5
Hari Keempat
Radit datang pagi-pagi sekali, ketika Hanum masih sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Ia hanya mampir sebentar. Ia berbincang singkat dengan Eka sebelum pamit pulang. Saat kemudian mereka duduk bersama di meja makan, Hanum memilih untuk tidak menanyakan tujuan kedatangan Radit. Ia merasa tak perlu membuka percakapan yang mungkin menyinggung hal sensitif. Eka pun tampak enggan membicarakannya. Jika kedatangan Radit memang berkaitan dengan rencana penjualan rumah, maka pembicaraan itu sebaiknya dilakukan dengan kepala dingin.
Eka mengusulkan agar rumah di kampung sebaiknya dijual saja daripada tidak ada yang menempati. Tapi, Hanum belum menyatakan dirinya setuju dengan usul Eka. Ia tidak memiliki pandangan lain terkait pemanfaatan rumah peninggalan orang tua mereka. Hanya saja, ia merasakan sesuatu yang membuatnya masih ragu untuk melepas rumah mereka ke tangan orang lain. Ini bukan lagi tentang kenangan seperti yang pernah terlintas di pikirannya sebelumnya, melainkan sebuah bisikan yang memanggilnya pulang.
Hanum menyadari ada hal yang belum selesai dalam dirinya, yang ada hubungannya dengan rumah ini. Setelah membaca buku harian Ningrum, ia seolah dibawa kembali pada situasi-situasi tidak nyaman sebelum kejadian nahas itu. Kalimat-kalimat putus asa dalam buku harian itu seperti bisikan Ningrum, yang memanggilnya untuk datang dan mencari tahu apa yang dialaminya di hari-hari terakhirnya. Sekarang, ia sudah datang demi panggilan itu.
Hal berikutnya yang sudah pasti akan dilakukan adalah berziarah ke makam. Sebelum kembali ke Jakarta, Eka memang sudah berjanji untuk ikut berziarah bersama. Hari ini adalah hari Minggu sekaligus hari terakhir Eka di kampung. Makam tersebut berada tak jauh dari area persawahan. Mereka berencana berjalan kaki menuju ke sana, berangkat pagi-pagi agar suasana lebih tenang dan tidak berpapasan dengan para petani yang mulai bekerja di sawah.
“Bunganya sudah kamu bawa?” tanya Eka.
“Sudah,” jawab Hanum sembari memperlihatkan tas plastik hitam berisi bunga mawar merah dan sedikit bunga melati.
“Kita pergi ke sana lewat jalan menuju lapangan desa saja. Kalau tidak sedang digunakan untuk kegiatan, lapangan itu sepi.”
“Terserah Mas Eka.”
Mereka berjalan beriringan sambil sesekali bertegur sapa dengan orang-orang yang kebetulan mereka kenal. Jalan-jalan di kampung yang mereka lewati sudah banyak berubah. Rumah-rumah baru memenuhi hampir setiap sudut yang dulunya kosong. Hanum masih ingat beberapa rumah teman-teman sekolahnya yang tinggal di sekitar lapangan desa. Tak lama kemudian, mereka sampai di tugu batas desa. Di depan mereka, jalan berbatu dengan sawah di kanan kirinya tampak lengang. Mereka mempercepat langkah agar segera sampai di makam yang tinggal dua ratus meter lagi.
Eka berjalan di depan, sedangkan Hanum mengikutinya di belakang. Sesampainya di depan pintu gerbang dari kayu—yang sepengetahuan Hanum—selamanya tak pernah terkunci, Eka mendorong daun pintu itu agar terbuka lebih lebar. Keduanya lantas masuk ke dalam, menuju tempat Ayah, Ibu, dan Ningrum dimakamkan. Di bawah pohon kamboja putih, keduanya berhenti. Eka mencabuti tanaman liar berduri yang tumbuh di atas makam Ayah, disusul Hanum menaburkan bunga di atas makam-makam itu, juga makam Kakek dan Nenek dari pihak Ayah. Sesudahnya, mereka bersimpuh di depan makam-makam itu dan menggumamkan doa.
Kunjungan mereka ke makam berlangsung singkat. Setelah selesai, mereka segera pulang melewati jalan yang sama. Sepanjang jalan, Eka bercerita tentang teman-teman masa kecilnya, tempat bermain yang sering didatanginya, atau tempat jajan langganannya yang ternyata penjualnya sudah meninggal dan digantikan oleh anaknya. Hanum mendengarkan dengan malas. Eka sama sekali tidak menyinggung soal Ayah, Ibu, atau Ningrum yang mungkin tidak pernah ia dengar sebelumnya.
---
Sepulang dari makam, Eka bersiap untuk kembali ke Jakarta. Ia telah memenuhi permintaan Hanum untuk menemaninya di kampung. Namun, Eka belum mengungkapkan sesuatu yang ingin Hanum ketahui tentang Ibu.
“Kamu benar-benar akan pulang sekarang?” tanya Hanum.
“Tentu saja. Jadwal keretaku sekitar jam sembilan.”
“Kamu tidak bisa menyediakan waktu sebentar untuk menjawab pertanyaanku tentang Ibu?” tanya Hanum lagi.
“Memangnya apa yang ingin kamu ketahui soal Ibu? Tak ada yang benar-benar misterius. Ibu itu hanya sosok perempuan rumahan yang tidak pintar bergaul. Di tengah lingkungan sosial yang menimbulkan banyak tekanan, ketahanan mental Ibu sangat rapuh. Satu-satunya hal yang dia mengerti untuk menghindari omongan orang adalah menjaga citra baik keluarga. Dia tak akan membiarkan cela sedikit saja menodai citra baik keluarga kita. Kamu harusnya sudah cukup puas dengan citra baik keluarga kita selama ini yang membuat hidupmu nyaman.”
“Tapi, Ningrum tidak mendapatkan keuntungan yang sama,” ujar Hanum.
“Masalahnya berbeda. Ningrum memiliki masalah medis yang tidak semua orang di kampung ini mengerti tingkat peliknya.”
“Jadi bukan salah Ningrum ‘kan?”
“Tentu saja bukan.”
“Ningrum mungkin saja mewarisi kerapuhan Ibu.”
“Kenapa kamu mengambil kesimpulan seperti itu?”
“Ibu yang pertama kali memunculkan perasaan tidak aman gara-gara terlalu mendengarkan omongan orang. Ia merasa tertekan dan menyalahkan Ningrum sebagai penyebabnya. Kata-kata tajam dan menyakitkan yang terus-menerus pada akhirnya mengikis ketegaran hati Ningrum. Ia pun menjadi limbung.”