8
Hari Keenam: Saksi Bisu
Angin berembus lembut, menebarkan aroma tanah basah dan dedaunan yang bergoyang pelan. Semilir yang tiada henti menyentuh wajah Hanum, seolah menahan langkahnya agar tak segera beranjak dari sudut teras senja itu. Jalan di depan rumah tampak lengang, hanya sesekali roda gerobak berderit pelan ketika penjual makanan lewat menawarkan dagangan. Hanum sudah menyiapkan telur ceplok pedas dan tempe goreng untuk makan nanti malam. Ia tak terlalu berselera untuk makan. Ada begitu banyak hal berseliweran di kepalanya.
Hanum mencoba merangkai potongan cerita yang telah terbuka. Semua yang semula ia mengerti sebagai ungkapan kebencian yang terpendam ternyata menyimpan kisah getir yang tidak sederhana—kisah cinta yang tak sampai, perasaan seorang ayah yang masih menyimpan rasa kecewa, sahabat yang tulus merawat kenangan, dan ketidakberuntungan yang menjadi ajang kepicikan orang-orang dengan lidah tak bertulang. Perlahan, ia mulai memahami bahwa rumah ini bukan sekadar bangunan tempat tinggal yang menyimpan suka duka keluarganya, melainkan saksi bisu dari kisah-kisah yang tak pernah selesai.
Malam ini, ia harus bicara serius dengan Eka. Ia menyusun kata-kata dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Ia bermaksud mengungkapkan semua yang ada di pikirannya. Namun, mustahil kalau hanya percakapan lewat ponsel. Ia sebaiknya cukup menyampaikan intinya saja: ia belum ada keinginan untuk menjual rumah peninggalan orang tua mereka.
Hanum memandangi layar ponselnya. Tak berapa lama kemudian, ada notifikasi muncul—pesan dari Eka. Kebetulan sekali Eka mengirim pesan. Ia membaca pesan dari Eka yang menanyakan jadwal les renang Niar. Hanum menjawab asal kalau Niar tidak harus datang untuk sesi latihan besok sore. Setelah itu, Eka menanyakan soal Hanum apa masih betah tinggal di kampung. Hanum tidak menjawab, ia gelisah, tapi ia kemudian langsung menulis kalau ia sedang memikirkan rencana mereka menjual rumah ke Radit yang sebaiknya tidak dilanjutkan.
Hanum yakin Eka pasti meminta alasan yang masuk akal—yang sayangnya belum sempat ia pikirkan cara menyampaikannya. Ia menunggu balasan dari Eka dengan hati berdebar. Jawaban yang ia tunggu jauh dari dugaan. Eka hanya bilang: tidak masalah. Sesudahnya, Eka tidak memberikan penjelasan panjang lebar dan mengakhiri pembicaraan mereka. Hanum merasa ada sesuatu yang terputus. Menurut Hanum, Eka mungkin saja tidak sepenuhnya setuju dengannya tapi ia menunda untuk mengatakan yang sebenarnya.