.

Ia pernah mencoba mencari jawaban dengan mengunjungi psikolog, menceritakan betapa kacau pikirannya hingga merembet pada hubungan dengan suami dan membuatnya kehilangan gairah terhadap pekerjaan. Namun, jawaban yang ia terima begitu sederhana: ia hanya perlu memaafkan diri sendiri. Hanum bingung—apa yang harus ia maafkan dari dirinya? Apakah kelemahannya? Ataukah ketidakmampuannya meredakan luka?

Mungkin saja ia belum benar-benar berdamai dengan rasa kehilangan setelah kepergian Ibu dan Ningrum. Ada perasaan ditinggalkan yang begitu melukai. Dan di balik itu, ada amarah yang membara, sulit dijinakkan, seolah setiap detik mengingatkan bahwa cinta dan kebersamaan bisa direnggut begitu saja tanpa peringatan.

Eka selalu menjadi satu-satunya tempat mencurahkan segala keluh kesah yang menyesakkan dadanya. Namun, kakaknya mendadak berubah dingin dan tertutup setiap kali percakapan mulai menyinggung sosok Ibu atau Ningrum. Di sisi lain, suaminya yang biasanya begitu peka terhadap segala situasi—baik persoalan kantor maupun keluarga—entah mengapa tampak sengaja menarik diri akhir-akhir ini.

Melihat dirinya yang selalu gelisah sepanjang hari, Sasti, rekan kerjanya, menyarankan agar ia mengambil cuti. Awalnya, ide untuk cuti terasa sia-sia di tengah kemelut batinnya. Namun, segalanya berubah setelah ia membuka lembar demi lembar halaman buku harian Ningrum. Ia sadar, ia butuh jawaban.

Keputusan pun diambil: ia akan cuti selama dua minggu. Sepuluh hari di antaranya akan ia habiskan di rumah peninggalan orang tuanya di kampung. Dengan hati-hati, ia meminta izin kepada suaminya untuk pergi seorang diri, menjelaskan bahwa perjalanan ini adalah upayanya untuk menjernihkan pikiran di tengah kekacauan yang dialaminya. Suaminya menyetujui tanpa banyak tanya, seraya berujar bahwa kepulangan itu mungkin bisa menjadi terapi yang mujarab.

Langkah terakhir adalah menghubungi Eka. Terselip harapan besar agar kakaknya itu sudi meluangkan waktu untuk menemaninya. Eka hanya memberi jawaban singkat: ia bisa ikut, tapi hanya punya waktu dua hari untuk cuti. Hanum senang mendengarnya. Satu atau dua hari tidak masalah.

Alasan Hanum ingin ditemani Eka bukan hanya untuk menggali rahasia tentang mendiang ibunya yang sempat disinggung oleh Eka dulu, tetapi juga untuk memastikan satu hal: apakah Eka benar-benar setangguh kelihatannya? Hanum sadar betul bahwa Eka cenderung menutup diri. Di balik sikap “baik-baik saja” yang diperlihatkannya, Hanum yakin ada luka yang sengaja dipendam yang tak pernah dibagikan kepada siapa pun agar tak terlihat rapuh.

Eka pernah cerita kalau kondisi ekonomi keluarga mereka telah membaik sebelum ia lahir. Ayah yang awalnya cuma guru honorer akhirnya ikut Ujian Saringan PNS dan lolos. Sementara Ibu, yang tadinya hanya jadi ibu rumah tangga, mulai merintis usaha katering, bekerjasama dengan Bulik Dini. Pesanan sering berdatangan, dan usaha itu terus jalan sampai Hanum lulus kuliah. Sayangnya, usaha katering berhenti setelah Bulik Dini meninggal karena serangan jantung. Hanum sempat heran kenapa Ibu tidak melanjutkan usaha itu sendiri, padahal urusan masak Ibu sama jagonya dengan Bulik Dini.

Setiap kali mengingat masa kecilnya di rumah ini, Hanum selalu merasa dirinya tak pernah merasa benar-benar dekat dengan Ibu. Dalam ingatannya, sosok Ibu selalu lekat dengan kesibukan usaha katering yang tak ada habisnya. Alhasil, Hanum lebih banyak menghabiskan waktu bersama Eka. Kakaknya itu adalah pelindung sekaligus teman bermain yang luar biasa mandiri. Berkat Eka, Hanum tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang meski Ayah dan Ibu sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Kebahagiaan masa kecil itu terus berlanjut hingga Ningrum lahir. Meski Ibu jadi jauh lebih repot, Ningrum kecil adalah anak yang tenang dan jarang menangis, membuat suasana rumah tetap hangat. Sayangnya, binar keceriaan itu mulai meredup setelah Ningrum lulus kuliah. Berbeda dengan kakak-kakaknya yang langsung mendapat pekerjaan, Ningrum seolah tertahan di tempat. Ia mulai menarik diri dan tak lagi suka bergaul.

Hanum tertegun, sesekali bayangan ibunya yang tengah memarahi Ningrum melintas di benaknya—perkara kebiasaan makan adiknya yang buruk yang selalu memicu amarah. Namun, keriuhan kecil itu seolah meredup ditelan kenyataan pahit yang kemudian mendekap hidup Ningrum. Segalanya terasa kian suram sejak operasi pengangkatan rahim itu harus ia jalani akibat kista ovarium ganas. Mengingat itu semua, dada Hanum sesak, dan tanpa sadar setetes air mata jatuh membasahi pipinya.

Di luar, gemericik hujan mulai mereda, menyisakan keheningan yang lembap. Hanum melangkah pelan membuka pintu menuju halaman belakang, menyaksikan sisa-sisa genangan air yang perlahan mulai surut ditelan bumi. Ia hanya berdiri di ambang pintu, ragu untuk melangkah. Tanah becek di depannya jelas sulit dilewati. Ia pun berbalik. Setelah menutup kembali pintu belakang dengan gerakan pelan, ia beralih ke ruang tamu.

Satu per satu jendela ia buka, membiarkan udara dingin merasuk ke dalam. Ketika ia membuka pintu depan untuk memeriksa teras, tampak jejak angin kencang tadi meninggalkan sisa air hujan yang merembes masuk. Di halaman, sebuah dahan pohon patah menjulur ke jalan. Mungkin ia akan meminta bantuan Pak Surip untuk membereskannya nanti. Di kejauhan, suasana masih tampak lengang. Orang-orang di masjid untuk menunaikan salat Jumat.

---

Hanum batal memasak untuk makan malam. Padahal, niatnya tadi ingin menggoreng bandeng dan membuat sambal pedas, namun ia baru sadar kalau minyak gorengnya habis untuk menggoreng tempe kemarin. Ia sempat menengok warung di dekat rumah, tapi sayang, pintunya sudah tertutup rapat. Ia pun memutuskan keluar sebentar untuk mencari nasi goreng selagi hari belum terlalu gelap.

Seingatnya, ada penjual nasi goreng yang biasa mangkal di perempatan jalan kampung. Namun, sesampainya di sana, penjual nasi goreng langganannya tidak ada. Ia justru mendapati gerobak bubur ayam. Di sana, si bapak penjual tampak hanya ditemani seorang anak laki-laki yang duduk diam di sampingnya. Hanum sempat bimbang. Jujur saja, ia bukan penggemar bubur ayam, tapi ia tak punya pilihan lain. Akhirnya, ia pun memesan satu bungkus untuk dibawa pulang.

“Ibu bukan orang sini, ya?” tanya si penjual bubur ayam.

“Orang sini kok.”

“Tapi saya belum pernah melihat Ibu.”

“Anaknya Bu Sinta.”

Anak laki-laki itu ikut menengadah ketika Hanum menyebut nama ibunya. Sesaat kemudian, ia melirik ke arah ayahnya yang sibuk menyiapkan pesanan Hanum.

“Oh, Bu Sinta. Istrinya Pak Hidayat?”

“Iya.”

“Dulu, Bu Sinta sering memesan bubur ayam untuk Pak Hidayat. Anak saya yang mengantarnya ke rumah.”

“Bapak sudah lama berjualan?”

“Sudah. Tapi, berjualan keliling. Saya baru berjualan di tempat ini setelah penjual nasi goreng tidak jualan lagi.”

“Penjual nasi gorengnya pindah tempat?”

“Meninggal dunia.”

“Oh, sudah meninggal. Tadi, saya heran kok sudah tidak jualan lagi.”

“Sudah hampir dua tahun.”

Penjual itu selesai membungkus bubur ayam pesanan Hanum.

“Delapan ribu.”

Hanum mengulurkan uang sepuluh ribu.

“Yang dua ribu kerupuk saja.”

Penjual itu menambahkan sebungkus kerupuk ke dalam plastik. Setelah mengucapkan terima kasih, Hanum pulang dengan hati sedikit lega. Dari kejauhan, tatapan mata anak penjual bubur itu terus mengikutinya. Hanum berusaha menepis pikiran buruk yang sempat melintas. Tingkah anak itu yang penuh kecurigaan membuatnya terus menebak-nebak—satu hal yang sangat dibencinya. Namun yang terpenting, malam ini ia tidak akan kelaparan. Sesampainya di depan rumah, Hanum melihat Pak Surip berdiri di teras. Ia segera menghampiri laki-laki itu dengan tergesa.

“Ada apa, Pak Surip?”

“Mbak Hanum tadi ke mana?”

“Membeli bubur ayam.”

“Saya cuma mau bilang. Dahan pohon di halaman yang menjulur ke jalan sudah dipotong.”

Hanum agak bingung. Dia belum memberitahu Pak Surip soal dahan pohon yang patah kena angin tadi pagi tapi kenapa sudah dipotong.

“Siapa yang memotongnya?”

“Saya sendiri, Mbak.”

“Oh, tadi saya lupa mau bilang ke Pak Surip.”

Hanum buru-buru mengambil uang dari dompetnya lalu memberikannya pada Pak Surip.

Lihat selengkapnya