4
Hari Ketiga
Eka terlihat lelah setelah menempuh perjalanan dari Jakarta ke Klaten, lalu masih lanjut berkunjung ke rumah saudara-saudara di kampung. Di rumah, ia memilih bersantai di ruang tengah sambil menikmati hangatnya minuman jahe. Perlahan, Hanum mendekat, lalu duduk di samping Eka.
“Capek sekali, ya?” tanyanya pelan.
Eka hanya tersenyum tipis, lalu menghela napas panjang.
“Tadi waktu di rumah Budhe Hartini, Mas Eka bilang katanya Radit berniat membeli rumah ini?”
Eka tidak segera menjawab.
“Mas Eka ingin menjualnya?”
Eka menatap ke arah Hanum.
“Ehm, begini. Sebelumnya, aku tidak ada rencana untuk menjual rumah ini. Tapi, Radit menanyakan apa rumah peninggalan orang tua kita ini tidak ada yang menempati atau memang ada rencana lain. Terus dia bilang dia berminat untuk membelinya kalau dijual.”
“Terus Mas Eka bilang apa pada Radit?”
“Aku bilang masih kupikirkan. Aku juga masih harus membicarakannya denganmu, terus meminta pendapat Pakdhe, Budhe, atau saudara kita yang lain.”
“Mas Eka sendiri tertarik untuk menjualnya atau tidak?”
“Aku pernah membicarakannya dengan Widhi kalau aku ingin melepaskan rumah ini bila ada yang berminat dan kamu juga tidak keberatan. Kalau kamu bagaimana, Num?”
“Belum tahu, Mas.”
“Tidak harus dijawab sekarang. Radit juga tidak terburu-buru kok.”
“Iya deh.”
Eka menghabiskan minumannya lalu beranjak dari kursi menuju ke kamarnya.
“Aku masuk dulu, ya. Aku mau tidur sebentar.”
Hanum menatap Eka berjalan masuk ke kamarnya hingga pintu tertutup. Ia kemudian beralih ke meja makan di ruang tengah, tempat beberapa bungkus mie instan dan aneka minuman siap seduh terserak. Sambil memandanginya, Hanum berpikir bahwa menjual rumah mungkin bisa menjadi jalan keluar bagi mereka berdua agar tak lagi direpotkan dengan urusan merawat rumah di kampung. Tapi, Hanum belum bisa memutuskan apakah ia akan menyetujui ide Eka untuk menjual rumah peninggalan orang tua mereka.
Ia memang tidak berminat tinggal di kampung, karena tidak bisa sedekat Eka dengan orang-orang yang selama ini memiliki hubungan baik dengan keluarga mereka. Baginya, rumah ini lebih berarti sebagai tempat kenangan. Eka mungkin tidak terlalu menyukai hal-hal yang melankolis seperti dirinya, namun kenangan itu menjadi alasan yang cukup kuat untuk tidak terburu-buru melepas rumah mereka.
---