7
Hari Keenam: Kisah yang Terungkap
Rencana penjualan rumah peninggalan orang tua di kampung awalnya tidak pernah dipikirkan oleh Hanum, begitu pula dengan Eka. Situasi berubah saat Radit menghubungi Eka dan menyatakan minatnya, setelah sebelumnya Pak Sidik Purnomo juga mengungkapkan hal yang sama.
Hanum ingat Pak Sidik Purnomo, yang menurut cerita Pak Surip, pernah menanyakan rumah mereka. Pak Sidik ini tinggal di kampung sebelah, menumpang di rumah mertuanya. Dulu, ia tinggal di kampung ini sebelum bermasalah dengan tetangga depan rumahnya. Rumahnya tidak jauh dari rumah Bulik Dini. Masalah yang membuat Pak Sidik menjadi bahan omongan orang sekampung waktu itu adalah perkara sengketa jalan dengan tetangga depan rumahnya.
Rumah Pak Sidik berada tepat di belakang rumah si tetangga yang sebelumnya memberi akses jalan. Setelah tetangganya meninggal dan rumahnya diwariskan ke anaknya, akses jalan itu ditutup. Padahal, belakang rumah Pak Sidik berupa sungai, begitu juga dengan sebelah kanan dan kiri rumahnya.
Kalau Pak Sidik berniat membeli rumah mereka, tentu ada hubungannya dengan kondisi rumahnya di kampung ini. Hanum harusnya menanyakan pada Pak Surip alasan Pak Sidik yang tampaknya berminat untuk membeli rumah mereka. Ia lebih senang kalau Pak Sidik yang membeli rumah mereka daripada Radit. Menurutnya, Pak Sidik jauh lebih membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Tapi, akan lebih aman kalau ia menanyakan soal ini pada Budhe Hartini atau Pakdhe Jaya saja.
Jatah cuti Hanum yang ia habiskan untuk tinggal di rumah ini tinggal lima hari lagi. Ia belum mendapatkan banyak informasi yang mengungkap tanda tanya besar di balik tindakan nekat Ningrum dalam mengakhiri hidupnya. Waktu ia fokus pada persoalan Ibu dan Ningrum yang tampak tidak harmonis nyatanya lebih dilatarbelakangi oleh kelemahan Ibu yang kalah oleh desakan suara-suara dari luar. Kalau dipikir-pikir, ia juga mudah terpengaruh bujukan orang lain. Ia juga serapuh Ibu dan mudah menyerah seperti halnya Ningrum. Ia mungkin bisa bertahan karena situasi yang ia hadapi tidak terlalu menekannya. Selain itu, ia sudah jauh lebih stabil atau bisa dibilang lebih mapan terkait status pernikahan dan pekerjaan. Orang luar akan kesulitan mencari celah yang dipandang sebagai bentuk kelemahan.
Pagi ini, ia tidak tahu mau melakukan apa. Ia termenung di ruang tamu. Pandangan matanya tertuju pada semarak bunga anthurium merah di luar jendela. Ia belum pernah melihat tanaman anthurium itu berbunga meski tanaman itu sudah lama ditanam di tempat yang sama. Ningrum gemar menanam bunga. Ada banyak tanaman bunga di halaman rumah mereka yang semuanya ditanam oleh Ningrum. Orang yang merawat tanaman-tanaman bunga itu sepeninggal Ningrum pasti Pak Surip. Ia pernah mendapati laki-laki itu menyiangi rumput liar di salah satu pot bunga Ningrum.
Ningrum sebaya dengan Asih, anak ketiga Pak Surip. Setahu Hanum, mereka berteman baik. Setelah lulus SMA, Ningrum meneruskan kuliah, sedangkan Asih bekerja di pabrik. Tapi, mereka tetap berhubungan baik. Setahu Hanum, Asih itu orangnya setia kawan. Waktu Ningrum sakit, ia yang membantu merawat Ningrum di rumah dan juga menemani kontrol ke rumah sakit.
Asih masih tinggal dengan orang tuanya. Sebelumnya, ia pernah menikah tapi kemudian bercerai karena kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan suaminya. Asih mungkin saja tahu sedikit tentang Ningrum tapi Hanum tidak terlalu kenal baik dengan Asih. Selain itu, Asih sangat pendiam. Ia hampir tak berharap bisa mengetahui sesuatu dari Asih.
---
Hanum mulai kepikiran untuk main ke tempat Budhe Hartini. Ia bisa menemani Budhe Hartini membuat kripik tempe sambil mengobrol. Ia bergegas mengganti bajunya dan ia mungkin perlu membawakan Budhe Hartini sesuatu. Ia memasukkan dompet dan ponsel di saku celananya. Sebelum pergi, ia tak lupa mengunci pintu. Ia menyempatkan mampir ke warung untuk membeli gula pasir dan teh. Budhe Hartini pasti akan senang menerimanya.
Hanum melangkah ringan menuju rumah Budhe Hartini. Dalam benaknya, ia sudah membayangkan duduk bersama Budhe di dapur, membantu mengiris tempe tipis-tipis, lalu menunggu kripik matang sambil bercakap santai. Namun, begitu tiba di halaman, Hanum mendapati rumah tampak sepi. Ia mengetuk pintu beberapa kali, hingga akhirnya Pakdhe Jaya muncul dari dalam. Ia tersenyum ramah menyambut Hanum, meski sedikit terkejut melihat kedatangannya.
“Lho, Hanum? Budhemu tidak ada di rumah. Dia ke rumah Siyam, membantu memasak untuk acara arisan.”
Hanum tersenyum kikuk, seraya meletakkan plastik hitam berisi gula pasir dan teh di meja teras.
“Tumben giliran Pakdhe yang ada di rumah.”
“Kebetulan tidak ada pekerjaan di sawah. Duduk dulu! Ada yang ingin Pakdhe tanyakan sama kamu.”
“Soal apa, Pakdhe?” tanya Hanum sembari duduk di bangku.
“Aku dengar dari Budhemu kalau kalian berencana menjual rumah di kampung pada Radit. Benar begitu, Num?”
Hanum terdiam sejenak.
“Masih belum jelas, Pakdhe.”
“Kalau masalahnya karena kamu keberatan rumah itu dijual pada Radit, Pakdhe bisa mengerti. Pakdhe juga dengar sendiri soal kelakuan Bu Zariyah yang tidak sepantasnya pada Ningrum. Dulu itu, Pakdhe sama Budhe sampai pilih tutup kuping.”
“Jadi, Budhe juga sudah cerita soal itu?”