6
Hari Kelima
Sepeninggal Eka, Hanum kembali hanyut dalam kesunyian yang menyelimuti rumah keluarganya di kampung—sebuah rumah yang telah lama ditinggalkan, hingga sepi terasa begitu pekat. Ia menatap langit-langit kamar, seolah-olah dari sana merembes nuansa muram yang kelabu. Kepulangannya setelah bertahun-tahun akhirnya ia penuhi, namun ia menegaskan sekali lagi pada dirinya: tujuan kembali ke rumah ini bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya memahami keadaan yang pernah dihadapi Ningrum sebelum peristiwa pilu itu terjadi. Di meja dekat tempat tidurnya, buku harian Ningrum tergeletak, menunggu untuk dibuka.
Hanum meraih buku harian itu dan menelusuri setiap halaman dengan penuh perhatian. Ia berharap menemukan sesuatu—barangkali sebuah detail kecil yang pernah ia ketahui—yang bisa mengisyaratkan petunjuk. Seusai Eka kembali ke Jakarta, Hanum memilih untuk menyelami kembali kenangan tentang hari-hari yang pernah ia lalui di rumah ini. Membaca catatan Ningrum akhirnya menuntunnya pada sebuah kesimpulan yang menyesakkan: mereka selama ini tampak sebagai keluarga yang harmonis, keluarga yang utuh, namun sesungguhnya masing-masing hidup dalam dunia mereka sendiri.
Keterpisahan itu semakin terasa nyata ketika mereka beranjak dewasa. Ibu yang mulai sering jatuh sakit—diawali hipertensi, berlanjut ke masalah ginjal, hingga stroke ringan—sangat bergantung pada Ayah. Sementara Eka sibuk dengan pekerjaan dan rumah tangganya sendiri. Hanum untungnya telah menapaki jalan yang mapan, dan hanya Ningrum yang masih tertinggal, belum sepenuhnya mandiri.
Kehidupan keluarga di rumah mereka semakin kehilangan pegangan setelah Ayah meninggal dan Ningrum belum sepenuhnya pulih dari operasi. Eka dan Hanum sangat mengkhawatirkan Ibu tapi kekhawatiran itu surut ketika Ibu terlihat tenang dan tampak ikhlas dengan kepergian Ayah. Mereka pun kembali ke Jakarta dengan perasaan yakin situasi di rumah akan baik-baik saja. Ibu bisa merawat Ningrum yang sudah mulai membaik. Mereka pikir Ningrum tak akan terlalu merepotkan Ibu karena Ningrum bahkan sudah bisa pergi kontrol ke dokter sendiri.
Kenyataan yang sesungguhnya baru mereka ketahui setelah kepulangan mereka ke kampung untuk merayakan hari raya: sikap Ibu yang keras terhadap Ningrum dan Ningrum sendiri yang masa bodoh dalam menanggapinya. Sebuah kenyataan membuka mata mereka bahwa Ibu dan Ningrum tak benar-benar hidup bersama layaknya ibu dan anak yang saling menjaga satu sama lain. Hanum tak habis pikir, bahkan setelah mendapat kejelasan di balik sikap Ibu terhadap Ningrum yang ternyata dilatarbelakangi ketakutannya akan kondisi Ningrum yang menjadi bahan gunjingan orang-orang kampung. Ibu harusnya mengerti betapa pahit nasib buruk yang menimpa anaknya. Dia seharusnya tak perlu menambah beban pikiran Ningrum karena omongan orang-orang di luar sana.
Hanum selalu merasa bersalah setiap kali mengingatnya. Ketika dia memilih untuk menutup mata terhadap peristiwa yang menyesakkan, yang disaksikannya sendiri, serta sikap Ningrum yang seolah tak terguncang sesudahnya, saat itu sebenarnya ia telah kehilangan Ningrum. Hanum merasakan Ningrum kian tenggelam dalam kebisuannya dan lebih sering mengurung diri dalam kamarnya meski saudara-saudaranya pulang pada hari raya berikutnya. Kekhawatiran merayapi hati Hanum seperti dingin yang meresap dari dinding lembap, namun ia berusaha menahan desakan hati nurani agar tidak menguasai dirinya.
Sikap itu kini menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya. Ningrum tetap bersikukuh dengan kebisuannya dan enggan meminta pertolongan, karena ia mungkin saja merasa telah terasing dari saudara-saudaranya sendiri. Ia percaya dirinya tak lagi berharga, sebab Ibu selalu lebih memercayai bisikan orang yang menyebut nasibnya sebagai aib yang mencoreng nama keluarga. Dunia Ningrum telah runtuh, meski vonis kanker itu tidak merenggut nyawanya.
Hanum semakin yakin, Ningrum bukan menyerah karena kanker. Nyatanya, penyakit itu berhasil ia hadapi dengan tegar. Yang membuatnya runtuh adalah kerapuhan Ibu, yang tak mampu melindungi diri dari bisikan-bisikan kejam di luar sana. Malam kian larut, hanya suara kipas angin di meja yang bergemuruh memecah sunyi. Perlahan, Hanum menutup buku harian Ningrum. Sekilas matanya sempat menangkap sebuah kalimat di salah satu halaman: “Aku mencintai dan menerima diriku apa adanya.” Kata-kata itu sederhana, namun meninggalkan kesan mendalam di hati Hanum.
---
Hanum terbangun dengan rasa panik pagi itu. Matahari sudah tinggi, dan jalanan depan rumahnya terasa lebih ramai dari biasanya. Ia berharap masih ada penjual nasi uduk di ujung jalan, tapi setelah menengok ke luar, penjual itu sudah tak terlihat. Perutnya mulai keroncongan, dan ia pun melangkah ke dapur dengan sedikit kecewa. Di sana, ia menemukan nasi sisa semalam yang masih cukup untuk dibuat nasi goreng. Dengan sigap, Hanum menyiapkan bumbu sederhana dan sebutir telur. Ia memecahkan telur ke dalam wajan panas, mengaduknya hingga menjadi orak-arik yang harum. Baru saja ia menyisihkan telur matang ke piring, terdengar suara seseorang memanggilnya.
“Num, Hanum!”
Hanum buru-buru membuka pintu. Di ambang pintu berdiri Budhe Hartini, tersenyum hangat sambil menenteng plastik putih berisi nasi kotak.
“Mari masuk, Budhe!” ucap Hanum, sedikit terkejut sekaligus lega.
Budhe Hartini melangkah masuk, meletakkan nasi kotak di meja dengan hati-hati. Aroma lauk dari nasi kotak itu langsung memenuhi ruangan, membuat Hanum menelan ludah.
“Ada apa pagi-pagi Budhe datang ke sini?”
“Mau mengantar makanan. Ada nasi gulai kambing. Kamu sudah sarapan?”
“Tadinya mau bikin nasi goreng.”
“Makan ini saja!”
Hanum memandangi nasi kotak yang dibawakan Budhe Hartini.
“Wah, enak! Masih hangat.”
“Yang masak pagi sebelum subuh.”
“Masak sendiri?”
“Ya dibantu tiga orang.”
“Budhe masak dalam rangka apa?”
“Tetangga mengadakan syukuran untuk anaknya yang baru dikhitan.”
Hanum melihat nasi kotaknya ada dua.
“Ada dua.”
“Yang satu buat Eka.”
“Eka sudah pulang.”
“Sudah pulang?”
Hanum mengangguk.
“Kok ya tidak pamit! Oh, ya. Budhe sudah bilang ke Pakdhe soal rencana kalian menjual rumah ini.”
“Apa pendapat Pakdhe?”
“Pakdhemu cuma bilang ‘ya’ begitu.”
“Oh.”
“Kenapa, Num? Kamu kok jadi kelihatan bingung.”
“Begini, Budhe. Aku baru tahu kalau Radit itu anaknya Bu Zariyah.”
Budhe tampak terkejut tapi sesaat kemudian senyum tersungging di bibirnya.
“Jangan-jangan kamu juga baru dengar nama itu.”
“Budhe tahu saja.”
“Kamu tahu dari mana?”
“Dari Pak Surip.”